Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Kerajaan

Muslimah

Nabi Muhammad Saw

Menjawab Fitnah Al-Qur'an Hoax Karena Kisah Nabi Yusuf Dalam Al-Qur'an Berbeda dengan Alkitab

Sebuah akun facebook dalam grup dialog mengatakan bahwa Al-Qur'an terbukti Hoax hanya karena terdapat perbedaan kisah antara al-Qur'an dan Alkitab. bisa dibaca dibawah ini: 
Elena
QURAN TERBUKTI HOAX !!!!
Lagi-lagi quran memberikan ajaran yg memutarbalikan fakta...mengenai nabi yusuf...kalau dlm Injil jls tertulis sebabnya Yusuf masuk penjara (Kej 39:1-20) tpi dlm quran knp ko ceritanya malah aneh..diceritakan dlm quran kalau yusuf itu awalnya tergoda dan hendak melakukan perbuatan mesum dng seorang wanita yg menggodanya tp untungnya dia sadar dan tdk jd melakukan perbuatan mesum trsbt dan diketahui oleh suami si wanita itu bhw yusuf tdk bersalah dan yusuf terbebas dr hukuman..tpi anehnya dlm surah yusuf 35 dikatakan : "kemudian timbul pikiran pd mereka setlah melihat tanda-tanda (kebenaran yusuf) bhw mrk hrs memenjarakannya sampai sesuatu waktu."
Lalu yusufpun dipenjarakan bersama 2 org pemuda...
Pertanyaanku slim :
Apa yg dijadikan alasan mereka untuk memenjarakan yusuf pdhl sdh dikatakan dlm ayat 35 klo Yusuf itu orang benar ? Monggo slim jawaban cerdasnya !!!
Suka ·  · Bagikan · 18 Maret pukul 13:10 https://www.facebook.com/groups/375110229210947/permalink/654541487934485/?stream_ref=2

Hujatan dan cacian di atas adalah sebuah hal yang biasa dilontarkan saudara kristen terhadap Islam meskipun tidak memiliki argumen yang memadai sama sekali. Sebab menggunakan argumen dengan membandingkan dua sumber berbeda dan lalu mengklaim salah satu dari dua sumber itu valid dan lainnya tidak valid dengan tanpa menunjukan sumber ketiga atau bukti valid lain yang mendukung argumen tersebut tentu saja tidak bisa diterima.
Dalam hal ini membandingkan Alkitab dengan Al-Qur'an lantas mengklaim cerita di Al-Qur'an keliru, Hoax tapi tak punya bukti lain tentu saja tidak bisa dibenarkan. Malah terkesan bodoh dan sangat lemah.

Alkitab senang sekali menghujat Para Nabi Allah Sementara Al-Qur'an memuliakan Para Nabi Allah.

Salah satu perbedaan mendasar antara Alkitab dan Al-Qur'an adalah Sikap terhadap Nabi Allah, Nabi Allah adalah orang yang dipilih Allah untuk menyebarkan ajaran Allah, persoalannya adalah Bagaimana mungkin orang pilihan Allah malah diceritakan dengan sangat hina penuh celaan? padahal mereka pilihan Allah?
itulah yang terjadi pada Alkitab, termasuk dalam hal di atas, kisah Nabi Yusuf Alais Salam diceritakan berkeinginan berbuat mesum dan tidak jadi dilakukan.

Bayangkan Nabi yang dipilih Allah berkeinginan berbuat Mesum?

sementara Al-Qur'an malah memuliakan Nabi Yusuf Alais salam dengan menuturkan bagaimana Yusuf sama sekali tidak tergoda oleh bujukan dan rayuan wanita tersebut. Bahkan Yusuf berusaha melarikan diri.
Inilah akhlak mulia Nabi pilihan Allah.

Pembaca pasti bisa menilai manakah cerita yang logis di antara dua sumber di atas.


Mengapa Yusuf di penjara sementara ia orang Benar?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat gampang untuk dijawab, dan sama sekali bukan alasan untuk mengatakan kisah Al-Qur'an itu bohong, Hoax.

Sudah berabad-abad manusia hidup di alam dunia ini, kita bisa mendapati ribuan bahkan jutaan manusia yang dipenjara bahkan dihukum mati sementara mereka orang yang benar, mereka tak bersalah. Bahkan yang terbaru Mesir (pemerintahan hasil Kudeta) akan menghukum mati 500an Ulama tanpa p

engadilan (semoga Allah menolong mereka).
Ini sebuah contoh bahwa benar dan salah bukan alasan seseorang dipenjara, memang secara keadilan, secara undang-udang, adab manusia, seseorang dihukum karena dosa yang ia perbuat, namun kedzoliman, atau kekuatan, kekuasaan seorang penguasa bisa saja membuat orang baik dipenjara bahkan dihukum mati, sementara orang jahat, malah bebas.

Dalam Alkitab pun Yesus ditangkap dan disalib sama sekali tidak punya dosa atau alasan yang berarti untuk membunuh Yesus selain dari tekanan orang Yahudi ketika itu kepada Pontius Pilatus, sementara Pontius pilatus sendiri mengakui ia tak punya alasan untuk membunuh Yesus.

Wallahu A'lam Bish Shawab.

Menjawab Fitnah Situs BuktidanSaksi(dot)com Apakah Allah melakukan Syirik Karena Bersumpah Dengan Makhluk-Nya?


Assalamu 'alaikum wr. wb.
Ini tulisan pertama kami yang akan memberikan tanggapan dan bantahan terhadap fitnahan situs Buktidansaksi(dot)com yang juga satu grup atau kepanjangan situs FFI dan teman-temannya.

Kali ini kami akan memberikan tanggapan terhadap sebuah tulisan yang berdasarkan ketidak-pahaman akan makna dan arti dari sumpah dalam Al-Qur'an dengan sumpah kepada selain Allah dalam Akidah Islamiyah.

ilustrasi
Kekeliruan ini tentu saja kami anggap wajar karena kristen sangat bodoh terhadap ajaran Islam. Bahkan seringkali membodohkan diri mereka untuk menghujat Islam.

sebelumnya kami kutipkan tulisan Situs Buktidansaksi(dot)com di bawah ini:


APAKAH ALLAH MELAKUKAN DOSA SYIRIK?

Berdasarkan Quran, dosa yang dikategorikan sebagai dosa terbesar adalah dosa syirik, yaitu mempersekutukan ALLAH.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Qs an-Nisaa 4:48)

Ada banyak cara ketika seseorang dikatakan melakukan dosa syirik; tidak harus bahwa orang itu sujud menyembah sesuatu yang lain selain Allah.

