Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Kerajaan

Muslimah

Nabi Muhammad Saw

Bangsa Sumeria Kuno dan Bahtera Nabi Nuh AS


Sebenarnya, bangsa ini tidak disebut secara gamblang dalam Al-Quran sebagaimana kaum Saba’ dan Tsamud. Namun, sepak terjangnya bisa disimak pada kisah Nabi Nuh AS dengan didukung penelitian para ahli tentang kehebatan bangsa yang dilanda banjir besar kala itu.

Pada tahun 1922 sampai 1934, Leonard Woolley dari The British Museum, Inggris, dan University of Pensylvania, Amerika, memimpin sebuah penggalian arkeologis di tengah padang pasir antara Baghdad dan Teluk Persia. Di tempat yang diperkirakan dulunya pernah berdiri sebuah kota bernama Ur, mereka melakukan penggalian. Dari lapisan pertama kerak bumi hingga lima meter ke bawah terdapat sebuah lapisan tanah yang berisi berbagai benda yang terbuat dari perunggu dan perak. Ini benda-benda peninggalan bangsa Sumeria yang diperkirakan hidup sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi. Mereka bangsa yang telah dapat membuat benda dari logam. Di bawah lapisan pertama itu mereka menemukan sebuah lapisan kedua berisi deposit pasir dan tanah liat setebal 2,5 meter. Pada lapisan itu masih terdapat sisa-sisa hewan laut berukuran kecil.

Yang mengejutkan, di bawah lapisan pasir dan tanah liat itu terdapat lapisan ketiga berisi benda-benda rumah tangga yang terbuat dari tembikar. Tembikar itu dibuat oleh tangan manusia. Tidak ditemukan benda logam satu pun di lapisan itu. Diperkirakan, benda-benda tersebut peninggalan masyarakat Sumeria Kuno yang hidup di Zaman Batu. Menurut perkiraan para ahli, lapisan kedua itu adalah endapan lumpur akibat banjir yang terjadi pada zaman Nabi Nuh.

Banjir itu telah menenggelamkan masyarakat Sumeria Kuno, yang kemungkinan besar mereka adalah kaum Nabi Nuh. Lalu lumpur yang terbawa banjir itu menimbun sisa perabadan masyarakat tersebut. Berabad-abad, atau puluhan abad kemudian setelah banjir berlalu, barulah hadir kembali masyarakat baru di atas lapisan kedua itu, yakni masyarakat Sumeria Baru, yang peradabannya jauh lebih maju daripada masyarakat Zaman Batu yang tertimbun lumpur itu.

Peradaban bangsa ini terbagi dua: peradaban sebelum banjir besar, atau disebut juga Sumeria Kuno, dan pascabanjir besar, Sumeria Baru.

Bangsa Sumeria hidup di lembah Sungai Eufrat dan Tigris, Irak sekarang, yang subur dan terkenal dengan nama Lembah Mesopotamia. Mereka menggantungkan pola hidupnya dengan mengolah tanah-tanah pertanian. Lembah itu telah dihuni sejak 4.000 SM, bahkan mungkin lebih tua lagi. Bangsa Sumeria adalah bangsa yang pertama kali membangun sebuah peradaban besar di muka bumi ini. Mereka mempunyai tradisi sastra yang kuat dan mengembangkan hukum serta mitologi yang mengesankan. Di samping itu, mereka sudah memiliki aksara cuneiform (aksara atau simbol-simbol huruf, seperti aksara Hieroglif di Mesir Kuno) sebagai alat komunikasi dan penulisan-penulisan karya ilmiah.

Kota yang paling terkenal adalah Ur, Uruk, atau Urartu. Di samping kota Ur, dikenal pula kota-kota kuno lainnya yang dibangun bangsa Sumeria; seperti Erech, Shuruppak, dan Kish.

Sistem kepercayaan mereka adalah mempercayai adanya dewa-dewi yang memberikan perlindungan hidup di dunia ini. Dewa tertinggi dan terkuat di antara mereka adalah Dewa Inana. Ini adalah dewa langit yang merajai seluruh dewa-dewi. Di dalam Al-Quran, dewa-dewi itu disebut Wudd, Suwa, Yaghuts, Ya'uuq, dan Nasr. “Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr.” (QS Nuh: 23).

Bangsa inilah yang pertama kali memperkenalkan kuil-kuil atau candi yang dinamakan ziggurat sebagai tempat ibadah dan persembahan kepada dewa-dewinya. Dewa dan dewi itu digambarkan dalam bentuk patung yang tersebar di banyak ziggurat di kota-kota Sumeria.

Peradaban Sumeria Kuno

Peradaban tinggi yang telah dibangun oleh bangsa Sumeria Kuno, membuat masyarakatnya semakin jauh dari petunjuk yang telah dibawa oleh para nabi terdahulu. Patung dewa-dewi yang mereka sembah adalah bukti kesesatan itu. Maka, diutuslah Nuh dari kalangan mereka untuk menyampaikan ajaran ketauhidan, supaya beribadah hanya kepada Allah.

“Nuh berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu. Sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya, dan taatlah kepadaku. Niscaya Allah akan menghapuskan sebagian dosamu dan menangguhkan kamu sampai pada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan kalau kamu mengetahui.” (QS Nuh: 2-4).

Seperti biasa, jawaban yang diterima Nuh sama seperti jawaban orang-orang pembangkang dan sombong yang lainnya. Mereka mengatakan, Nuh tidak lain adalah seorang manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan apa-apa. Bahkan mereka menuduh, ia adalah seorang yang hilang ingatan. Namun demikian, Nuh tetap mengajak kaumnya untuk kembali ke ajaran tauhid.

Seperti kisah para nabi yang lain, mula-mula yang menjadi pengikutnya adalah golongan lemah, miskin papa, yang tidak mempunyai daya apa-apa di hadapan para penguasa Sumeria. Maka, penghinaan dan penolakan pun semakin menjadi-jadi. Hal ini digambarkan dalam Al-Quran sebagai berikut, “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin kafir dari kaumnya, 'Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta’.” (QS Hud: 27).

Mereka bahkan mengancam Nuh dengan kata-kata yang sangat seram, “Mereka berkata, ‘Sungguh jika kamu tidak mau berhenti, hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam (dilempari batu hingga mati).” (QS Asy-Syu’ara’: 116).

Demikianlah bantahan kaumnya atas ajakan Nuh AS. Bahkan istri dan putranya termasuk dari golongan mereka yang menentang Nuh. Konon, nama putra Nuh yang menolak ajakan bapaknya bernama Kanaan (Qana'an).

Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun Nuh mengajak kaumnya ke jalan yang benar. Namun, hasil yang didapat tidaklah sebagaimana yang ia harapkan. Penolakan dan ejekan-ejekan pun semakin menjadi-jadi. Nuh menjadi sangat sedih dan mengadukan hal ini kepada Allah, “Nuh berdoa, ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku’.” (QS Al-Mukminun: 26).

Dalam surah lain, dikemukakan, “Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari dari kebenaran. Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinga dan menutupkan bajunya, dan mereka tetap menyombongkan diri dengan sangat’.” (QS Nuh: 5-7).



Bahtera Raksasa

Allah, Yang Maha Mendengar, menjawab keluhan Nuh dalam firman-Nya, “Dan diwahyukan kepada Nuh bahwasannya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu kecuali orang yang telah beriman, karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan." (Hud: 36-37).

Maka dibuatlah perahu itu oleh Nuh AS dibantu oleh putra-putranya yang beriman, Ham, Syam, dan Yafitz, serta kaumnya yang beriman. Tidak terbayangkan bagaimana mereka membuat perahu di daerah pesawahan dan perkebunan Mesopotamia itu. Dan ketahuilah, Nuh dan kaumnya itu bukan para nelayan yang biasa melaut dan bikin perahu! Lagi pula perahu yang dibuat oleh "orang-orang yang bukan ahlinya" itu harus perahu yang superbesar, yang akan mengangkut orang-orang yang beriman dan binatang-binatang secara berpasang-pasangan. Sudah bisa dipastikan, pekerjaan mereka itu menjadi bahan olok-olokan yang semakin menjadi-jadi dari kaumnya yang kafir itu. Namun, berkat bimbingan wahyu, selesailah perahu yang bahan bakunya dari kayu itu.

