Slider Top

[6][true][slider-top-big][Slider Top]
Cari Artikel di Sini

'Berbohong' Yang Diperbolehkan Dalam Islam

| 1 Comment


Pada dasarnya Islam melarang seorang muslim untuk berbohong. Bahkan berbohong dalam Islam dipandang sebagai salah satu sifat kekufuran dan kemunafikan. Di dalam Al-Qur'an Alloh SWT berfirman:

"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah mereka yang tidak mengimani (mempercayai) tanda-tanda kekuasaan Alloh. Mereka adalah kaum pendusta." (An-Nahl: 105)

Rasulullah SAW pun menggolongkan mereka yang berdusta termasuk orang-orang yang memiliki karekteristik kemunafikan. Beliau bersabda:

"Empat hal jika semuanya ada pada seseorang ia adalah munafik semurni-murninya munafik. Jika satu di antara yang empat itu ada pada dirinya maka padanya terdapat saru sifat kemunafikan hingga ia dapat membuangnya; Jika berbicara ia berduta, jika diberi amanah ia khianat, jika berjanji ia melanggar dan jika membantah ia berbohong." (HR. Bukhori Muslim)

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya". (QS. 17 : 36)

"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir". (QS. 50 : 18)

"Kejujuran menuntun pada kebajikan, kebajikan dapat menghantarkan ke surga. Sesungguhnya kebohongan itu menyeret manusia pada kejahatan kejahatan itu dapat menyeret pada neraka." (berbohong hukumnya haram) (HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud)

"Sesungguhnya Allah tidak menuntun seorangpun yang melanggar dan membohong." (QS:40:28)

Dalam Hadis, Muhammad dikutip sebagai berikut mengatakan, "Jujurlah kalian karena kejujuran membawa kebaikan dan kebaikan mengantar ke surga. Hati-hati dengan kepalsuan karena ini mengantar kepada ketidakmoralan dan ketidakmoralan mengantar ke Neraka."

Tetapi hanya ini yang akan dikatakan Muslim kepada NON-MUSLIM. Selebihnya mereka
sembunyikan.

Buku "The spirit of Islam," oleh pakar Muslim, Afif A. Tabbarah ditulis untuk mem-promosikan Islam. Tapi lihat hal 247 "Berbohong tidak selalu buruk; ada kalanya dimana berbohong lebih bermanfaat dan lebih baik bagi kesejahteraan umum dan penyelesaian perkara. Menurut Nabi: 'Ia bukan orang curang (lewat berbohong) kalau menyelesaikan perkara, mendukung hal2 yang benar atau mengatakan apa yang benar."

Mempelajari duplisitas dalam Islam ini, kami akan menguji beberapa contoh dari sejarah Islam. Ini akan menunjukkan bahwa berbohong memang KEBIJAKAN UMUM para imam dan tokoh negara (muslim).

Juni 1967, MESIR dikalahkan Israel dan kehilangan Sinai Peninsula dalam Perang Enam Hari. Tujuan utama Presiden Nasser oleh karena itu adlah merebut kembali wilayah yang hilang itu. Pres Sadatpun menerapkan motto: "No voice should rise over the voice of The Battle."

Tentara yang direkrut th 1967 memperkirakan bahwa setiap saat "perang akan dmulai lagi". Namun, tahun demi tahun lewat dan masyarakat Mesir semakin sebal dengan pernyataan-pernyataan jagoan pemimpin politik.

Tahun 1972 Sadat bersumpah dengan pasti bahwa tahun inilah adalah tahun perang yang sudah lama dinanti2. Selama tahun itu ia berkali2 bersumpah, "Saya bersumpah demi kehormatan saya bahwa tahun ini tidak akan lewat tanpa kita melancarkan perang." Satu tahun mereka terus menunggu ... orang percaya padanya karena ia mempertaruhkan reputasi dan kehormatannya lewat sebuah sumpah. Tapi tahun itupun berlalu tanpa adanya satu tembakanpun. Akibatnya, orang2 diluar dan didalam Mesir mengoloknya sbg tong kosong. Tapi Oktober 1973 ia tiba2 melancarkan serangan yg kemudian dikenal sebagai perang Yom Kippur.

Sebagai panglima militer, Sadat diperkirakan menggunakan elemen 'surprise' untuk mengelabui musuh. Sebagai Muslim tulen, Sadat tidak sedikitpun khawatir dengan janjinya yang agak melenceng itu. Ia mengerti bahwa sejarah dan ajaran Islam akan mengecualikannya dari tanggung jawab di akhirat nanti kalau ia menggunakan kebohongan sebagai maneuver strategis militer.