Muhammad berkata, “Jika engkau bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah, maka engkau sudah melakukan dosa syirik.” Misalnya engkau berkata,”Aku bersumpah demi kuburan ibuku”, maka anda sudah bersalah karena melakukan dosa syirik.

Anda bisa menemukan ketentuan ini diatur dalam hadis-hadis Islam yang dianggap paling sahih.



Mari kita lihat beberapa contoh dari hadis:

Sahih al-Bukhari 6108 – Utusan Allah berkata,”Sesungguhnya Allah melarangmu untuk bersumpah demi ayahmu. Apabila seorang bersumpah, hendaklah ia bersumpah demi Allah, jika tidak sebaiknya ia diam saja.”

Sahih Muslim 40:40 – Orang yang hendak bersumpah, ia hanya boleh bersumpah demi Allah.”

Sunan Abu Dawud 3242 – Rasul Allah berkata,”Jangan bersumpah demi ayahmu atau demi ibumu, atau demi musuh-musuh Allah, engkau hanya boleh bersumpah demi Allah ketika engkau mengatakan kebenaran.”

Sunan an-Nasai 3795 – Rasul Allah berkata,”Barangsiapa bersumpah, ia tak boleh bersumpah demi sesuatu yang lain kecuali Allah.”

Sunan Ibn Majah 2095 – Utusan Allah berkata,”Janganlah bersumpah demi berhala atau demi ayah-ayahmu”



Mengapa dianggap salah jika seseorang bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah?

Muhammad menjawabnya dengan berkata dalam Jami at-Tirmidhi 1535 – Ibn Umar berkata,”Tak ada yang boleh bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah, sebab aku mendengar utusan Allah berkata,”Barangsiapa yang bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah, maka ia adalah seorang yang kafir karena telah melakukan dosa syirik.”



Jadi berdasarkan pengajaran Muhammad, barangsiapa yang bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah, maka ia telah mempersekutukan Allah dan karena itu ia sudah melakukan dosa terbesar yang tak terampuni, yaitu dosa syirik.

Jadi disini kita sudah memahami dengan jelas berdasarkan ajaran Quran dan Muhammad dalam hadis, apakah dosa syirik itu.

__________________________

Tapi mengapa dalam Quran Allah acapkali bersumpah demi Quran?

“Demi Al Quran yang penuh hikmah” (Qs Yaasin 36:2)

“Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan.” (Qs Shaad 38:1)

“Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan” (Qs Az Zukruf 43:2)

“Demi Al Quran yang sangat mulia.” (Qs Qaaf 50:1)

Allah bersumpah demi Quran. Tapi Muhammad mengatakan bahwa jika engkau bersumpah demi sesuatu selain Allah, maka engkau sudah mempersekutukan Allah. Jika demikian, maka Quran itu adalah sekutunya Allah.

Berdasarkan ajaran Islam, Quran itu bersifat kekal. Jadi Allah telah menetapkan kitab yang dianggap kekal ini sebagai sekutunya.



Tapi Allah juga pernah bersumpah demi hidup Muhammad.

(Allah berfirman): "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)." (Qs al-Hijr 15:72)

Jika Allah bersumpah demi hidup Muhammad, bukankah itu artinya Allah telah mempersekutukan Muhammad dengan diriNya?

Mungkin inilah sebabnya Muslim tidak memperlakukan Muhammad sama seperti nabi-nabi lainnya, jika ada yang berani menggambar nabi Musa, tak ada yang protes ... tapi jika ada yang berani menggambar Muhammad, maka orang itu akan mati.

Sekarang baru masuk akal bagi kita, karena Muhammad itu adalah sekutunya Allah.



Tapi Allah ternyata juga punya sekutu yang lain, yaitu para malaikat.

“Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya, dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang bathil) dengan sejelas-jelasnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu ” (Qs al Mursalaat 77:1-5)

“Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras,” (Qs An Naazi´aat 79:1)

Jadi karena Muhammad mengatakan bahwa barangsiapa bersumpah demi sesuatu yang lain selain Allah telah mempersekutukan Allah, maka ketika Allah bersumpah demi malaikat-malaikatNya maka Allah pun telah menjadikan malaikat-malaikat sebagai sekutunya.



Namun bukan itu saja! Sepertinya Allah itu begitu kesepian sehingga ia pun menjadikan segala macam sekutu bagiNya.

“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang,” (Qs at Takwiir 81:15)

“Aku bersumpah demi langit yang mempunyai gugusan bintang,” (Qs al Buruuj 85:1)

“Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.” (Qs al Waqiiah 56:75)

“Aku bersumpah demi matahari dan cahayanya di pagi hari,” (Qs Asy Syams 91:1)

“Aku bersumpah demi bumi serta penghamparannya,” (Qs Asy Syams 91:6)

“demi bulan, dan malam ketika telah berlalu” (Qs al-Mudatshir 74:32-33)

“Aku bersumpah demi fajar” (Qs al-Fajr 89:1)

“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja,” (Qs Insyiqaaq 84: 16)

“Aku bersumpah demi malam apabila menutupi (cahaya siang),” (Qs al Lail 92:1)

“Demi langit yang mengandung hujan” (Qs Ath Thaariq 86:11)

“Aku bersumpah Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat” (Qs Adz Dzaariyaat 51:1)

“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah),” (Qs al Balad 90:1)

“Aku bersumpah demi kalam dan apa yang mereka tulis,” (Qs al Kalam 68:1)

“Aku bersumpah demi bukit” (Qs Ath Thuur 52:1)

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman” (Qs At Tiin 95:1-3)



Wow....banyak sekali yang engkau jadikan sekutuMu, Allah...



Tapi semuanya itu masih belum cukup bagi Allah. Ternyata masih ada yang paling buruk:

“Maka Aku (Allah) bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.” (Qs Al Haaqqah 69:38-39)

Dalam ayat itu, Allah bersumpah demi apa yang kita lihat dan yang tidak kita lihat.

Apa artinya itu? Artinya adalah, Allah bersumpah demi apapun...

Jadi jika Allah bersumpah demi apapun, maka Allah menjadikan segala sesuatu menjadi sekutunya.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa Islam bukanlah sebuah agama monoteistik, melainkan sejenis agama politeistik atau panteistik.



Mari kita lihat implikasinya disini. Dikatakan bahwa Allah bersumpah demi apa yang engkau lihat.

Apakah engkau melihat babi ini?

Dan Quran mengatakan bahwa Allah pun bersumpah demi babi ini (sebab kita dapat melihatnya), jadi di sini Allah menjadikan babi ini menjadi sekutuNya.

Apakah anda Muslim siap untuk menyembah seekor anak babi?

Muslim biasanya mengecam cara berpakaian orang Barat sebagai tidak sopan karena memperlihatkan aurat.