Dalam Al-Quran diriwayatkan, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk mengangkut masing-masing hewan sepasang (jantan dan betina) ke dalam bahteranya, “Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman, ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang jaantan dan betina, dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan muatkan pula orang-orang yang beriman.” (QS Hud: 40).

Maka, sesuai dengan tanda yang diisyaratkan, berupa “dapur yang telah memancarkan air”, yakni timbulnya topan, naiklah putra-putra Nuh yang beriman, kecuali istrinya dan Kanaan, orang-orang yang beriman, beserta binatang-binatang ternak berpasang-pasang. Sementara, orang-orang kafir Sumeria Kuno itu semakin menghina Nuh dan kaumnya. Mereka mengira, hujan itu adalah hujan rahmat dari dewa-dewi mereka.

Nah, sejak saat itulah hujan terus-menerus mengguyur lembah subur Mesopotamia itu. Dua sungai besar, Eufrat dan Tigris, tidak bisa lagi menampung aliran air yang diguyur hujan lebat yang tak ada henti-hentinya. Tenggelamlah kaum Nabi Nuh yang kafir tersebut dalam banjir besar yang tiada taranya.

Konon, hujan itu berlangsung selama 40 hari 40 malam, dan baru surut setelah 150 hari. Menurut penyelidikan para ahli, banjir yang terjadi saat itu tidak melanda seluruh dunia, melainkan hanya terjadi di daerah Mesopotamia, kini termasuk wilayah Irak, khususnya di daerah lembah antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris. Namun karena lembah tersebut demikian luas, ketika terjadi hujan superlebat berhari-hari, meluaplah kedua sungai itu. Lalu airnya menenggelamkan lembah di antara dua sungai tersebut. Demikian banyak airnya sehingga lembah itu berubah seperti laut, menenggelamkan seluruh umat Nabi Nuh yang ingkar di lembah itu.

Pada tahun ‘90-an, para arkeolog dari Inggris dan Amerika itu menemukan fosil yang diduga bahtera Nabi Nuh di Pegunungan Ararat, Armenia. (may/voa-islam.com)

Kerudung Punuk Unta, Tanda Akhir Zaman

ZAMAN sekarang ini, aneka jenis hijab telah merajalela. Hanya saja, kebanyakan dari gaya berhijab ini, bertentangan dengan apa yang ada dalam aturan Islam. Salah satunya ialah berjilboob dengan mengadakan punuk unta pada hijabnya.
Hijab punuk unta yaitu menggunakan hijab tetapi ada tonjolan dibelakangnya seperti punuk unta. Tonjolan itu dapat berupa rambut yang digelung maupun sesuatu sebagai pengganti rambut agar terdapat tonjolan itu. Misalnya saja berupa bantal kecil yang sengaja dimasukkan agar memperindah bentuk.
Melalui sabdanya, Rasulullah SAW telah memberitahukan kepada kita mengenai hal ini. Rasulullah SAW bersabda:
مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
۞رواه أحمد ومسلم في الصحيح ۞
“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya. Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali),” (HR. Muslim dan yang lain).
Dalm hadits tersebut jelas bahwa wanita-wanita yang menggunakan punuk unta pada hijabnya termasuk golongan orang-orang yang merugi di akhirat kelak. Mereka tidak akan mencium bau surga yang sebenarnya dalam jarak yang jauh sekali pun dapat tercium. Tapi, itu memang sudah ketetapan dari Allah SWT akibat kelakuan mereka sendiri. Mereka bangga dengan apa yang mereka pertontonkan. Padahal, dari perbuatan yang seperti itulah mereka telah berbuat kesalahan yang berakibat fatal bagi dirinya.
Hal tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW jauh sebelum hal itu terjadi. Tapi, Rasulullah memberitahukan kepada kita, bahwa salah satu tanda akhir zaman itu ialah adanya hijab punuk unta tersebut. Subhanallah, itulah kelebihan yang dimiliki oleh Nabi kita. Allah SWT telah memberi kabar akan adanya tanda akhir zaman itu melalui Nabi kita. Dan kini, apa yang disampaikan Nabi SAW itu benar adanya. Apakah mungkin akhir zaman itu telah mulai dekat? Wallahu ‘alam.
Untuk itu, kewajiban kita kepada sesama muslim ialah saling mengingatkan. Jadi, apabila kita melihat seseorang yang berhijab seperti itu, tidak ada salahnya apabila kita menegurnya. Karena, boleh jadi mereka tidak mengetahui ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya yang sebenarnya. Bila seseorang yang ditegur itu tidak mau mendengarkan nasihat kita, maka tidak menjadikan dosa kepada kita. Pada hakikatnya, kewajiban kita hanya mengingatkan saja, dan apabila hal itu telah dilakukan maka gugurlah kewajiban kita itu. Yang salah adalah apabila kita mendiamkan mereka tetap berada dalam kesalahannya.

Tanggapan Untuk Situs IsadanAlfatihah(dot)com Klaim Al-Fatihah - Allah adalah Paling Rahmat, Paling Penyayang

Pada kesempatan kali ini masih menanggapi situs isadanalfatihan(dot)com yang menafsirkan Surah Al-Fatihah berdasarkan keyakinan kristen. Di sini staff IDI dengan tipuan dan kebohongannya menafsirkan  makna Yang maha pengasih dan penyayang  untuk menyatakan Yesus atau Isa itulah yang pengasih dan penyayang yang mengorbankan dirinya ditiang Salib. Serta untuk menyatakan bahwa Isa adalah Tuhan.

Pembaca dapat membaca tulisannya di bawah ini:
Klaim Al-Fatihah - Allah adalah Paling Rahmat, Paling Penyayang  1 26 38 0 0Palu hakimBait pertama dan ketiga dari sura Al-Fatihah memuat frase: r-rahmani r-rahim (artinya: yang paling ramah, yang paling penyayang). Umat Muslim yang taat mengulang Al-Fatihah sebanyak tujuh belas kali dalam sembahyang mereka setiap hari.Dengan kata lain, umat Islam menyebut Allah paling rahmat dan paling penyayang sebanyak 34 kali dalam sehari. 1,034 kali dalam sebulan, dan 12,410 kali dalam setahun.Pertanyaanya: Bagaimana kita dapat mengetahui dan membuktikan bahwa Allah benar r-rahmani r-rahim?Ilustrasi: Hakim Yang AdilIlustrasi berikut mungkin dapat menolong kita mengerti tentang sifat Allah yang Maha Penyayang. Katakanlah suatu hari saya mencuri sebuah mobil mewah. Kemudian saya ditangkap pihak berwajib, diadili, dan sekarang saya berdiri di hadapan hakim yang akan menjatuhkan hukuman.Hakim itu adalah ayah saya. Dalam hatinya timbul satu dilema, sebab saya adalah anaknya yang sangat ia kasihi. Dia tidak ingin saya menghabiskan waktu di penjara dan merusak masa depan saya.Namun sebagai hakim dia telah bersumpah untuk mengikuti aturan hukum yang berlaku. Hukumanpun dijatuhkan dengan adil. Saya harus mendekam di penjara selama satu tahun. Setelah keputusan diumumkan, hakim itu turun dari podium dan melepas jubahnya. Lalu dia mendekati saya dan berkata akan menebus saya dari hukuman penjara, dan dia pun membebaskan saya.Menurut pembaca, bagaimana perasaan saya tentang keputusan hakim itu?Hakim yang Dapat Menyelamatkan dan Membinasakan“Rahmat” sering didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak layak didapatkan. Artinya manusia tidak layak untuk menerima kebaikan Tuhan. Sedangkan “belas kasih” didefinisikan sebagai menerima apa yang tidak sepantasnya diterima. Dengan kata lain, manusia tidak menerima hukuman yang sepantasnya dari Tuhan.Bagaimana hal ini bisa terjadi? Allah adalah juga hakim: “. . . dan kepada Allah, yang menghakimi semua . . .” (Injil, Surat Ibrani 12:23). “Hanya ada satu pemberi hukum dan hakim, orang yang mampu menyelamatkan dan menghancurkan” (Injil, Surat Yakobus 4:12).Siapakah Hakim yang Benar?Siapakah Hakim ini, yang berkuasa untuk menyelamatkan dan membinasakan? Dia adalah Isa Al-Masih (Yesus Kristus)! Tuhan tahu manusia berdosa tidak dapat menyelamatkan diri dari kebiasaanya untuk memberontak dan merusak.Karena Allah sangat mengasihi manusia, Dia rela menjelma menjadi manusia untuk memimpin manusia keluar dari kuasa dosa. Dia memilih untuk dilahirkan oleh Maria, seorang perawan yang bertunangan dengan Yusuf (Injil, Rasul Lukas 1:26-35). Isa Al-Masih dilahirkan tanpa ayah biologis, Dia juga dilahirkan tanpa dosa.Isa Al-Masih yang tanpa dosa,  Hakim yang rela mati di kayu salib, di Kalvari 2000 tahun lalu. Ia memikul dosa seluruh manusia yang hidup di masa lalu dan juga mereka yang belum dilahirkan. Tuhan menginginkan agar kita menatap kembali pada salib dan menerima korban kematian yang Isa Al-Masih berikan bagi kita.Hidup yang Kekal adalah Hadiah Gratis!“Sebab upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Yesus Kristus” (Injil, Surat Roma 6:23). Hidup yang kekal adalah hadiah gratis bagi siapa saja yang mau menerimanya. Seperti ada tertulis, "Karena Allah sangat mengasihi isi dunia ini, sehingga diberikan-Nya Anak-Nya [Isa Al-Masih] yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:16). Ketika saudara mau menerima hadiah ini, berdoalah pada Tuhan untuk meminta pengampunan atas segala dosa saudara, melalui pengorbanan Isa Al-Masih.Kita sekarang mendapat rahmat dan belas-kasih Allah. Sang Hakim menyatakan kita tidak bersalah dan kita telah dibebaskan! Isa Al-Masih telah membayar lunas hukuman bagi dosa-dosa kita. Ketika Allah melihat kita sekarang, ia menatap anak-Nya, karena kita hidup di dalam Anak Tunggal-Nya!“Demikian juga dengan kamu; kamu sendiri harus melihat bahwa kamu sudah mati terhadap dosa dan melihat dirimu sendiri sudah hidup untuk Allah melalui Kristus Yesus” (Injil, Surat Roma 6:11). Sangatlah damai rahmat ini dan belas kasihan dari Hakim ini yang dibawa ke dalam hidup kita![Staf Isa dan Islam – Artikel tentang Keselamatan dapat membantu saudara belajar lebih lagi tentang karunia Keselamatan Allah dalam Isa Al-Masih.]
http://www.isadanalfatihah.com/ar-ramni-r-ram/klaim-al-fatihah-allah-adalah-paling-rahmat-paling-penyayang#isadanislam