Inipun juga dibuktikan oleh Muhamad sendiri. Ia sering membohong dan memerintahkan pengikutnya untuk melakukan yang sama. Alasannya adalah prospek sukses dalam missi menyebarkan Islam akan membatalkan larangan berbohong dari Allah. Sebuah contoh baik adalah pembunuhan Kaab Ibn al-Ashrf, penyair Yahudi dari suku Banu Nadir. Dilaporkan bahwa Kaab menunjukkan dukungan bagi Quraish dalam perang mereka melawan Muhamad. Juga, Kaab dituduh menulis sajak-sajak menggiurkan tentang wanita Muslim. Ini membuat Muhamad marah.

Jadi apa yang dilakukan Muhamad ? IA MEMINTA SUKARELAWAN UNTUK MENGHABISI Kaab

Ibn al-Ashraf. Seperti dikatakannya sendiri, Kaab telah "Melukai Allah dan rasulNya." Pada saat itu Kaab Ibn al-Ashraf, dan sukunya masih kuat, jadi tidak mudah bagi orang asing untuk menyusup dan membunuhnya. Seorang Muslim bernama Ibn Muslima, bersedia untuk melakukan tugas ini dengan syarat Muhamad mengijinkannya untuk berbohong. Dengan ijin Muhamad, Ibn Muslima, menemui Kaab dan berbohong padanya dengan mengaku tidak senang kepada Muhamad. Saat ia mendapatkan kepercayaan Kaab, suatu malam ia membujuknya agar keluar rumah dan membunuhnya di sebuah tempat terkucil.

Ini mirip dengan cerita pembunuhan Shaaban Ibn Khalid al-Hazly. Dikatakan bahwa Shaaban mengumpulkan tentara untuk memerangi Muhamad. Muhamad membalas dengan memerintahkan Abdullah Ibn Anis utk membunuh Shaaban. Lagi-lagi, calon pembunuh itu meminta ijin Muhamad agar dapat berbohong. Muhamad setuju dan lalu memerintahkan agar sang calon pembunuh berbohong dan mengaku dari suku Khazaa. Ketika Shaaban melihat datangnya Abdullah, ia bertanya asal kesukuannya. Abdullah menjawab, "Dari Khazaa." Ia lalu menambahkan, "saya dengar kau sedang mengumpulkan tentara untuk memerangi Muhamad dan saya datang untuk bergabung dengan mu." Abdullah mulai berjalan dengan Shaaban dan bercerita kepadanya bagaimana Muhamad datang kepada mereka dengan ajaran palsunya dan mengeluh bahwa Muhamad bergosip tentang para patriarch Arab dan menghancurkan harapan-harapan Arab. Mereka akhirnya sampai di tenda Shaaban. Sahabat-sahabat Shaaban meninggalkannya dan Shaaban mengundang Abdullah untuk masuk dan beristirahat dengannya. Abdullah duduk disana sampai Shaaban tertidur. Apa yang dilakukannya kemudian ? Ia memenggal kepalanya dan membawanya ke Muhamad sebagai trophy. Saat Muhamad melihat Abdullah, ia berteriak dengan girang, "Wajahmu penuh kemenangan (Aflaha al- wajho)." Abdullah membalas salam itu dengan mengatakan, "Wajahmu-lah, Rasulullah yang penuh kemenangan (Aflaha wajhoka, ye rasoul Allah)."

Syarat-syarat berbohong dalam islam


Berikut ini adalah syarat-syarat yang kebanyakan Muslim cukup mengenalnya:

- Berbohong dalam Perang karena Perang adalah bentuk penipuan (War is deception.)
- Berbohong dengan tujuan meghalalkan hal-hal yang dilarang
- Jika dihadapkan pada 2 kejahatan, dengan memilih yang mana yang kurang tingkat kejahatannya.

Inilah ayat-ayat yang dijadikan dasar membohong:

"Allah tidak akan mempertanyakanmu tentang apa yang tidak dapat kau penuhi dalam sumpahmu ". (QS: 5:89)

"Allah tidak akan mempertanyakanmu kalau kau tidak memikirkan matang-matang sumpahmu (for thoughtlessness (vain) in your oaths), tetapi bagi kemauan dalam hatimu; dan IA Maha pengampun ." (QS: 2:225)

"Siapapun yang setelah menerima Allah mengucapkan murtad, kecuali dibawah paksaan, hatinya tetap kuat dalam Iman - tetapi kalau mereka membuka hati mereka bagi Murtad, kemarahan Allah ada pada mereka ." (QS: 16: 106)

Al-Tabary menjelaskan Surah 16:106 sebagai surah yang diturunkan kepada Muhammad setelah ia tahu bahwa Ammar Ibn Yasser dipaksa utk menolak Islam ketika ia diculik oleh Banu Moghera. Muhamad menenangkan Ammar dengan mengatakan "Jika mereka berbalik, kau ikut berbalik." (Artinya: jika mereka menculikmu kembali, kau boleh menolak saya kembali.)

