Pengaruh Makanan Haram dalam Perspektif Biologi Kuantum - Muslim Says

728x90 AdSpace

Trending
Friday, July 6, 2012

Pengaruh Makanan Haram dalam Perspektif Biologi Kuantum

Ketika seorang ayah memberikan uang kepada ibu untuk membelikan makanan bagi kedua anak mereka yang masih balita, maka sang ibu dengan sigapnya segera berbelanja ke tukang daging di pasar langganan.Semuanya tampak biasa dan wajar-wajar saja. Tetapi bila ternyata uang yang didapat sang ayah tadi bukanlah terkategori sebagai pendapatan yang halal, maka jalan ceritanya akan panjang dan pasti tidak akan “happy ending”.

Apalagi tokoh sang ibu dalam cerita ini rupanya tengah berbadan dua. Dongeng punya cerita, ternyata setelah diusut-usut oleh KPK, uang yang dibawa pulang oleh sang Ayah adalah uang komisi yang tidak semestinya diterima. Sang ayah yang pegawai senior sebuah instansi itu tentulah tahu dan dapat membedakan, mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan. Akan tetapi karena desakan hawa nafsu ingin tampil sebagai seorang kepala keluarga yang prestatif serta dapat menduduki maqom yang terhormat di mata istri dan keluarganya, maka uang itupun diterimanya.

Dengan senang hati? Tentu tidak. Dengan jantung yang berdebar sangat kencang, sampai-sampai ia sendiri merasa bahwa jantungnya bisa saja putus saat itu juga. Keringat dingin meleleh di sepanjang tulang punggungnya, dadanya terasa sesak, sampai-sampai kemeja yang dikenakannya serasa melekat erat bak pakaian senam. Nafas tersenggal-senggal, dan kepala terasa pening melayang. Ya, itulah pertanda seluruh tubuhnya sepakat menolak untuk ikut berpartisipasi dalam sebuah dosa.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (Al-Quran) yang serupa lagi berulang-ulang. Bergetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (QS Az-Zumar ayat 23) Getaran rasa bersalah itu mengguncangkan sistem normalitas dan homeostasis alias keseimbangan internal manusia. Hormon ketakutan (skotopobin) membuncah dan terus mendorong ketidakseimbangan hormonal lainnya. Metabolisma tubuh mengalami perubahan secara drastis. Para elektron, proton, quark, lepton, bosson, dan fermion yang tengah bertasbih dan berthawaf terganggu ritmenya dan membangun sebuah keseimbangan baru sebagai suatu efek kompensasi. Sebagian dari mereka menjadi liar karena kehilangan pegangan. Sunatullah yang termanifestasi sebagai berbagai aturan yang menjamin keteraturan yang bersifat sistematik tidak lagi berjalan semestinya. Sebagai contoh, konsep larangan Pauli yang memisahkan antara elektron dengan arah spin yang sama dalam orbital Bohr yang berbeda, tidak lagi dipatuhi dan para elektron, semuanya berloncatan semaunya, semuanya semau “gue”.


Uang yang notabene hanya sekedar sekumpulan karbon yang berbentuk kertas dan sama sekali tidak berdosa, bila terpegang oleh tangan-tangan yang chaos akan ketularan dan menunjukkan sifat (fenotip) serupa. Kertas uang akan menjadi media penghantar multi level dosa (MLD). Sang ibu yang kemudian berbelanja dan membeli ½ kg daging has dalam dari seekor sapi yang nyata-nyata halal karena disembelih dengan menyebut nama Allah, akan kecipratan efek tidal dosa yang seperti molekul dalam gerakan Brown, membentur sana-sini dan berzig-zag kian-kemari menciprati tetesan dosa kesana-kemari, terdorong oleh panasnya energi kinetik rasa bersalah. Dan daging has dalam sapi yang halal itu, ketika terpegang oleh lengan ibu yang terkena efek gerak brown dosa, maka akan berubah pula menjadi sekumpulan atom C, H, O, N, P,dan K yang resah dan gelisah (ingat hampir semua elemen di alam semesta bersifat dielektrik).

Ya, daging itu telah menjadi medium turunan ketiga dari sebuah dosa. Jangankan terpegang, dikantungi plastik saja dan plastik itu “dicengkiwing” hanya oleh 1 ibu jari dan 2 jari anak buahnya, maka sifat semi konduktornya tetap akan menjadi penghantar bagi proses MLD. Kemudian daging itu disemur, dan dimakan beramai-ramai. Ketika ia sampai di lambung dan saluran pencernaan, amilase, gastrin, pepsin, tripsin, garam empedu,dan juga lipase ogah-ogahan menjamunya karena merasa tak kenal. Jadilah daging itu diolah seenaknya dan tentu semau gue juga dong! Blok pembangun yang semestinya kelak dapat menjadi bagian dari keshalehan dan kejeniusan otak seorang anak, gagal menjadi protein dan banyak diantaranya menjadi gugus sterol alias lemak. Lemak ini akan terakumulasi menjadi hormon steroid dari anak ginjal yang mendorong terciptanya rasa cemas, gelisah, khawatir, dan ketakutan. Coba bayangkan, hanya dari sekerat daging sapi yang semestinya halal, anak-anak dari keluarga muda itu akan tumbuh menjadi anak-anak yang pemarah, murung, gelisah, dan ketakutan, tanpa mereka pernah tahu apa sebabnya.