Kita dapat membaca tulisan di atas penuh dengan penipuan dan pelintiran untuk menyesatkan persepsi pembaca.

Ilustrasi Yang sangat Tepat : Hakim Yang Adil, Pengampun, Dan Berkuasa.

Jika kita membaca ilustrasi Staff idi di atas memang terlihat seperti bagus dan sangat baik. Persoalannya adalah jika itu untuk kehidupan nyata itu sangat baik, namun jika ilustrasi di atas untuk melambangkan pengorbanan TUhan dalam ajaran Kristen itu sangat sesat. sangat tidak cocok dan tidak nyambung dengan ilustrasi tersebut. 

Jika ingin membuat ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan Pengorbanan Yesus ditiang salib menurut Kristen adalah ketika seorang Seorang Terdakwa membunuh seseorang, sehingga hukumannya adalah hukuman mati.  hakim  berkuasa untuk menetapkan Diampuni atau dihukum mati. namun Hakim tidak dapat memutuskan untuk mengampuni kesalahan Terdakwa. Agar Terdakwa terbebas dari hukuman mati, Hakim harus dibunuh terlebih dahulu oleh Terdakwa. setelah hakim dibunuh oleh terdakwa. barulah Terdakwa bebas dari hukuman mati.
Jika ilustrasi di atas menggunakan ayah dan anak. maka Ayah harus dipenjara terlebih dahulu oleh anaknya sendiri Bukan dipenjara oleh instansi atau polisi lain. setelah itu barulah bisa dia dimaafkan.

Ini adalah gambaran betapa bodohnya konsep penebusan dosa. Allah adalah Hakim, sekaligus penguasa yang berkuasa, yang mengampuni dan mengadzab. Jadi jika menurut keyakinan kristen, untuk mengampuni dosa manusia, Tuhan harus menjadi manusia dan mati ditangan manusia terlebih dahulu dengna mati dikayu salib barulah dosa bisa diampuni. Ilustrasi yang tepat adalah seperti di atas, dimana Hakim terlebih dahulu dibunuh oleh terdakwa barulah terdakwa terselamatkan dari tuntutan hukum. sebuah konsep yang sangat irasional dan orang yang mempercayai konsep seperti ini bisa kita sebut sebagai orang yang sangat bodoh dan tidak berakal.

Tuhan yang menjadi Hakim Yang Maha Adil tidak perlu menjelma menjadi manusia

Tuhan tak perlu menjadi manusia untuk membuktikan diri-Nya adil. ketika Allah menciptakan Neraka dan Surga itu adalah bentuk Keadilan yang seadil-adilnya, ketika Allah memberikan Kemurkaan dan Kemuliaan Allah sudah maha Adil. Ketika seorang berbuat amal shaleh dibalas dengan kebaikan dan orang yang berbuat jahat dan dosa dibalas dengan adzab itu adalah keadilan. itu adalah Timbangan yang sebaik-baiknya timbangan. Yang sangat tidak rasional adalah mengatakan Allah adil dengan menjadi manusia dan mati ditangan manusia. ini adalah Adil yang sangat bodoh dan irasional. Bagaimana bisa dikatakann adil jika kebaikan dibalas dengan kejahatan? Ampunan Tuhan dengan cara Tuhan dibunuh? Jika menurut Ajaran kristen membunuh manusia itu dosa, bagaimana dengan membunuh Tuhan?

Kita semua bertanya, andai kata Pembunuhan Yesus terjadi di masa sekarang, apakah Kristen akan membantu menyelamatkan Yesus dari kematian atau malah ikut membantu Yahudi untuk membunuh dan menyalib Yesus?

Jika Memilih membantu menyelamatkan Yesus otomatis dosa tidak tertebus, akan tetapi disitu terdapat sebuah kebaikan menyelamatkan orang lain.

jika memilih membantu Yahudi membunuh Yesus otomatis dosa katanya ditebus, tapi disini terlihat jelas seperti apa yang disebut adil menurut Kristen ? yaitu bagaiman mengobarkan pembunuhan dengan dibungkus pengampunan dan kesucian.

di sini kita akan melihat ketidak konsistenan konsep Adil. dalam konsep seperti ini tidak ada namanya Adil. yang ada hanyalah kekejaman, kebengisan.


Kekal adalah kepastian. Semua pasti hidup Kekal. 

Kehidupan di Akhirat adalah kekal tidak ada seorangpun yang tidak kekal di Akhirat. itu adalah kepastian.

Persoalannya adalah Kekal di Neraka atau di Surga. Staff IDi tidak perlu mengajari umat Islam soal bicara Kekal di Akhirat.

Seperti yang saya tulis dalam tulisan sebelumnya : Dalam Islam tidak dikenal Maut dalam defenisi Kristen. Maut dalam Islam adalah kematian sementara yang terjadi ketika peralihan alam dunia ke akhirat, yaitu ketika Alam dunia berpindah ke alam Barzah, dan ketika Alam Barzah. dan ketika Alam Barzah menuju alam kebangkitan dan seterusnya. Islam tidak mengenal kekekalan seperti Kristen, yakni hidup kekal seperti malaikat yang tidak makan dan minum yang nanti akan menjadi penghuni kerajaan Surga. Kekal dalam Islam adalah kepastian, tiap orang yang hidup akan merasakan hidup kekal di akhirat. terlepas dia mau menjadi Orang Kafir atau orang yang beriman.

Orang yang Kafir akan kekal di Neraka. sementara orang yang Beriman dan beramal Shaleh akan kekal di surga

Firman Allah:

QS. At Taubah 9:68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka KEKAL di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. 

QS.  Al Qashash 28:60. Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih KEKAL. Maka apakah kamu tidak memahaminya? 

QS.  Al A´laa 87: 17. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. 