Mari kita ambil contoh Lady Gaga yang mengenakan pakaian yang berasal dari daging sapi.

Muslim ketahuilah bahwa Allah telah bersumpah demi Lady Gaga dan juga demi pakaian yang terbuat dari daging sapi yang ia kenakan. Jadi Allah pun telah menjadikan Lady Gaga dan pakaiannya sebagai sekutuNya.

Allah juga telah bersumpah demi anjing, demi minuman keras, kokain, pornografi, virus, toilet dan apa yang ada di dalamnya, dan Allah juga telah bersumpah demi Satan itu sendiri.

Jadi karena Allah telah bersumpah demi apapun yang terlihat dan tidak terlihat, maka Allah telah menjadikan diriNya sebagai penyembah berhala yang melakukan dosa syirik yang sangat besar, jauh lebih besar daripada yang diperbuat oleh orang-orang Quraish yang masih menyembah berhala pada masa Muhammad memulai pelayanannya.



Pembahasan Kita masih belum selesai.

Dalam Quran Sura al Baqarah 2:22 dikatakan,

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”

Ayat di atas menyatakan bahwa semakin kita mengetahui aturan Allah itu, maka tanggungjawab yang dibebankan pada kita pun menjadi semakin besar.

Tapi tentunya pengetahuan Allah lebih besar dibandingkan manusia manapun bukan, ketika Ia menjadi segala sesuatu sebagai sekutuNya?

Jadi Allah (tak seperti berhala-berhala orang Mekah pagan) mustahil tidak mengetahui hal ini.



Sekarang mari kita simpulkan:

Syirik adalah dosa terbesar yang tak terampuni, dan syirik adalah ketika kita menjadikan sesuatu selain Allah menjadi sekutu Allah. Oleh karena Allah telah bersumpah demi apapun yang terlihat dan tidak terlihat, itu artinya ALLAH TELAH MELAKUKAN DOSA SYIRIK YANG LEBIH BESAR DARIPADA YANG PERNAH DILAKUKAN OLEH SIAPAPUN DI JAGAT RAYA INI.

Dan karena Allah itu maha tahu jika dibandingkan dengan siapapun, maka tanggungjawab yang harus dipikulNya pun lebih besar daripada siapapun, ketika Allah melakukan dosa terbesar yang tak terampuni ini secara terus menerus.

Jadi berdasarkan ajaran Muhammad, Allah adalah pendosa syirik terbesar atau penyembah berhala yang paling buruk sebab Ia telah bersumpah demi apapun.

Kemudian teman-teman Muslim saya mengajak saya untuk sujud kepada Allah dan menyembahNya.

Ini yang saya lihat selama ini dalam Islam. Dalam Islam kelihatannya sejumlah pengajarannya menarik, yaitu percaya kepada Tuhan, tunaikan sholat, puasa, memberikan zakat. Semuanya itu sangat baik, bukan?

Tapi begitu kita coba menggali lebih dalam agama ini, maka yang kita temukan adalah sebuah PENGHUJATAN.

“Percayalah kepada Tuhan kami yaitu Allah, yang adalah pendosa syirik terburuk menurut kitabNya dan menurut NabiNya.”



Maaf teman-teman Muslim, saya nggak mungkin bisa mempercayai Tuhan seperti itu.

__________________________________

Mari kita bandingkan ALLAH Islam dengan YAHWEH dalam Alkitab yang tak pernah bersumpah demi sesuatu yang lain selain demi diriNYA sendiri, sebab tak ada yang lebih besar dibandingkan diriNYA:

dan Dia berfirman, “Aku telah bersumpah demi diri-Ku -firman YAHWEH- bahwa oleh karena engkau telah melakukan hal ini, dan engkau tidak menahan anak laki-lakimu yang tunggal itu, (Kejadian 12:16)



Aku telah bersumpah demi diri-Ku sendiri, firman telah keluar dari mulut-Ku dalam kebenaran, dan tidak akan kembali sehingga kepada-Ku setiap lutut akan bertelut, setiap lidah akan bersumpah, (Yesaya 45:23)



Dan yang melarang setiap umatNYA untuk bersumpah demi apapun juga



Namun Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, entah demi surga karena itu adalah takhta Elohim,

atau demi bumi karena itu adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena itu adalah kota raja yang besar.

Atau, janganlah bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa untuk membuat sehelai rambut pun, putih atau hitam.

Akan tetapi biarlah perkataanmu: Ya, jika ya - Tidak, jika tidak. Dan yang selebihnya, hal itu berasal dari yang jahat. (Matius 5:34-37)

https://buktidansaksi.com/blogs/1432/2014/03/Apakah-ALLAH-Melakukan-Dosa-Syirik-



Nah, mungkin teman-teman muslim akan tertawa terbahak-bahak membaca kebodohan penulis artikel buktidansaksi di atas sebagaimana penulis yang juga tertawa melihat tulisan di atas.
oke kita cukupkan dulu tertawanya, mari kita bahas kebodohan penulis situs buktidansaksi di atas.

pertama: kekeliruan mendasar penulis situs bukti dan saksi di atas adalah menyamakan kedudukan manusia dengan Allah. Why? karena penulis di atas menyamakan aturan yang hanya berlaku bagi manusia, ingat aturan yang hanya berlaku bagi manusia, aturan tersebut malah diposisikan berlaku pula bagi Allah. Logika mereka sudah cacat. kalau seandainya logika atau cara berpikir penulis situs bukti dan saksi ini diterapkan, harusnya Allah juga harus Shalat dong, harus puasa, harus Haji, kalau tidak Allah berdosa? Padahal kewajiban itu hanya berlaku bagi manusia. 

Kedua: kekeliruan dalam mendefenisikan Sumpah antara manusia dan Allah.

Sumpah yang dilakukan manusia selalu untuk menguatkan sesuatu dengan bergantung kepada sesuatu agar sumpahnya dipercaya. semisal si  A mengatakan saya bersumpah demi Tuhan, Si A dengan seyakin-yakinnya menggantungkan keyakinanya kepada Tuhan agar orang yang mendengar sumpahnya percaya padanya.
seperti halnya kepada Pohon, berhala, bintang-bintang yang dianggap punya kekuatan. Bahkan dalam keadaan bercanda pun sumpah bagi manusia tetap saja bergantung pada sesuatu. Semisal ucapan bercanda "sumpah disamber gledek".  Di sini sudah terbaca kalau ia bohong nanti kena sambar petir. begitulah kira-kira maksudnya.

Nah bagi Allah yang bersumpah dalam Al-Qur'an demi Makhluk-Nya, silahkan anda cek satu persatu, bagian mana Allah bersumpah seperti manusia yang menggantungkan keinginannya pada sesuatu yang diyakininya?

