Slider Top

[6][true][slider-top-big][Slider Top]
You are here: Home / , , , Doktrin '100% Tuhan 100% Manusia' Darimana Asalnya?

Doktrin '100% Tuhan 100% Manusia' Darimana Asalnya?

| No comment

Hj Irena Handono, Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center
Dalam  ilmu  Kristologi  tidak ada penjelasan yang paten, tidak  ada  jawaban  yang pasti dan tiap orang Kristen selalu  berbeda  tentang bagaimana Yesus menjadi Tuhan.
Novel  Da  Vinci  Code  yang  membongkar  sejarah Yesus  dan  menyejajarkannya  dengan  manusia  (bukan  tuhan) yang  juga  makan,  minum,  mempunyai istri  dan  mempunyai  keturunan,  mengundang kemarahan besar pihak Vatikan. Di  Indonesia,  demi  menjaga  keutuhan iman Kristen, kemudian muncullah berbagai  judul  buku  yang  menentang, membantah bahkan ada yang cenderung 'lebay' seperti judul “Da Peci Code”.
Dan akhirnya kehebohan informasi sejarah yang dimuat dalam Novel Da Vinci Code pun tenggelam. Namun demikian, dalam  sebuah  wawancara  NatGeo  terhadap  seorang  Pendeta  P  Mc  Brien tentang Novel Da Vinci Code, ia menjawab, “Ya,Yesus memang menikah. Dan pernikahan bukan hal yang dosa.”
Nat Geo bertanya, “Apakah hal itu tidak  membahayakan  eksistensi  ketuhanannya?”
Pendeta  tersebut  menjawab,  “No, absolutely  not!  Yesus  is  truly  God,  truly human!”  (Yesus  100%  Tuhan  sekaligus 100% manusia)
Inilah yang mau kita bahas dalam tulisan  kali  ini.  Dari  segala  sisi  analisa rasional dogma ini sangat sulit dicerna. Pernahkan  Yesus  sendiri  mengatakan dalam Bibel, bahwa dirinya adalah 100% Tuhan,  100%  Manusia??  Tidak  pernah! Justru  sebaliknya  dalam  Bibel  banyak sekali ayat-ayat yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah seorang utusan, seorang manusia.
Lalu  kapan  dogma  Yesus  100% Tuhan sekaligus 100% manusia ditetapkan?  Sepeninggal  Yesus,  orang-orang Kristen  mayoritas  masih  beranggapan bahwa Yesus adalah manusia. Namun ada juga sekte 'menyimpang' yang dipimpin oleh Paulus yang menuhankan Yesus dan menganggap Paulus sebagai Rasul. Sekte ini mampu mendekat pada poros kekuasaan  para  penguasa-penguasa  Romawi yang mengikuti Paganisme.
Akhirnya  kelompok  'menyimpang' yang minoritas ini mampu mendominasi Konsili  yang  diadakan  di  Nicea  tahun 325M.  Justru  kelompok  mayoritas  yang dipimpin Arius dikalahkan, sebagian diusir keluar  dari  konsili.  Arius  mendapatkan hukuman dari Kaisar, dan pahamnya yang benar tersebut malah dianggap sebagai paham sesat yang dianggap membahayakan keutuhan imperium Romawi.
Ternyata tidak semudah itu menjadikan Yesus yang seorang manusia menjadi tuhan  dalam  satu  masa  konsili.  Pertentangan-pertentangan terus terjadi hingga menimbulkan  huru-hara  di  berbagai daerah. Akhirnya diselenggarakan Konsili Konstantinopel yang Pertama tahun 381 M dan Konsili Efesus pada tahun 431 M. Konsili  Efesus  menjawab  kebingungan, jika  Yesus  adalah  tuhan  maka  ibunya, Maria, sebagai apa? Dan konsili menetapkan doktrin bahwa Bunda Maria sebagai Bunda Allah (theotokos).