QS. Al Jin 72: 23. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.  

QS. Ath Thalaaq 65:11. (Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka KEKAL di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.  

ayat-ayat di atas menegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa kehidupan diakhirat adalah kekal adanya. tidak peduli mereka kafir, munafik atau orang yang beriman. Yang menjadi persoalan adalah kekal dimanakah kita? 
Jika kita beriman dan beramal shaleh maka kita akan kekal di surga sementara bagi orang-orang yang kafir, munafik. mereka kekal di dalam Neraka Naudzu Billah Mindzalik.

Maka disini kami luruskan pemahaman sesat Staff IDI, kita tidak perlu takut dengan maut, karena maut hanyalah sementara. Kita hidup akan merasakan kekelan. maka yang patut ditakuti adalah bukan mautnya, tetapi kekalnya kita di Neraka. Naudzubillah min Dzalik.
Oleh karena itu kita harus menghindari maksiat, kemunafikan serta kekafiran.
Salah satu kekafiran yang nyata adalah menyatakan Isa atau Yesus adalah Tuhan, menyatakan Isa adalah Allah.

QS. Al Maa'idah 5: 72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. 

Maka jika ingin Kekal di Surga adalah meninggalkan keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan. Jika tidak maka akan kekal di Neraka. Naudzubillah Min Dzalik. 

Tanggapan untuk Situs Isadanalfithan(dot)com Bagian Kedua Al-Fatihah Dan Kunci Kerajaan Maut

Situs Isadanislam tak pernah henti-hentinya menyerang Islam, kali ini dengan situs isadanalfatihah staff Idi mencoba memberikan pemahaman keliru dengan menafsirkan pemahaman Islam dengan pemahaman kristen soal kekekalan di akhirat nanti.

untuk lebih jelasnya pembaca dapat membaca tulisannya dibawah ini:

Bagian Kedua Al-Fatihah Dan Kunci Kerajaan Maut  1 29 85 0 0KunciKita sudah menyelidiki empat ayat pertama Al-Fatihah.  Ayat-ayat ini berfokus pada pribadi Allah SWT.Kita sudah melihat bahwa Allah adalah r-rahmani dan juga r-rahim (Maha Pemurah dan Maha Penyayang).  Juga, Dia-lah rabbi l-‘alamin (Tuhan semesta alam).  Lagi ditekankan bahwa Allah adalah Maliki yawmi d-din (Yang menguasai hari pembalasan).Pertanyaan-pertanyaan Untuk Bagian Kedua Al-FatihahBagian kedua Al-Fatihah berfokus pada permohonan kita kepada Dia.  Di sini kita perlu bertanya, “Apakah Al-Fatihah akan menunjukkan jalan keselamatan kepada kita?”  “Apakah kita akan diberi kunci untuk menerima hidup kekal?”  “Apakah kita akan menemukan kunci menghindari Kerajaan Maut?”Siapa Pemegang Kunci Maut?Dalam Kitab Wahyu, Isa Al-Masih berkata kepada Yohanes, rasul-Nya, tentang diri-Nya: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya.  Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.” (Injil, Kitab Wahyu 1:17-18)Isa Al-Masih memegang kunci maut dan kerajaan maut.  Kita perlu memperhatikan penafsiran Isa Al-Masih pada bagian kedua Al-Fatihah.  Demikian kita akan belajar bagaimana menghindari Kerajaan Maut dengan memakai Jembatan Keselamatan.http://www.isadanalfatihah.com/mliki-yawmi-d-dn/bagian-kedua-al-fatihah-dan-kunci-kerajaan-maut#isadanislam

Sebenarnya staff IDI tidak perlu mengajari Umat Islam untuk memahami Al-Qur'an, karena perangkat untuk menafsirkan Al-Qur'an dalam Islam sudah mapan, Islam memiliki Tafsir sendiri, metodologi sendiri yang sudah mapan. sehingga tidak perlu ditafsirkan dengan pemahaman Kristen. apalagi dalam hal ini menafsirkan surah Al-Fatihah dengan penafsiran dengan keyakinan Kristen. sungguh tidak masuk akal.

Dalam Islam tidak dikenal Maut dalam defenisi Kristen. Maut dalam Islam adalah kematian sementara yang terjadi ketika peralihan alam dunia ke akhirat, yaitu ketika Alam dunia berpindah ke alam Barzah, dan ketika Alam Barzah. dan ketika Alam Barzah menuju alam kebangkitan dan seterusnya. Islam tidak mengenal kekekalan seperti Kristen, yakni hidup kekal seperti malaikat yang tidak makan dan minum yang nanti akan menjadi penghuni kerajaan Surga. Kekal dalam Islam adalah kepastian, tiap orang yang hidup akan merasakan hidup kekal di akhirat. terlepas dia mau menjadi Orang Kafir atau orang yang beriman.

Orang yang Kafir akan kekal di Neraka. sementara orang yang Beriman dan beramal Shaleh akan kekal di surga

Firman Allah:

QS. At Taubah 9:68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka KEKAL di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. 

QS.  Al Qashash 28:60. Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih KEKAL. Maka apakah kamu tidak memahaminya? 

QS.  Al A´laa 87: 17. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. 

QS. Al Jin 72: 23. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.  

QS. Ath Thalaaq 65:11. (Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka KEKAL di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.  

ayat-ayat di atas menegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa kehidupan diakhirat adalah kekal adanya. tidak peduli mereka kafir, munafik atau orang yang beriman. Yang menjadi persoalan adalah kekal dimanakah kita? 
Jika kita beriman dan beramal shaleh maka kita akan kekal di surga sementara bagi orang-orang yang kafir, munafik. mereka kekal di dalam Neraka Naudzu Billah Mindzalik.

Maka disini kami luruskan pemahaman sesat Staff IDI, kita tidak perlu takut dengan maut, karena maut hanyalah sementara. Kita hidup akan merasakan kekelan. maka yang patut ditakuti adalah bukan mautnya, tetapi kekalnya kita di Neraka. Naudzubillah min Dzalik.
Oleh karena itu kita harus menghindari maksiat, kemunafikan serta kekafiran.
Salah satu kekafiran yang nyata adalah menyatakan Isa atau Yesus adalah Tuhan, menyatakan Isa adalah Allah.


QS. Al Maa'idah 5: 72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. 

Maka jika ingin Kekal di Surga adalah meninggalkan keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan. Jika tidak maka akan kekal di Neraka. Naudzubillah Min Dzalik.





Menjawab Fitnah Allah Tidak Maha Tahu Menurut Qs At-Taubah 9:16

Dalam beberapa grup diskusi dan situs penghujat Islam semisal FFI, Tewelonanian dan Staff IDI sering kali mereka mempersoalkan Firman Allah surah At-Taubah 9:16. 
Mereka menyatakan bahwa Allah tidak maha Tahu. Karena ayat tersebut terdapat ungkapan Allah belum Mengetahui.

Tuduhan ini seringkali dilontarkan, bahkan berulang-ulang kali. Untuk memuluskan fitnah mereka, mereka memotong ayat tersebut dengan hanya menampilkan kalimat:  "sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.  "

dan terkadang Pula mereka sama sekali tak memperdulikan kalimat atau ayat sebelumnya berbicara seperti apa.

Untuk itu kami tampilkan ayat selengkapnya:

Qs.At-Taubah 9: 16. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Jika kita membaca ayat di atas dengan akal sehat, akan terlihat jelas bagaimana kebohongan fitnahan mereka di atas. Di ayat ini sama sekali tidak mengatakan Allah belum tahu. tetapi malah sebaliknya menegaskan bahwa Allah maha Tahu sekaligus menepis prasangka orang-orang yang mengira Allah belum tahu.

Contoh ayat di atas sering kita praktekan dalam kehidupan kita sehari-hari. seperti dalam contoh:
- kamu kira saya tidak tahu kamu yang melakukan itu?
- Kamu kira saya tidak bisa nyetir ya?

ungkapan di atas adalah pertanyaan yang sejatinya untuk mempertegas bahwa kita sama sekali tidak atau bukan seperti yang dia sangka.

Gaya bahasa dalam ayat di atas juga digunakan Allah dalam beberapa ayat lain semisal:

Qs. 23: 115Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Di sini Allah mempertegas bahwa Allah tidak seperti yang disangkakan kepada-Nya. Allah tidak menciptakan manusia dengan main-main dan kita semua akan kembali kepada Allah.