1. “Demi Al Quran yang penuh hikmah” (Qs Yaasin 36:2) ayat selanjutnya: Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,  (yang berada) diatas jalan yang lurus, ayat 3-4.
bagian mana Allah bergantung kepada Al-Qur'an ? apakah sama dengan sumpah manusia, demi Tuhan saya bukan pelakunya, Demi Tuhan saya mencintaimu dts?

2. “Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan.” (Qs Shaad 38:1) ayat selanjunya: 2. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. 3. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (ayat 2-3) 
Pertanyaanya: bagian mana Allah menggantungkan diri-Nya? samakah posisi Allah dengan sumpah manusia demi Tuhan aku rindu padamu? demi Tuhan aku bukan pelakunya?

3. “Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan” (Qs Az Zukruf 43:2) ayat selanjutnya:  Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). 4. Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. 
 (ayat 3-4)
Lagi-lagi kami bertanya: apakah sama posisi Sumpah Allah dengan sumpah manusia yang menggantungkan sesuatu ? aku melakukan ini demi kamu, demi Tuhan aku tidak berbohong?

4. “Demi Al Quran yang sangat mulia.” (Qs Qaaf 50:1) ayat selanjutnya: 2. (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir :"Ini adalah suatu yang amat ajaib." 

Di sini sama saja, tidak ada satupun posisi Allah menggantungkan perkataan-Nya pada objek dalam sumpah-Nya.

sebenarnya tidak perlu repot-repot mencari dan mengecek satu persatu. karena sampai semuanya dibuka pun tidak akan ada yang sama antara sumpah Allah kepada Makhluk-Nya dengan sumpah yang dilakukan manusia.

oleh karena itu, sumpah dalam Al-Qur'an bukan bermakna sumpah seperti yang dilakukan manusia, tetapi lebih bermakna sebagai keindahan susunan Al-Qur'an, yang membuat pendengarnya akan bertanya-tanya apa yang akan dibaca atau diucapkan setelah kalimat sumpah itu diucapkan.

Bagaimana dengan Sumpah Tuhan dalam Alkitab?

Di atas penulis situs buktidansaksi lagi-lagi berdusta mengatakan bahwa Tuhan dalam Alkitab tidak pernah bersumpah kepada ciptaan-Nya selain kepada Diri-Nya sendiri.

Ini adalah sebuah kedustaan karena Alkitab malah memberitakan Tuhan bersumpah kepada makhluk-Nya

Amos 8: 7 TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!

Malah disini Tuhan bersumpah seperti manusia bersumpah/ berjanji.

nah sekarang Kitab siapakah yang sejujurnya memberitakan Tuhan bersumpah kepada makhluk-Nya sebagaimana mansuia bersumpah kepada Tuhan?

Kesimpulan

1. Kewajiban atau larangan yang berlaku hanya untuk manusia, hanya berlaku untuk manusia, tidak kepada lainnya semisal kepada hewan. Apalagi kepada Allah. Demikian pula hak Allah tentu tidak bisa menjadi Hak manusia.

2. Berlakunya syirik bagi manusia yang bersumpah kepada selain Allah hanya berlaku bagi manusia, bukan terhadap selain manusia semisal binatang, apalagi kepada Allah.

3. Sumpah bagi Manusia semata-mata manusia itu menggantungkan dirinya kepada sebuah objek yang dianggap mampu membuat orang lain percaya padanya. Sementara Allah tidak.

4. Sumpah Allah dalam Al-Qur'an bukanlah sumpah seperti manusia, akan tetapi sumpah yang merupakan bagian dari keindahan susunan balaghah Al-Qur'an. Tidak ada kaitannya dengan sumpah manusia kepada selain Allah.

5. Terbukti menurut Alkitab, Tuhan dalam Alkitab bersumpah / berjanji dengan menggantungkan sumpahnya kepada makhluk ciptaanya sendiri yaitu kebanggaan Ya'kub.

Tanggapan Untuk Situs IsadanIslam(dot)com Muslim dan Kristen Minta, "Tunjukkanlah Saya Jalan Ke Sorga!"

Staff IDI tidak pernah bersikap jujur sama sekali dalam setiap tulisannya, selalu saja ada upaya untuk menyesatkan pembacanya. Kali ini Staff IDI mencoba menyesatkan pembaca dengan menyatakan Al-Qur'an atau Allah tidak memberitakan jalan Ke Surga seperti apa, serta Alkitab disebut Al-Qur'an sebagai kitab penyempurna dan lain-lain. Memang sudah menjadi kebiasan yang mendarah daging, seperti itu lah Staff IDI. sebelumnya kami kutipkan tulisannya berikut:

 Muslim dan Kristen Minta, "Tunjukkanlah Saya Jalan Ke Sorga!"
 tangga-ke-surga“Insya Alah Bila Allah Mengijinkan!” Kalimat ini sudah tidak asing lagi di telinga. Umat Muslim sering sekali mengucapkannya.
Ungkapan di atas secara tidak langsung menyatakan tidak ada jaminan untuk masuk sorga. Semua adalah takdir Allah. Sekalipun dalam prakteknya umat beragama dituntut agar taat pada Allah serta melakukan perbuatan baik. Namun, tetap saja tidak dapat diberi jaminan. Semua hanya “mudah-mudahan.”
Benarkah Pahala adalah Tiket ke Surga?
Perbuatan baik dapat dijadikan penjamin untuk menikmati surga. Setidaknya inilah yang dikatakan dalam Al-Quran, “. . . Dia [Allah] memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)” (Qs 53:31). Perbuatan baik dipandang sebagai jalan menuju surga. Harapannya, membuat seimbang neraca di hari penghakiman.
Bagaimana Muhammad memberi jawaban terhadap ayat di atas?  “Mendekatlah dan berusahalah benar! Ketahuilah bahwa setiap orang diantara kalian tidak bakal selamat karena amalnya. Para sahabat bertanya “Ya Rasullah, tidak juga engkau? Rasullulah berkata: “Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahiku dengan rahmat dan karunia-Nya” (Hadis Sohih Muslim  KH. Adib Basri Mustafa Hal. 819 No 76).
Bila Al-Quran dan Muhammad tidak dapat memberikan jawaban akan surga, lalu bagaimana cara menuju ke surga? Jelas sorga adalah tujuan akhir manusia beragama, bukan?  “Tunjukilah kami jalan yang lurus!” bukankah ini yang selalu diserukan umat Muslim?
Al-Quran Mengakui Alkitab adalah Kitab Penyempurna
Ketika dalam doa-doa kita selalu menyerukan agar diberi petunjuk menuju jalan yang lurus, mengapa kita masih ragu-ragu? Al-Quran memberikan jawaban atas sebuah teka-teki ini, sebab jalan lurus itu telah ditunjukkan dalam Kitab Allah. Al-Quran berkata seharusnya kita mengikuti jalan Kitab Allah dan tidak mengikuti jalan-jalan lain agar tidak tersesat.
Bahkan Kitab Allah (Alkitab) diberikan sebagai kitab penyempurna. Ia menjelaskan segala sesuatu sebagai petunjuk dan rahmat. Agar  manusia dapat beriman dan bertakwa kepada Allah. Setidaknya inilah yang terdapat dalam Qs 6:153-154.
Mengikuti Apa yang Dikatakan Al-Quran
Untuk mengetahui jalan menuju surga, sebaiknya kita mengikuti apa yang telah disarankan Al-Quran dalam Qs 6:153-154, bahwa hanya dalam kitab penyempurnalah ada jalan menuju surga. Kitab penyempurna itu adalah Alkitab.
Sangat benar apa yang dikatakan Al-Quran bahwa Kitab Allah memberikan jawaban atas pergulatan yang dialami manusia. Jika Anda hendak menuju surga tentu harus mengetahui Sang pemilik surga itu, bukan?
Isa Al-Masih bersabda “ Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Injil, Rasul Besar Matius 28:18). Bahkan Isa Al-Masih adalah jalan menuju kehidupan kekal, seperti yang pernah Ia katakan “…Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6).
Dengan demikian dapatkah  amal ibadah dijadikan tiket menuju sorga? Inilah yang seharusnya menjadi pemikiran bagi umat Muslim. Jika saudara hendak menikmati sorga kekal, hiduplah dalam jalan keselamatan bersama Isa Al-Masih. Ini adalah jawaban mutlak. Anda harus membuktikannya!
Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
http://www.isadanislam.com/keselamatan/muslim-dan-kristen-minta-tunjukkanlah-saya-jalan-ke-sorga