Konsili Chalcedon tahun 451 M. Di konsili  inilah  ditetapkan  doktrin  yang mengatakan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh  Allah  dan  sungguh-sungguh manusia, Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia. Sedangkan gereja-gereja timur yang berpusat di Alexandria masih mengikuti paham Arianisme bahwa Yesus adalah manusia dan bukan tuhan. Kaisar Romawi mengucilkan gereja-gereja timur dan memberi kekuasaan besar terhadap gereja  Bizantium. Demikian  bunyi  ketetapan di Konsili di Chalcedon, Oktober 451 M  yang  disponsori  oleh  Kaisar  Romawi saat itu, Marcion.
”Sesuai dengan ajaran para pemimpin gereja, kami bersaksi dengan suara bulat bahwa satu-satunya Anak, Tuan kita Yesus  Kristus, adalah Tuhan  sempurna (100%)  dan  manusia  yang  sempurna (100%), Tuhan  yang  sesungguhnya  dan manusia yang sesungguhnya.”
Prof. John Hick dalam bukunya The Myth  of  God  Incarnate  mengatakan: “Bahwa  Yesus  adalah  inkarnasi  Tuhan secara harfiah tidak benar, karena secara harfiah tidak ada artinya dan hanya dapat diterapkan  kepada  Yesus  dalam  mitos yang fungsinya mirip seperti pandangan tentang  raja  sebagai  anak  dewa  dalam legenda.”
Huston smith, pakar perbandingan agama dalam bukunya The World's Religion hal.  340  mengomentari  ke-dwisifat-an Yesus: “Untuk sepenuhnya ilahi, berarti dia harus  bebas  dari  segala  keterbatasan manusia.  Kalau  dia  memiliki  satu kelemahan  manusia,  berarti  dia  bukan Tuhan.  Tetapi  berdasarkan  kredo,  dia (Yesus)  memiliki  segala  keterbatasan sebagai seorang manusia. Oleh sebab itu mana mungkin dia Tuhan?”
Namun walaupun ajaran yang tidak masuk akal ini mendapat tantangan dari ilmuwan dan pakar Alkitab, gereja tetap mempertahankannya mati-matian karena umat Kristiani sudah telanjur menerima bahwa dua kodrat Yesus merupakan syarat untuk  menjadikannya  sebagai  Juru Selamat sesuai agama pagan Yunani.
Anak  Allah  (Tuhan)  adalah  Logos-nya filsafat Yunani. Gelar anak Tuhan ini kemudian digunakan oleh Paulus untuk Yesus.  Selanjutnya  penyalin  Injil  yang umumnya  adalah  pengikut  Paulus  juga ikut-ikutan menyebut Yesus sebagai Anak Allah (Tuhan) dengan menambahkannya ke dalam ayat-ayat Injil.
“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus,  anak  Allah“  (Markus  1:1)  ”Jawabnya : “Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah” (Kis. 8:37). Kata “Anak Allah” dari kedua ayat tersebut di atas tidak ada dalam teks Injil Markus maupun Kisah Para Rasul yang diperkirakan ditulis pada tahun  325  M.  Kata “Anak  Allah”  dalam kedua kitab diatas, baru diselipkan di akhir abad ke IV atau awal abad ke V.[]

Kami sangat menghargai komentar pembaca sekalian, baik saran, kritik, bantahan dan lain sebagainya. 
Bagi pembaca yang ingin berkomentar silahkan untuk login dengan mengklik Login di Tombol Login komentar dan pilih akun yang ingin anda gunakan untuk Login, Bisa dengan Facebook, Twitter, Gmail dsb. 
 peraturan komentar: 
1. komentar pendek atau panjang tidak masalah, baik lebih dari satu kolom juga tidak apa-apa. 
2. komentar menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar tidak berbelit-belit. 
3. tidak menggunakan kata-kata kotor, hujat atau caci maki
4. langsung pada topik permasalahan