Qs. Ali 'Imran 

3: 142. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad[232] diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. 

di sini Allah mempertegas bahwa orang yang berprasangka ia akan masuk surga sementara mereka belum sabar dan belum berjihad tidak akan pernah terwujud.


Dan Surah At-Taubah di atas yang dipersoalkan, adalah juga mempertegas bahwa Allah bukan seperti yang disangkakan akan membiarkan, dan Allah belum tahu orang-orang yang berjihad dan berteman setia hanya kepada Allah.  Sebaliknya Allah mempertegas bahwa dirinya tidak akan membiarkan mereka yang berjihad, yang berteman setia kepada Allah, Rasul-Nya dan orang beriman.

Wallahu A'lam Bish-Shawab.

Menjawab Fitnah Al-Qur'an Hoax Karena Kisah Nabi Yusuf Dalam Al-Qur'an Berbeda dengan Alkitab

Sebuah akun facebook dalam grup dialog mengatakan bahwa Al-Qur'an terbukti Hoax hanya karena terdapat perbedaan kisah antara al-Qur'an dan Alkitab. bisa dibaca dibawah ini: 
Elena
QURAN TERBUKTI HOAX !!!!
Lagi-lagi quran memberikan ajaran yg memutarbalikan fakta...mengenai nabi yusuf...kalau dlm Injil jls tertulis sebabnya Yusuf masuk penjara (Kej 39:1-20) tpi dlm quran knp ko ceritanya malah aneh..diceritakan dlm quran kalau yusuf itu awalnya tergoda dan hendak melakukan perbuatan mesum dng seorang wanita yg menggodanya tp untungnya dia sadar dan tdk jd melakukan perbuatan mesum trsbt dan diketahui oleh suami si wanita itu bhw yusuf tdk bersalah dan yusuf terbebas dr hukuman..tpi anehnya dlm surah yusuf 35 dikatakan : "kemudian timbul pikiran pd mereka setlah melihat tanda-tanda (kebenaran yusuf) bhw mrk hrs memenjarakannya sampai sesuatu waktu."
Lalu yusufpun dipenjarakan bersama 2 org pemuda...
Pertanyaanku slim :
Apa yg dijadikan alasan mereka untuk memenjarakan yusuf pdhl sdh dikatakan dlm ayat 35 klo Yusuf itu orang benar ? Monggo slim jawaban cerdasnya !!!
Suka ·  · Bagikan · 18 Maret pukul 13:10 https://www.facebook.com/groups/375110229210947/permalink/654541487934485/?stream_ref=2

Hujatan dan cacian di atas adalah sebuah hal yang biasa dilontarkan saudara kristen terhadap Islam meskipun tidak memiliki argumen yang memadai sama sekali. Sebab menggunakan argumen dengan membandingkan dua sumber berbeda dan lalu mengklaim salah satu dari dua sumber itu valid dan lainnya tidak valid dengan tanpa menunjukan sumber ketiga atau bukti valid lain yang mendukung argumen tersebut tentu saja tidak bisa diterima.
Dalam hal ini membandingkan Alkitab dengan Al-Qur'an lantas mengklaim cerita di Al-Qur'an keliru, Hoax tapi tak punya bukti lain tentu saja tidak bisa dibenarkan. Malah terkesan bodoh dan sangat lemah.

Alkitab senang sekali menghujat Para Nabi Allah Sementara Al-Qur'an memuliakan Para Nabi Allah.

Salah satu perbedaan mendasar antara Alkitab dan Al-Qur'an adalah Sikap terhadap Nabi Allah, Nabi Allah adalah orang yang dipilih Allah untuk menyebarkan ajaran Allah, persoalannya adalah Bagaimana mungkin orang pilihan Allah malah diceritakan dengan sangat hina penuh celaan? padahal mereka pilihan Allah?
itulah yang terjadi pada Alkitab, termasuk dalam hal di atas, kisah Nabi Yusuf Alais Salam diceritakan berkeinginan berbuat mesum dan tidak jadi dilakukan.

Bayangkan Nabi yang dipilih Allah berkeinginan berbuat Mesum?

sementara Al-Qur'an malah memuliakan Nabi Yusuf Alais salam dengan menuturkan bagaimana Yusuf sama sekali tidak tergoda oleh bujukan dan rayuan wanita tersebut. Bahkan Yusuf berusaha melarikan diri.
Inilah akhlak mulia Nabi pilihan Allah.

Pembaca pasti bisa menilai manakah cerita yang logis di antara dua sumber di atas.


Mengapa Yusuf di penjara sementara ia orang Benar?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat gampang untuk dijawab, dan sama sekali bukan alasan untuk mengatakan kisah Al-Qur'an itu bohong, Hoax.

Sudah berabad-abad manusia hidup di alam dunia ini, kita bisa mendapati ribuan bahkan jutaan manusia yang dipenjara bahkan dihukum mati sementara mereka orang yang benar, mereka tak bersalah. Bahkan yang terbaru Mesir (pemerintahan hasil Kudeta) akan menghukum mati 500an Ulama tanpa p

engadilan (semoga Allah menolong mereka).
Ini sebuah contoh bahwa benar dan salah bukan alasan seseorang dipenjara, memang secara keadilan, secara undang-udang, adab manusia, seseorang dihukum karena dosa yang ia perbuat, namun kedzoliman, atau kekuatan, kekuasaan seorang penguasa bisa saja membuat orang baik dipenjara bahkan dihukum mati, sementara orang jahat, malah bebas.

Dalam Alkitab pun Yesus ditangkap dan disalib sama sekali tidak punya dosa atau alasan yang berarti untuk membunuh Yesus selain dari tekanan orang Yahudi ketika itu kepada Pontius Pilatus, sementara Pontius pilatus sendiri mengakui ia tak punya alasan untuk membunuh Yesus.

Wallahu A'lam Bish Shawab.

Menjawab Fitnah Situs BuktidanSaksi(dot)com Apakah Allah melakukan Syirik Karena Bersumpah Dengan Makhluk-Nya?


Assalamu 'alaikum wr. wb.
Ini tulisan pertama kami yang akan memberikan tanggapan dan bantahan terhadap fitnahan situs Buktidansaksi(dot)com yang juga satu grup atau kepanjangan situs FFI dan teman-temannya.

Kali ini kami akan memberikan tanggapan terhadap sebuah tulisan yang berdasarkan ketidak-pahaman akan makna dan arti dari sumpah dalam Al-Qur'an dengan sumpah kepada selain Allah dalam Akidah Islamiyah.

ilustrasi
Kekeliruan ini tentu saja kami anggap wajar karena kristen sangat bodoh terhadap ajaran Islam. Bahkan seringkali membodohkan diri mereka untuk menghujat Islam.

sebelumnya kami kutipkan tulisan Situs Buktidansaksi(dot)com di bawah ini:


APAKAH ALLAH MELAKUKAN DOSA SYIRIK?

Berdasarkan Quran, dosa yang dikategorikan sebagai dosa terbesar adalah dosa syirik, yaitu mempersekutukan ALLAH.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Qs an-Nisaa 4:48)

Ada banyak cara ketika seseorang dikatakan melakukan dosa syirik; tidak harus bahwa orang itu sujud menyembah sesuatu yang lain selain Allah.

Muhammad berkata, “Jika engkau bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah, maka engkau sudah melakukan dosa syirik.” Misalnya engkau berkata,”Aku bersumpah demi kuburan ibuku”, maka anda sudah bersalah karena melakukan dosa syirik.

Anda bisa menemukan ketentuan ini diatur dalam hadis-hadis Islam yang dianggap paling sahih.



Mari kita lihat beberapa contoh dari hadis:

Sahih al-Bukhari 6108 – Utusan Allah berkata,”Sesungguhnya Allah melarangmu untuk bersumpah demi ayahmu. Apabila seorang bersumpah, hendaklah ia bersumpah demi Allah, jika tidak sebaiknya ia diam saja.”

Sahih Muslim 40:40 – Orang yang hendak bersumpah, ia hanya boleh bersumpah demi Allah.”