Di atas teman-teman bisa membaca dengan jelas bagaimana Staff IDI memplintir kata-kata dalam Al-Qur'an untuk menipu para pembacanya. 

TIKET JALAN KE SURGA JELAS, YAITU ISLAM, BUKAN KRISTEN DAN YAHUDI.

Jika Staff IDI mempersoalkan dan mengatakan bahwa Allah tidak memberitakan kepastian jalan ke Surga dengan jelas, tentu saja ini penipuan, Dusta Staff IDI, sebab Allah sudah jauh-jauh di awal Al-Qur'an menerangkan tentang jalan Lurus yang akan sampai ke Surga jika mengikuti jalan yang Lurus, bahkan ayat ini dibaca berulang-ulang sebanyak 17 kali dalam Shalat Lima Waktu sehari semalam.  
Yaitu: "Tunjukilah Kami jalan yang Lurus, Yaitu Jalan Orang-orang yang engkau Beri Nikmat atas mereka, Bukan Jalan orang-orang yang engkau murkai (Yahudi), dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat (Kristen). Qs. Al-Fatihah 1:6-7 

Kebohongan-kebohongan Sepertinya dianggap biasa oleh Staff IDI, mungkin itulah fakta dan bukti kalau Agama staff IDI memang agama kebohongan dan dusta. Sehingga kedustaan dianggap biasa saja oleh mereka.
Dalam Islam Jika ingin masuk surga ikutilah Islam, Konsep ajaran Islam mengenai surga sangat jelas, Islam menekankan Keyakinan (Akidah), Amal serta Lisan (pernyataan) maka tolong jangan diplintir, saat Al-Qur'an atau Hadits mengajarkan atau menyatakan Surga tidak tergantung dengan amal, jangan diplintir. Karena masuk surga tidak sekedar amal, tapi juga tergantung Iman, lisan dan perbuatan (amal). seolah-olah tidak ada tiket untuk ke Surga menurut Islam.

AL-QUR'AN MENGAKUI ALKITAB SEBAGAI KITAB PENYEMPURNA?

Karena agamanya dibangun atas kedustaan, maka wajar saja Staff IDI memplintir Al-Qur'an untuk mendukung kebohongan mereka.
Al-Qur'an tidak pernah menyebut Alkitab sebagai penyempurna kecuali Injil yang menjadi penyempurna Taurat, namun kemudian Injil pun disempurnakan dan dinasakh oleh Al-Qur'an.

ayat yang di catut nomornya oleh Staff IDI pasti takut ditampilkan, karena jika ditampilkan secara utuh pasti akan ketahuan dustanya.

Qs. 6:153-155
153. dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
154. Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. 
155. Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. 

Nah Pada bagian manakah Alkitab disebutkan sebagai penyempurna di sana? selain sebagai penyempurna nikmat untuk berbuat kebaikan di masa itu?

 MENGIKUTI YESUS ADALAH MENGIKUTI AJARANNYA BUKAN MENGAKUI DIRINYA SEABGAI TUHAN.

Jalan keselamatan yang diajarkan oleh Yesus / Isa bukan mengakui dirinya sebagai Tuhan, tapi mengikuti ajarannya, yaitu menyatakan keesaan ALLAH. mengakui dirinya sebagai Nabi Allah, Rasul Allah. Hamba Allah. karena Yesus tidak pernah mengatakan dirinya Tuhan, tidak ada bukti dirinya Tuhan. Bahkan Yesus di masa itu dikenal oleh masyarakat, dan para Murid sebagai Nabi Allah. dipanggil Tuan, bukan Tuhan.
Oleh karena itu adalah kesesatan yang nyata jika mengajak kepada Yesus tapi masuk Kristen. Karena Kristen tidak mengikuti ajaran Paulus.

Wallahu A'lam Bish Shawab.