Ini menunjukkan bahwa kebohongan yang tidak direncanakan bisa diampuni dan bahkan kebohongan yang direncanakanpun bisa ditebus dengan melakukan beberapa hal, seperti puasa. Jelas juga, bahwa jika terpaksa Muslim bisa mengambil sumpah (contoh; sumpah kesetiaan kepada Negara lain) dan bahkan berbohong dengan Allah, selama mereka tetap percaya didalam hati mereka.

Dalam Hadis, Muhamad menegaskan konsep ini.

Dari "Ehiaa Oloum al-Din," oleh al-Ghazali, Vol. 3: PP.284-287:

Salah seorang puteri Muhamad, Umm Kalthoum, mengatakan bahwa ia tidak pernah mendengar rasulullah mensahkan kebohongan kecuali dlm 3 situasi:

- Rekonsiliasi antara pihak-pihak yang bersengketa
- Dalam Perang
- Diantara suami isteri, untuk menjaga kerukunan RT

Hadis mengutip Muhamad sebagai mengatakan: "Para putera Adam bertanggung jawab atas kebohongan kecuali yg diucapkan untuk mendamaikan Muslim."

Hadis lain lagi menyebut, "Aba Kahl, damaikan orang-orang."(artinya: bahkan lewat kebohongan)

Bagaimana dengan yang satu ini "Para putera Adam bertanggung jawab atas semua kebohongan kecuali : selama perang, karena perang adalah penipuan, untuk mendamaikan 2 lelaki yang cekcok dan bagi lelaki untuk menenangkan isterinya”.

Prinsip Berbohong yang di Bolehkan


 Prinsip ini mengajarkan bahwa Muslim diijinkan untuk berbohong untuk menghindari luka-luka, kerugian terhadap dirinya atau sesama Muslim. Prinsip ini memberi kebebasan bagi Muslim untuk berbohong dalam keadaan yang mereka anggap mengancam nyawa. Mereka dapat menolak agama mereka, selama mereka dalam hati tetap beriman.

Berbohong yang dibolehkan   didasarkan pada ayat ini:

"Janganlah orang beriman mengambil sebagai teman dan pembantu para kafir ketimbang sesama orang beriman: jika kalian melakukannya, Allah tidak akan memberikanmu bantuan: kecuali dalam hal pencegahan, agar kau dapat melindungi dirimu dari mereka. Tapi Allah memperingatimu agar hanya mengingatNya; karena tujuan utama adalah bagi Allah." (QS: 3: 28)

Jadi, Muslim boleh berpura-pura khusunya kepada orang-orang kafir dan berpura-pura sebagai kafir untuk menghindari kerugian atau dampak buruk yang terjadi pada dirinya. (khusunya dalam keadaan yang tidak memungkinkan atau dalam keadaan keadaan terdesak) tapi dengan syarat dan catatan besar bahwa itu hanyalah “pura-pura” untuk menghindari hal yang buruk terjadi. Tetapi tetap dengan keyakinan bahwa Allah.SWT selalu ada dihatinya. Tapi dari semua itu baik berbohong atau tidak, ataupun perbuatan itu baik atau tidak alahkah baiknya apabila keyakinan tersebut dipergunakan untuk berjihad karena Allah.SWT. Wallahu’alam bisshowwab


Kami sangat menghargai komentar pembaca sekalian, baik saran, kritik, bantahan dan lain sebagainya. 
Bagi pembaca yang ingin berkomentar silahkan untuk login dengan mengklik Login di Tombol Login komentar dan pilih akun yang ingin anda gunakan untuk Login, Bisa dengan Facebook, Twitter, Gmail dsb. 
 peraturan komentar: 
1. komentar pendek atau panjang tidak masalah, baik lebih dari satu kolom juga tidak apa-apa. 
2. komentar menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar tidak berbelit-belit. 
3. tidak menggunakan kata-kata kotor, hujat atau caci maki
4. langsung pada topik permasalahan