Sunan Abu Dawud 3242 – Rasul Allah berkata,”Jangan bersumpah demi ayahmu atau demi ibumu, atau demi musuh-musuh Allah, engkau hanya boleh bersumpah demi Allah ketika engkau mengatakan kebenaran.”

Sunan an-Nasai 3795 – Rasul Allah berkata,”Barangsiapa bersumpah, ia tak boleh bersumpah demi sesuatu yang lain kecuali Allah.”

Sunan Ibn Majah 2095 – Utusan Allah berkata,”Janganlah bersumpah demi berhala atau demi ayah-ayahmu”



Mengapa dianggap salah jika seseorang bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah?

Muhammad menjawabnya dengan berkata dalam Jami at-Tirmidhi 1535 – Ibn Umar berkata,”Tak ada yang boleh bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah, sebab aku mendengar utusan Allah berkata,”Barangsiapa yang bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah, maka ia adalah seorang yang kafir karena telah melakukan dosa syirik.”



Jadi berdasarkan pengajaran Muhammad, barangsiapa yang bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah, maka ia telah mempersekutukan Allah dan karena itu ia sudah melakukan dosa terbesar yang tak terampuni, yaitu dosa syirik.

Jadi disini kita sudah memahami dengan jelas berdasarkan ajaran Quran dan Muhammad dalam hadis, apakah dosa syirik itu.

__________________________

Tapi mengapa dalam Quran Allah acapkali bersumpah demi Quran?

“Demi Al Quran yang penuh hikmah” (Qs Yaasin 36:2)

“Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan.” (Qs Shaad 38:1)

“Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan” (Qs Az Zukruf 43:2)

“Demi Al Quran yang sangat mulia.” (Qs Qaaf 50:1)

Allah bersumpah demi Quran. Tapi Muhammad mengatakan bahwa jika engkau bersumpah demi sesuatu selain Allah, maka engkau sudah mempersekutukan Allah. Jika demikian, maka Quran itu adalah sekutunya Allah.

Berdasarkan ajaran Islam, Quran itu bersifat kekal. Jadi Allah telah menetapkan kitab yang dianggap kekal ini sebagai sekutunya.



Tapi Allah juga pernah bersumpah demi hidup Muhammad.

(Allah berfirman): "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)." (Qs al-Hijr 15:72)

Jika Allah bersumpah demi hidup Muhammad, bukankah itu artinya Allah telah mempersekutukan Muhammad dengan diriNya?

Mungkin inilah sebabnya Muslim tidak memperlakukan Muhammad sama seperti nabi-nabi lainnya, jika ada yang berani menggambar nabi Musa, tak ada yang protes ... tapi jika ada yang berani menggambar Muhammad, maka orang itu akan mati.

Sekarang baru masuk akal bagi kita, karena Muhammad itu adalah sekutunya Allah.



Tapi Allah ternyata juga punya sekutu yang lain, yaitu para malaikat.

“Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya, dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang bathil) dengan sejelas-jelasnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu ” (Qs al Mursalaat 77:1-5)

“Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras,” (Qs An Naazi´aat 79:1)

Jadi karena Muhammad mengatakan bahwa barangsiapa bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah telah mempersekutukan Allah, maka ketika Allah bersumpah demi malaikat-malaikatNya maka Allah pun telah menjadikan malaikat-malaikat sebagai sekutunya.



Namun bukan itu saja! Sepertinya Allah itu begitu kesepian sehingga ia pun menjadikan segala macam sekutu bagiNya.

“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang,” (Qs at Takwiir 81:15)

“Aku bersumpah demi langit yang mempunyai gugusan bintang,” (Qs al Buruuj 85:1)

“Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.” (Qs al Waqiiah 56:75)

“Aku bersumpah demi matahari dan cahayanya di pagi hari,” (Qs Asy Syams 91:1)

“Aku bersumpah demi bumi serta penghamparannya,” (Qs Asy Syams 91:6)

“demi bulan, dan malam ketika telah berlalu” (Qs al-Mudatshir 74:32-33)

“Aku bersumpah demi fajar” (Qs al-Fajr 89:1)

“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja,” (Qs Insyiqaaq 84: 16)

“Aku bersumpah demi malam apabila menutupi (cahaya siang),” (Qs al Lail 92:1)

“Demi langit yang mengandung hujan” (Qs Ath Thaariq 86:11)

“Aku bersumpah Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat” (Qs Adz Dzaariyaat 51:1)

“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah),” (Qs al Balad 90:1)

“Aku bersumpah demi kalam dan apa yang mereka tulis,” (Qs al Kalam 68:1)

“Aku bersumpah demi bukit” (Qs Ath Thuur 52:1)

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman” (Qs At Tiin 95:1-3)



Wow....banyak sekali yang engkau jadikan sekutuMu, Allah...



Tapi semuanya itu masih belum cukup bagi Allah. Ternyata masih ada yang paling buruk:

“Maka Aku (Allah) bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.” (Qs Al Haaqqah 69:38-39)

Dalam ayat itu, Allah bersumpah demi apa yang kita lihat dan yang tidak kita lihat.

Apa artinya itu? Artinya adalah, Allah bersumpah demi apapun...

Jadi jika Allah bersumpah demi apapun, maka Allah menjadikan segala sesuatu menjadi sekutunya.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa Islam bukanlah sebuah agama monoteistik, melainkan sejenis agama politeistik atau panteistik.



Mari kita lihat implikasinya disini. Dikatakan bahwa Allah bersumpah demi apa yang engkau lihat.

Apakah engkau melihat babi ini?

Dan Quran mengatakan bahwa Allah pun bersumpah demi babi ini (sebab kita dapat melihatnya), jadi di sini Allah menjadikan babi ini menjadi sekutuNya.

Apakah anda Muslim siap untuk menyembah seekor anak babi?

Muslim biasanya mengecam cara berpakaian orang Barat sebagai tidak sopan karena memperlihatkan aurat.

Mari kita ambil contoh Lady Gaga yang mengenakan pakaian yang berasal dari daging sapi.

Muslim ketahuilah bahwa Allah telah bersumpah demi Lady Gaga dan juga demi pakaian yang terbuat dari daging sapi yang ia kenakan. Jadi Allah pun telah menjadikan Lady Gaga dan pakaiannya sebagai sekutuNya.

Allah juga telah bersumpah demi anjing, demi minuman keras, kokain, pornografi, virus, toilet dan apa yang ada di dalamnya, dan Allah juga telah bersumpah demi Satan itu sendiri.

Jadi karena Allah telah bersumpah demi apapun yang terlihat dan tidak terlihat, maka Allah telah menjadikan diriNya sebagai penyembah berhala yang melakukan dosa syirik yang sangat besar, jauh lebih besar daripada yang diperbuat oleh orang-orang Quraish yang masih menyembah berhala pada masa Muhammad memulai pelayanannya.



Pembahasan Kita masih belum selesai.

Dalam Quran Sura al Baqarah 2:22 dikatakan,

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”

Ayat di atas menyatakan bahwa semakin kita mengetahui aturan Allah itu, maka tanggungjawab yang dibebankan pada kita pun menjadi semakin besar.

Tapi tentunya pengetahuan Allah lebih besar dibandingkan manusia manapun bukan, ketika Ia menjadi segala sesuatu sebagai sekutuNya?

Jadi Allah (tak seperti berhala-berhala orang Mekah pagan) mustahil tidak mengetahui hal ini.



Sekarang mari kita simpulkan:

Syirik adalah dosa terbesar yang tak terampuni, dan syirik adalah ketika kita menjadikan sesuatu selain Allah menjadi sekutu Allah. Oleh karena Allah telah bersumpah demi apapun yang terlihat dan tidak terlihat, itu artinya ALLAH TELAH MELAKUKAN DOSA SYIRIK YANG LEBIH BESAR DARIPADA YANG PERNAH DILAKUKAN OLEH SIAPAPUN DI JAGAT RAYA INI.

Dan karena Allah itu maha tahu jika dibandingkan dengan siapapun, maka tanggungjawab yang harus dipikulNya pun lebih besar daripada siapapun, ketika Allah melakukan dosa terbesar yang tak terampuni ini secara terus menerus.

Jadi berdasarkan ajaran Muhammad, Allah adalah pendosa syirik terbesar atau penyembah berhala yang paling buruk sebab Ia telah bersumpah demi apapun.