Vatikan Setujui Pengunduran Diri Uskup ‘Bling-Bling’ Jerman

Gaya hidup mewah Tebartz-van Elst sudah menjadi rahasia umum di Jerman, negara di mana rakyatnya membayar pajak gereja kepada negara.
Paus Fransiskus secara resmi telah menerima pengunduran diri seorang pejabat senior Gereja Katolik Jerman, yang dibebastugakan karena menjalani gaya hidup bermewah-mewahan.
Hal itu diumumkan oleh Vatikan hari Rabu (26/3/2014), lansir BBC.
Uskup Limburg, Franz-Peter Tebartz-van Elst, dituduh menjalani gaya hidup mewah di mana dia menghabiskan lebih dari 31 juta eurountuk merenovasi rumah dinasnya.
Rohaniwan gereja Katolik yang dijuluki uskup “bling-bling” oleh media itu mengajukan pengunduran diri ketika kasusnya mencuat Oktober 2013.
Menanggapi permohonan pengunduran diri Tebartz-van Elst tersebut, Paus Fransiskus menghentikan sementara tugasnya sebagai uskup dan memerintahkan sebuah komisi gereja untuk menyelidiki kasusnya.
Hari Rabu (26/3/2014) Vatikan mengatakan, penyelidikan atas Tebartz-van Elst mendapati bahwa rohaniwan senior itu tidak lagi dapat memimpin komunitas gerejanya.
Vatikan tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana nasib Tebartz-van Elst selanjutnya, tetapi mengatakan bahwa rohaniwan bergaya hidup mewah itu akan mendapatkan posisi baru nanti pada waktunya.
Uskup Manfred Grothe ditunjuk untuk memimpin keuskupan Limburg.
Gaya hidup mewah Tebartz-van Elst sudah menjadi rahasia umum di Jerman,  negara di mana rakyatnya membayar pajak gereja kepada negara. Tahun 2012 saja pajak gereja yang berhasil dikumpulkan mencapai 5,2 milyar euro untuk gereja Katolik dan 4,6 milyar euro untuk gereja Protestan.
Selain disorot soal biaya renovasi rumah dinasnya yang kelewat batas dari harga normal 5,5 juta euro menjadi lebih dari 31 juta euro, rohaniwan Katolik itu juga dikecam publik karena naik penerbangan kelas satu dalam perjalanan ke India untuk mengunjungi orang-orang miskin.
Lima abad silam di Jerman, Marthin Luther King melancarkan gerakan reformasi atas gereja, karena banyaknya pelanggaran yang terjadi di lingkungan gereja.*

Situs Bacabacaquran(dot)com Alhamdulillah Tidak Bisa Diakses Lagi

Alhamdulillah, salah satu Situs Penghujat Islam yaitu situs Bacabacaquran.com belum lama ini telah tewas tidak bisa diakses lagi. Situs yang cukup terkenal menyebarkan fitnah terhadap Islam yang juga merupakan kepanjangan dari situs Faithfreedom dan Siaran Al-Hayat milik Kristen akhirnya tidak bisa diakses lagi. Namun kita tidak bisa terlalu bersuka ria, karena Sudah mafhum, sudah menjadi hal yang wajar, orang kafir yang membenci Islam tak akan berhenti untuk menyerang Islam. Sangat mungkin terjadi akan bermunculan situs-situs penghujat Islam lainnya. 
 Semoga Allah memberikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman untuk terus berjuang dan berjihad di Jalan-Nya, serta memberi Hidayah kepada orang-orang yang Kafir pada-Nya untuk kembali ke Jalan-Nya Amin.

Menjawab Fitnah Nabi Muhammad Menggauli Kambing?



Hujatan tentang Nabi Muhammad Saw menggauli kambing sudah sangat terkenal dan banyak bererdar di situs-situs penghujat Islam semisal Faithfreedom, di Twitter hingga Facebook. Hujatan ini bersumber dari sebuah Hadits yang dikutip entah dari mana, saya sendiri berusaha mencari sumber Hadits tersebut namun tidak saya temukan. Sehingga saya berkesimpulan Hadits tersebut adalah hadits yang sengaja di pelintir terjemahannya untuk menfitnah pribadi Rasulullah Saw.

Hadits tersebut bersumber dari sebuah terjemahan dalam bahasa Inggris berikut ini:
Al-Bukhari volume 7, book 71, number 660:
Narated Aisha, Magic was worked on Allah's Apostle so that he used to think he having sex with his wifes, however in fact he was actually having sex with his goat.
Terjemahannya:
Diceritakan oleh Aisha, ketika Rasulullah sedang dipengaruhi mistik beliau sering mengira sedang menggauli isteri-isterinya, padahal sebenarnya beliau sedang MENGGAULI KAMBING.

Saya mencoba melakukan pencarian untuk mengecek Hadits tersebut di atas, namun tidak saya temukan dalam Shahih Bukhari.  Sehingga saya menyimpulkan Hadits tersebut sengaja diedit, dan diplintir terjemahannya untuk menipu umat Islam.
Selain itu saya menemukan Hadits bersumber dari Bukhari yang isnya persis yang bicara tentang peristiwa disihirnya Nabi Muhammad saw. Namun tidak terdapat kata-kata menggauli kambing seperti fitnahan Penghujat Islam di atas.
KITAB BUKHARI
HADIST NO – 5323
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُيَيْنَةَ يَقُولُ أَوَّلُ مَنْ حَدَّثَنَا بِهِ ابْنُ جُرَيْجٍ يَقُولُ حَدَّثَنِي آلُ عُرْوَةَ عَنْ عُرْوَةَ فَسَأَلْتُ هِشَامًا عَنْهُ فَحَدَّثَنَا عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُحِرَ حَتَّى كَانَ يَرَى أَنَّهُ يَأْتِي النِّسَاءَ وَلَا يَأْتِيهِنَّ قَالَ سُفْيَانُ وَهَذَا أَشَدُّ مَا يَكُونُ مِنْ السِّحْرِ إِذَا كَانَ كَذَا فَقَالَ يَا عَائِشَةُ أَعَلِمْتِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ أَتَانِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلْآخَرِ مَا بَالُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ قَالَ وَمَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ أَعْصَمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ حَلِيفٌ لِيَهُودَ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ وَفِيمَ قَالَ فِي مُشْطٍ وَمُشَاقَةٍ قَالَ وَأَيْنَ قَالَ فِي جُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ تَحْتَ رَاعُوفَةٍ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ قَالَتْ فَأَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبِئْرَ حَتَّى اسْتَخْرَجَهُ فَقَالَ هَذِهِ الْبِئْرُ الَّتِي أُرِيتُهَا وَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ وَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ قَالَ فَاسْتُخْرِجَ قَالَتْ فَقُلْتُ أَفَلَا أَيْ تَنَشَّرْتَ فَقَالَ أَمَّا اللَّهُ فَقَدْ شَفَانِي وَأَكْرَهُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ شَرًّا
(BUKHARI - 5323) : Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad dia berkata; saya mendengar Ibnu 'Uyainah berkata; orang yang pertama kali menceritakan kepada kami adalah Ibnu Juraij, dia berkata; telah menceritakan kepadaku keluarga 'Urwah dari 'Urwah, lalu aku bertanya kepada Hisyam tentang haditsnya, maka dia menceritakannya kepada kami dari Ayahnya dari 'Aisyah radliallahu 'anha dia berkata; bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah disihir hingga seakan-akan beliau telah mendatangi para isterinya, padahal beliau tidak mendatanginya, -Sufyan mengatakan; "Bahwa keadaan seperti ini termasuk sihir yang paling berat- kemudian beliau bersabda: "Wahai Aisyah, apakah kamu mengetahui bahwa Allah telah memberikan fatwa (menghukumi) dengan apa yang telah aku fatwakan (hukumi)? Dua orang laki-laki telah datang kepadaku, lalu salah seorang dari keduanya duduk di atas kepalaku dan satunya lagi di kakiku. Kemudian seorang yang berada di kepalaku berkata kepada yang satunya; "Kenapa laki-laki ini?" temannya menjawab; "Terkena sihir.' salah seorang darinya bertanya; "Siapakah yang menyihirnya?" temannya menjawab; "Lubid bin Al A'sham, laki-laki dari Bani Zuraiq, seorang munafik dan menjadi sekutu orang-orang Yahudi." Salah seorang darinya bertanya; "Dengan benda apakah dia menyihir?" temannya menjawab; "Dengan rambut yang terjatuh ketika disisir." Salah seorang darinya bertanya; "Di manakah benda itu diletakkan?" temannya menjawab; "Di mayang kurma yang diletakkan di bawah batu dalam sumur Dzarwan." Aisyah berkata; "Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi sumur tersebut hingga beliau dapat mengeluarkan barang tersebut, lalu beliau bersabda: "Ini adalah sumur yang diperlihatkan padaku, seakan-akan airnya berubah bagaikan rendaman pohon inai dan seakan-akan pohon kurmanya bagaikan kepala syetan." Abu Hisyam berkata; "apakah beliau meminta barangnya dikeluarkan?" Aisyah berkata; Lalu aku bertanya; "Apakah anda tidak meruqyahnya?" beliau bersabda: "Tidak, sesungguhnya Allah telah menyembuhkanku dan aku hanya tidak suka memberikan kesan buruk kepada orang lain dari peristiwa itu."

Dalam Hadits Lain yang juga bersumber dari Bukhari No 5603
عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَأْتِي أَهْلَهُ وَلَا يَأْتِي قَالَتْ عَائِشَةُ فَقَالَ لِي ذَاتَ يَوْمٍ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِي أَمْرٍ اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ أَتَانِي رَجُلَانِ فَجَلَسَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رِجْلَيَّ وَالْآخَرُ عِنْدَ رَأْسِي فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِي مَا بَالُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ يَعْنِي مَسْحُورًا قَالَ وَمَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ أَعْصَمَ قَالَ وَفِيمَ قَالَ فِي جُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ فِي مُشْطٍ وَمُشَاقَةٍ تَحْتَ رَعُوفَةٍ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَذِهِ الْبِئْرُ الَّتِي أُرِيتُهَا كَأَنَّ رُءُوسَ نَخْلِهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ وَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ فَأَمَرَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُخْرِجَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَهَلَّا تَعْنِي تَنَشَّرْتَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا اللَّهُ فَقَدْ شَفَانِي وَأَمَّا أَنَا فَأَكْرَهُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا قَالَتْ وَلَبِيدُ بْنُ أَعْصَمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ حَلِيفٌ لِيَهُودَ

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Urwah dari Ayahnya dari Aisyah radliallahu 'anha diaberkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetap termenung seperti ini dan ini, sehingga beliau dibuat seakan-akan telah melakukan sesuatu terhadap isterinya padahal beliau tidak melakukannya." Aisyah melanjutkan; "Sampai di suatu hari beliau bersabda: "Wahai Aisyah, apakah kamu telah merasakan bahwa Allah telah memberikan fatwa (menghukumi) dengan apa yang telah aku fatwakan (hukumi)? Dua orang laki-laki telah datang kepadaku, lalu salah seorang dari keduanya duduk di kakiku dan satunya lagi di atas kepalaku. Kemudian orang yang berada di kakiku berkata kepada orang yang berada di atas kepalaku; "Kenapakah laki-laki ini?" temannya menjawab; "Dia terkena sihir.' Salah seorang darinya bertanya; "Siapakah yang menyihirnya?" temannya menjawab; "Labid bin Al A'sham." Salah satunya bertanya; "Dengan benda apakah dia menyihir?" temannya menjawab; "Dengan seladang mayang kurma dan rambut yang terjatuh ketika disisir yang diletakkan di bawah batu dalam sumur Dzarwan." Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya, lalu bersabda: "Inilah sumur yang diperlihatkan kepadaku, seakan-akan pohon kurmanya bagaikan kepala syetan dan seolah-olah airnya berubah bagaikan rendaman pohon inai." Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk mengeluarkannya, kemudian barang tersebut pun dikeluarkan. Aisyah berkata; "aku bertanya; "Wahai Rasulullah, tidakkah anda menjampinya (meruqyahnya)?" maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak, sesungguhnya Allah telah menyembuhkanku dan aku hanya tidak suka memberikan kesan buruk kepada orang lain dari peristiwa itu." Aisyah berkata; "Labid bin A'sham adalah seorang laki-laki dari Bani Zuraiq yang memiliki hubungan dengan orang-orang Yahudi."

Sebenarnya masih banyak Hadits yang senada isinya dengan dua hadits di atas, namun tidak perlu kami tampilkan satu persatu, pembaca dapat mengecek langsung di situs Lidwa.com/app
Dari dua Hadits di atas sudah cukup jelas kedustaan penghujat Islam tersebut, Karena dua hadits di atas bersumber dari Aisyah senada dengan kutipan di atas namun isinya berbeda. Tentu sebuah perkara yang mustahil kita percaya. Selain itu penuduh sama sekali tidak mencantumkan teks bahasa Arab dari Hadits yang mereka kutip sehingga memperjelas kedustaan mereka atas Rasulullah Saw.

Kesimpulan
1. Penuduh telah memalsukan Hadits Bukhari dalam terjemahan Inggrisnya, mengedit isinya untuk menfitnah Nabi Muhammad Saw.
2. Hadits yang dikutip penuduh sama sekali tidak terdapat dalam Kitab Hadits manapun apalagi kitab bukhari.
3. Hadits shahih Bukhari menegaskan bahwa ketika nabi terkena sihir tidak satupun mengatakan Nabi menggauli kambing, tapi seperti mendatangi istrinya, namun sebenarnya tidak.
4. Tuduhan Nabi menggauli Kambing hanyalah fitnah, hujatan tanpa bukti sama sekal.
Wallahu a’lam Bish Shawab.

Al-Qur'an Bermasalah Mengatakan Dapat Melihat Langit Tujuh Lapis dengan Mata Telanjang?