Kemudian teman-teman Muslim saya mengajak saya untuk sujud kepada Allah dan menyembahNya.

Ini yang saya lihat selama ini dalam Islam. Dalam Islam kelihatannya sejumlah pengajarannya menarik, yaitu percaya kepada Tuhan, tunaikan sholat, puasa, memberikan zakat. Semuanya itu sangat baik, bukan?

Tapi begitu kita coba menggali lebih dalam agama ini, maka yang kita temukan adalah sebuah PENGHUJATAN.

“Percayalah kepada Tuhan kami yaitu Allah, yang adalah pendosa syirik terburuk menurut kitabNya dan menurut NabiNya.”



Maaf teman-teman Muslim, saya nggak mungkin bisa mempercayai Tuhan seperti itu.

__________________________________

Mari kita bandingkan ALLAH Islam dengan YAHWEH dalam Alkitab yang tak pernah bersumpah demi sesuatu yang lain selain demi diriNYA sendiri, sebab tak ada yang lebih besar dibandingkan diriNYA:

dan Dia berfirman, “Aku telah bersumpah demi diri-Ku -firman YAHWEH- bahwa oleh karena engkau telah melakukan hal ini, dan engkau tidak menahan anak laki-lakimu yang tunggal itu, (Kejadian 12:16)



Aku telah bersumpah demi diri-Ku sendiri, firman telah keluar dari mulut-Ku dalam kebenaran, dan tidak akan kembali sehingga kepada-Ku setiap lutut akan bertelut, setiap lidah akan bersumpah, (Yesaya 45:23)



Dan yang melarang setiap umatNYA untuk bersumpah demi apapun juga



Namun Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, entah demi surga karena itu adalah takhta Elohim,

atau demi bumi karena itu adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena itu adalah kota raja yang besar.

Atau, janganlah bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa untuk membuat sehelai rambut pun, putih atau hitam.

Akan tetapi biarlah perkataanmu: Ya, jika ya - Tidak, jika tidak. Dan yang selebihnya, hal itu berasal dari yang jahat. (Matius 5:34-37)

https://buktidansaksi.com/blogs/1432/2014/03/Apakah-ALLAH-Melakukan-Dosa-Syirik-



Nah, mungkin teman-teman muslim akan tertawa terbahak-bahak membaca kebodohan penulis artikel buktidansaksi di atas sebagaimana penulis yang juga tertawa melihat tulisan di atas.
oke kita cukupkan dulu tertawanya, mari kita bahas kebodohan penulis situs buktidansaksi di atas.

pertama: kekeliruan mendasar penulis situs bukti dan saksi di atas adalah menyamakan kedudukan manusia dengan Allah. Why? karena penulis di atas menyamakan aturan yang hanya berlaku bagi manusia, ingat aturan yang hanya berlaku bagi manusia, aturan tersebut malah diposisikan berlaku pula bagi Allah. Logika mereka sudah cacat. kalau seandainya logika atau cara berpikir penulis situs bukti dan saksi ini diterapkan, harusnya Allah juga harus Shalat dong, harus puasa, harus Haji, kalau tidak Allah berdosa? Padahal kewajiban itu hanya berlaku bagi manusia. 

Kedua: kekeliruan dalam mendefenisikan Sumpah antara manusia dan Allah.

Sumpah yang dilakukan manusia selalu untuk menguatkan sesuatu dengan bergantung kepada sesuatu agar sumpahnya dipercaya. semisal si  A mengatakan saya bersumpah demi Tuhan, Si A dengan seyakin-yakinnya menggantungkan keyakinanya kepada Tuhan agar orang yang mendengar sumpahnya percaya padanya.
seperti halnya kepada Pohon, berhala, bintang-bintang yang dianggap punya kekuatan. Bahkan dalam keadaan bercanda pun sumpah bagi manusia tetap saja bergantung pada sesuatu. Semisal ucapan bercanda "sumpah disamber gledek".  Di sini sudah terbaca kalau ia bohong nanti kena sambar petir. begitulah kira-kira maksudnya.

Nah bagi Allah yang bersumpah dalam Al-Qur'an demi Makhluk-Nya, silahkan anda cek satu persatu, bagian mana Allah bersumpah seperti manusia yang menggantungkan keinginannya pada sesuatu yang diyakininya?

1. “Demi Al Quran yang penuh hikmah” (Qs Yaasin 36:2) ayat selanjutnya: Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,  (yang berada) diatas jalan yang lurus, ayat 3-4.
bagian mana Allah bergantung kepada Al-Qur'an ? apakah sama dengan sumpah manusia, demi Tuhan saya bukan pelakunya, Demi Tuhan saya mencintaimu dts?

2. “Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan.” (Qs Shaad 38:1) ayat selanjunya: 2. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. 3. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (ayat 2-3) 
Pertanyaanya: bagian mana Allah menggantungkan diri-Nya? samakah posisi Allah dengan sumpah manusia demi Tuhan aku rindu padamu? demi Tuhan aku bukan pelakunya?

3. “Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan” (Qs Az Zukruf 43:2) ayat selanjutnya:  Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). 4. Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. 
 (ayat 3-4)
Lagi-lagi kami bertanya: apakah sama posisi Sumpah Allah dengan sumpah manusia yang menggantungkan sesuatu ? aku melakukan ini demi kamu, demi Tuhan aku tidak berbohong?

4. “Demi Al Quran yang sangat mulia.” (Qs Qaaf 50:1) ayat selanjutnya: 2. (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir :"Ini adalah suatu yang amat ajaib." 

Di sini sama saja, tidak ada satupun posisi Allah menggantungkan perkataan-Nya pada objek dalam sumpah-Nya.

sebenarnya tidak perlu repot-repot mencari dan mengecek satu persatu. karena sampai semuanya dibuka pun tidak akan ada yang sama antara sumpah Allah kepada Makhluk-Nya dengan sumpah yang dilakukan manusia.

oleh karena itu, sumpah dalam Al-Qur'an bukan bermakna sumpah seperti yang dilakukan manusia, tetapi lebih bermakna sebagai keindahan susunan Al-Qur'an, yang membuat pendengarnya akan bertanya-tanya apa yang akan dibaca atau diucapkan setelah kalimat sumpah itu diucapkan.

Bagaimana dengan Sumpah Tuhan dalam Alkitab?

Di atas penulis situs buktidansaksi lagi-lagi berdusta mengatakan bahwa Tuhan dalam Alkitab tidak pernah bersumpah kepada ciptaan-Nya selain kepada Diri-Nya sendiri.

Ini adalah sebuah kedustaan karena Alkitab malah memberitakan Tuhan bersumpah kepada makhluk-Nya

Amos 8: 7 TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!

Malah disini Tuhan bersumpah seperti manusia bersumpah/ berjanji.

nah sekarang Kitab siapakah yang sejujurnya memberitakan Tuhan bersumpah kepada makhluk-Nya sebagaimana mansuia bersumpah kepada Tuhan?

Kesimpulan

1. Kewajiban atau larangan yang berlaku hanya untuk manusia, hanya berlaku untuk manusia, tidak kepada lainnya semisal kepada hewan. Apalagi kepada Allah. Demikian pula hak Allah tentu tidak bisa menjadi Hak manusia.

2. Berlakunya syirik bagi manusia yang bersumpah kepada selain Allah hanya berlaku bagi manusia, bukan terhadap selain manusia semisal binatang, apalagi kepada Allah.

3. Sumpah bagi Manusia semata-mata manusia itu menggantungkan dirinya kepada sebuah objek yang dianggap mampu membuat orang lain percaya padanya. Sementara Allah tidak.

4. Sumpah Allah dalam Al-Qur'an bukanlah sumpah seperti manusia, akan tetapi sumpah yang merupakan bagian dari keindahan susunan balaghah Al-Qur'an. Tidak ada kaitannya dengan sumpah manusia kepada selain Allah.

5. Terbukti menurut Alkitab, Tuhan dalam Alkitab bersumpah / berjanji dengan menggantungkan sumpahnya kepada makhluk ciptaanya sendiri yaitu kebanggaan Ya'kub.

Tanggapan Untuk Situs IsadanIslam(dot)com Muslim dan Kristen Minta, "Tunjukkanlah Saya Jalan Ke Sorga!"