Salah seorang Member Facebook disebuah grup mengatakan Al-Qur'an bermasalah karena menyatakan Langit tujuh lapis bisa dilihat dan diperhatikan. Padahal Langit tidak bisa kita perhatikan dengan mata telanjang. Kesalah pahaman seperti iniadalah perkara yang sangat biasa terjadi, karena ketidak tahuan orang tersebut terhadap Al-Qur'an. ayat yang dipersoalkan tersebut adalah ayat berikut ini:
Firman ALLAH swt 
QS 71 : 15 – 16 : 
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? 
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya

Ayat di atas sama sekali tidak membicarakan memperhatikan langit yang tujuh lapis itu dengan mata telanjang. menurut Tafsir Depag RI,  Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?(QS. 71:15) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul:: Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 15 ْﻢَﻟَﺃ ﺍْﻭَﺮَﺗ َﻒْﻴَﻛ َﻖَﻠَﺧ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻊْﺒَﺳ ٍﺕﺍَﻭﺎَﻤَﺳ ﺎًﻗﺎَﺒِﻃ ) 15 ) Dalam ayat ini Nuh A.S. menyuruh kaumnya memperhatikan langit yang terdiri atas tujuh tingkat. Ayat ini dapat berarti khusus untuk kaum Nuh dan dapat pula berarti umum (untuk seluruh manusia); karena dalam ayat ini terdapat perkataan "alam tarau" (tidakkah kamu perhatikan) Memperhatikan, di sini dengan akal, dengan mempergunakan otak Karena itu cara memperhatikan yang diperintahkan itu adalah dengan cara yang lazim digunakan dalam dunia ilmu pengetahuan. Ayat ini khusus berhubungan dengan kaum Nuh, yang tingkat pengetahuan mereka belum seperti tingkat pengetahuan manusia sekarang. Mereka, dalam memperhatikan segala sesuatu belum lagi mempunyai alat, belum mempunyai metode penyelidikan yang tinggi. Mereka baru mempergunakan pancaindra mereka. Dengan mata mereka melihat langit yang biru kehijau-hijauan yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang berserakan, yang berbeda tinggi rendahnya. Mereka baru mengetahui bahwa langit itu bertingkat-tingkat, seakan-akan bintang- bintang itu merupakan tingkat-tingkatnya. Ayat ini juga berarti umum, ialah bahwa ayat ini ditujukan kepada umat Nabi Muhammad yang telah mempunyai tingkat kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang jauh melebihi kaum Nuh. Kepada manusia sekarangpun diperintahkan merenungkan dan memikirkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang ada di langit dan di bumi, agar dapat menambah kuat iman kepada Allah SWT. 

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman: ﻭﺃ ﻢﻟ ﺮﻳ ﻦﻳﺬﻟﺍ ﺍﻭﺮﻔﻛ ﻥﺃ ﺕﺍﻭﺎﻤﺴﻟﺍ ﺽﺭﻷﺍﻭ ﺎﺘﻧﺎﻛ ﺎﻘﺗﺭ ﺎﻤﻫﺎﻨﻘﺘﻔﻓ ﺎﻨﻠﻌﺟﻭ ﻦﻣ ﺀﺎﻤﻟﺍ ﻞﻛ ﺀﻲﺷ ﻲﺣ ﻼﻓﺃ ﻥﻮﻨﻣﺆﻳ Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antarakeduanya. Dan dari air. Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?". (Q.S. Al-Anbiya': 30) 
Dari ayat ini, dipahami bahwa perintah memikirkan dan merenungkan kekuasaan dan kebesaran Allah itu tertuju kepada seluruh manusia, baik yang tinggi tingkat pengetahuannya maupun yang rendah tingkat pengetahuannya. Seluruh manusia sanggup dan mampu melakukannya, sehingga dengan memperhatikan itu menambah kuat imannya kepada Allah. Tuhan Yang Maha Esa Ayat ini juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara menentukan agama yang diridai Allah di antara agama-agama yang ada. Caranya ialah dengan merenungkan kejadian alam ini kita akan sampai kepada penciptanya. Pencipta alam ini adalah Yang Maha Tahu, dan Maha Kuasa. Mustahil pencipta alam ini bodoh, tidak mengetahui mana yang mudarat, mana yang manfaat. Dialah yang menentukan segala sesuatu. Dia adalah Zat yang Maha Esa, tidak berserikat dengan sesuatupun. Karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, maka agama yang benar adalah agama yang mengakui keesaan Tuhan dan mengakui bahwa ibadat yang benar ialah ibadat yang langsung ditujukan kepada-Nya, tidak menggunakan perantara, seperti minta rezeki kepada Allah dengan perantaraan kuburan seseorang keramat, dan sebagainya. 

Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?(QS. 71:16) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul:: Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 16 َﻞَﻌَﺟَﻭ َﺮَﻤَﻘْﻟﺍ َّﻦِﻬﻴِﻓ ﺍًﺭﻮُﻧ ﺎًﺟﺍَﺮِﺳ َﺲْﻤَّﺸﻟﺍ َﻞَﻌَﺟَﻭ ) 16 ) Nabi Nuh telah menerangkan kepada kaumnya bahwa Allah SWT yang hendak disembah itu menciptakan bulan sebagai cahaya bagi manusia dan matahari sebagai pelita. Dari susunan ini dipahami bahwa: 
1. Keadaan matahari berbeda dengan keadaan bulan; baik kedudukannya di antara planet, sifat cahayanya, maupun faedah cahayanya. 
2. Matahari termasuk induk planet, yang mempunyai anak-anak planet dan bulan termasuk anak planet matahari yang beredar mengitarinya. 
3. Matahari memancarkan sinar sendiri, sedang bulan mendapat cahaya dari matahari. Cahaya yang dipancarkan bulan berasal dari sinar matahari yang lebih dipantulkannya ke bumi. Karena itu sinar matahari lebih keras dan terang dari cahaya bulan. 
4. Kedua sinar itu mempunyai faedah bagi manusia. tetapi bentuk faedahnya berbeda- beda. 
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: ﻮﻫ ﻱﺬﻟﺍ ﻞﻌﺟ ﺲﻤﺸﻟﺍ ﺀﺎﻴﺿ ﺮﻤﻘﻟﺍﻭ ﺍﺭﻮﻧ ﻩﺭﺪﻗﻭ ﻝﺯﺎﻨﻣ ﺍﻮﻤﻠﻌﺘﻟ ﺩﺪﻋ ﻦﻴﻨﺴﻟﺍ ﺏﺎﺴﺤﻟﺍﻭ ﺎﻣ ﻖﻠﺧ ﻪﻠﻟﺍ ﻚﻟﺫ ﻻﺇ ﻖﺤﻟﺎﺑ ﻞﺼﻔﻳ ﺕﺎﻳﻵﺍ ﻥﻮﻤﻠﻌﻳ ﻡﻮﻘﻟ Artinya: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang yang mengetahui"

Maha Benar Allah dengan segala Firmannya.
Untuk Mempermudah Pencarian Artikel Yang Anda Inginkan Gunakan Mesin Pencari Di Bawah ini:

Video