Staff IDI tidak pernah bersikap jujur sama sekali dalam setiap tulisannya, selalu saja ada upaya untuk menyesatkan pembacanya. Kali ini Staff IDI mencoba menyesatkan pembaca dengan menyatakan Al-Qur'an atau Allah tidak memberitakan jalan Ke Surga seperti apa, serta Alkitab disebut Al-Qur'an sebagai kitab penyempurna dan lain-lain. Memang sudah menjadi kebiasan yang mendarah daging, seperti itu lah Staff IDI. sebelumnya kami kutipkan tulisannya berikut:

 Muslim dan Kristen Minta, "Tunjukkanlah Saya Jalan Ke Sorga!"
 tangga-ke-surga“Insya Alah Bila Allah Mengijinkan!” Kalimat ini sudah tidak asing lagi di telinga. Umat Muslim sering sekali mengucapkannya.
Ungkapan di atas secara tidak langsung menyatakan tidak ada jaminan untuk masuk sorga. Semua adalah takdir Allah. Sekalipun dalam prakteknya umat beragama dituntut agar taat pada Allah serta melakukan perbuatan baik. Namun, tetap saja tidak dapat diberi jaminan. Semua hanya “mudah-mudahan.”
Benarkah Pahala adalah Tiket ke Surga?
Perbuatan baik dapat dijadikan penjamin untuk menikmati surga. Setidaknya inilah yang dikatakan dalam Al-Quran, “. . . Dia [Allah] memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)” (Qs 53:31). Perbuatan baik dipandang sebagai jalan menuju surga. Harapannya, membuat seimbang neraca di hari penghakiman.
Bagaimana Muhammad memberi jawaban terhadap ayat di atas?  “Mendekatlah dan berusahalah benar! Ketahuilah bahwa setiap orang diantara kalian tidak bakal selamat karena amalnya. Para sahabat bertanya “Ya Rasullah, tidak juga engkau? Rasullulah berkata: “Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahiku dengan rahmat dan karunia-Nya” (Hadis Sohih Muslim  KH. Adib Basri Mustafa Hal. 819 No 76).
Bila Al-Quran dan Muhammad tidak dapat memberikan jawaban akan surga, lalu bagaimana cara menuju ke surga? Jelas sorga adalah tujuan akhir manusia beragama, bukan?  “Tunjukilah kami jalan yang lurus!” bukankah ini yang selalu diserukan umat Muslim?
Al-Quran Mengakui Alkitab adalah Kitab Penyempurna
Ketika dalam doa-doa kita selalu menyerukan agar diberi petunjuk menuju jalan yang lurus, mengapa kita masih ragu-ragu? Al-Quran memberikan jawaban atas sebuah teka-teki ini, sebab jalan lurus itu telah ditunjukkan dalam Kitab Allah. Al-Quran berkata seharusnya kita mengikuti jalan Kitab Allah dan tidak mengikuti jalan-jalan lain agar tidak tersesat.
Bahkan Kitab Allah (Alkitab) diberikan sebagai kitab penyempurna. Ia menjelaskan segala sesuatu sebagai petunjuk dan rahmat. Agar  manusia dapat beriman dan bertakwa kepada Allah. Setidaknya inilah yang terdapat dalam Qs 6:153-154.
Mengikuti Apa yang Dikatakan Al-Quran
Untuk mengetahui jalan menuju surga, sebaiknya kita mengikuti apa yang telah disarankan Al-Quran dalam Qs 6:153-154, bahwa hanya dalam kitab penyempurnalah ada jalan menuju surga. Kitab penyempurna itu adalah Alkitab.
Sangat benar apa yang dikatakan Al-Quran bahwa Kitab Allah memberikan jawaban atas pergulatan yang dialami manusia. Jika Anda hendak menuju surga tentu harus mengetahui Sang pemilik surga itu, bukan?
Isa Al-Masih bersabda “ Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Injil, Rasul Besar Matius 28:18). Bahkan Isa Al-Masih adalah jalan menuju kehidupan kekal, seperti yang pernah Ia katakan “…Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6).
Dengan demikian dapatkah  amal ibadah dijadikan tiket menuju sorga? Inilah yang seharusnya menjadi pemikiran bagi umat Muslim. Jika saudara hendak menikmati sorga kekal, hiduplah dalam jalan keselamatan bersama Isa Al-Masih. Ini adalah jawaban mutlak. Anda harus membuktikannya!
Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
http://www.isadanislam.com/keselamatan/muslim-dan-kristen-minta-tunjukkanlah-saya-jalan-ke-sorga


Di atas teman-teman bisa membaca dengan jelas bagaimana Staff IDI memplintir kata-kata dalam Al-Qur'an untuk menipu para pembacanya. 

TIKET JALAN KE SURGA JELAS, YAITU ISLAM, BUKAN KRISTEN DAN YAHUDI.

Jika Staff IDI mempersoalkan dan mengatakan bahwa Allah tidak memberitakan kepastian jalan ke Surga dengan jelas, tentu saja ini penipuan, Dusta Staff IDI, sebab Allah sudah jauh-jauh di awal Al-Qur'an menerangkan tentang jalan Lurus yang akan sampai ke Surga jika mengikuti jalan yang Lurus, bahkan ayat ini dibaca berulang-ulang sebanyak 17 kali dalam Shalat Lima Waktu sehari semalam.  
Yaitu: "Tunjukilah Kami jalan yang Lurus, Yaitu Jalan Orang-orang yang engkau Beri Nikmat atas mereka, Bukan Jalan orang-orang yang engkau murkai (Yahudi), dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat (Kristen). Qs. Al-Fatihah 1:6-7 

Kebohongan-kebohongan Sepertinya dianggap biasa oleh Staff IDI, mungkin itulah fakta dan bukti kalau Agama staff IDI memang agama kebohongan dan dusta. Sehingga kedustaan dianggap biasa saja oleh mereka.
Dalam Islam Jika ingin masuk surga ikutilah Islam, Konsep ajaran Islam mengenai surga sangat jelas, Islam menekankan Keyakinan (Akidah), Amal serta Lisan (pernyataan) maka tolong jangan diplintir, saat Al-Qur'an atau Hadits mengajarkan atau menyatakan Surga tidak tergantung dengan amal, jangan diplintir. Karena masuk surga tidak sekedar amal, tapi juga tergantung Iman, lisan dan perbuatan (amal). seolah-olah tidak ada tiket untuk ke Surga menurut Islam.

AL-QUR'AN MENGAKUI ALKITAB SEBAGAI KITAB PENYEMPURNA?

Karena agamanya dibangun atas kedustaan, maka wajar saja Staff IDI memplintir Al-Qur'an untuk mendukung kebohongan mereka.
Al-Qur'an tidak pernah menyebut Alkitab sebagai penyempurna kecuali Injil yang menjadi penyempurna Taurat, namun kemudian Injil pun disempurnakan dan dinasakh oleh Al-Qur'an.

ayat yang di catut nomornya oleh Staff IDI pasti takut ditampilkan, karena jika ditampilkan secara utuh pasti akan ketahuan dustanya.

Qs. 6:153-155
153. dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
154. Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. 
155. Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. 

Nah Pada bagian manakah Alkitab disebutkan sebagai penyempurna di sana? selain sebagai penyempurna nikmat untuk berbuat kebaikan di masa itu?

 MENGIKUTI YESUS ADALAH MENGIKUTI AJARANNYA BUKAN MENGAKUI DIRINYA SEABGAI TUHAN.

Jalan keselamatan yang diajarkan oleh Yesus / Isa bukan mengakui dirinya sebagai Tuhan, tapi mengikuti ajarannya, yaitu menyatakan keesaan ALLAH. mengakui dirinya sebagai Nabi Allah, Rasul Allah. Hamba Allah. karena Yesus tidak pernah mengatakan dirinya Tuhan, tidak ada bukti dirinya Tuhan. Bahkan Yesus di masa itu dikenal oleh masyarakat, dan para Murid sebagai Nabi Allah. dipanggil Tuan, bukan Tuhan.
Oleh karena itu adalah kesesatan yang nyata jika mengajak kepada Yesus tapi masuk Kristen. Karena Kristen tidak mengikuti ajaran Paulus.

Wallahu A'lam Bish Shawab.
Untuk Mempermudah Pencarian Artikel Yang Anda Inginkan Gunakan Mesin Pencari Di Bawah ini:

Video