Dan bila kelak mereka dewasa serta menjadi pribadi yang berakhlaq kurang mulia, siapakah sebenarnya yang bertanggung jawab dan terbebani oleh dosanya? Tentu bukan para downliner bukan? Kitalah, para orangtua yang berperan sebagai up-line yang akan menuai badai bonus dosa, Naudzubillahi mindzalik.

Ternyata proses dan fenomena ini tidak hanya terjadi pada kegiatan makan-memakan saja, melainkan pada semua aspek kehidupan seorang manusia. Setiap rasa bersalah karena melanggar perintah dan larangan Allah, yang merupakan kebenaran absolut, maka setiap sel dan setiap unsur di dalam tubuh kita akan bersikap chaos yang pada gilirannya akan mengakibatkan munculnya dampak akumulatif yang mengacaukan sistem bio-psikologis. Jiwa-jiwa kita menjadi sulit untuk mencapai tataran muthmainah, naudzubillahi mindzalik. Seorang ibu yang tegang dan kecewa (tanda-tanda kufur nikmat), pada saat mengandung putranya berarti dapat pula dikatakan berinvestasi pada kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa anaknya di kemudian hari. Demikian pula seorang ayah yang pemarah dan pembohong, setiap belaiannya pada sang anak akan menularkan ketakutan, kegelisahan, dan kekacauan quantum biologis pada anaknya. Oh anak, engkau rupanya sebuah cermin bagi keimanan kedua orangtuamu.

Maka bertaubatlah kita, berdoalah kita, dan berwudhulah kita untuk mensucikan setiap proses interaksi dengan setiap elemen dalam kehidupan. Karena itu pula di setiap perjumpaan diwajibakan bagi kita untuk mengucapkan salam, sebuah doa bagi sesama, dan sebuah doa bersama bagi keselamatan kita semua.

Oleh karena itu pula terkuak makna dalam doa sebelum makan yang memiliki arti tidak sekedar mengharapkan barokah dari makanan yang tersedia, tetapi juga permohonan agar terhindar dari azab api neraka. Doa makan itu rupanya bagian dari proses sterilisasi dan pengeliminasian unsur-unsur dosa (haram) dalam sebuah makanan.

oleh: Dr. dr. Tauhid Nur Azhar
Diperbarui pada hari Kamis · Komentari · SukaTidak Suka
Herni 'Hooriya Ophelia' Hairiyani, Gita Sahara, Aulia TrueSight dan 3 lainnya menyukai ini.
Tulis komentar...
Patah Hati..?? Islam Obatnya
Bagikan
23 Juni 2010 jam 19:28 | Sunting Catatan | Hapus
Bismillah..
Tengok sana-sini teman-teman, akhirnya nemu suatu tulisan yang keren dach. Dari judulnya lucu juga
"Jangan keburu patah hati jika di tolak akhwat".Semoga biar jadi bahan muhasabah kita bersama nich...he..he...tulisan ini jg bwt memenuhi permintaan beberapa pasien yg lagi broken heart


Para ikhwan sebaiknya membaca tulisan ini, apalagi jika berada di usia pernikahan. Para akhwat baca juga ya, untuk melengkapi dan mengevaluasi tulisan ini.

Ada beragam reaksi ikhwan saat ditolak akhwat, entah itu ditolak untuk bertaaruf, atau ditolak setelah taaruf dilakukan dan yang pasti ditolak meminjam handphone bukan bagian dari pembahasan ini...hehehe Mengikuti kebiasaan peradaban dunia, di mana kaum pria dituntut pro aktif untuk mencari dan meminta kesediaan kepada calon pasangan hidupnya, sudut pandang inilah yang saya ambil.

Di beberapa bagian dunia dan beberapa kasus yang berbeda, judul postingan ini bisa dibalik, “Jangan Patah Hati Dulu, Bila Ditolak Ikhwan”, meski mungkin argumentasi dibawah khas banget akhwat. Dominasi logika pada ikhwan dan perasaan pada akhwat tentunya banyak berpengaruh.

Sebagaimana seorang ikhwan yang membutuhkan keberanian ekstra, tekad dan kepercayaan diri saat mengungkapkan niatnya, akhwatpun merasa serba salah ketika hendak menyampaikan tanggapan atau jawaban...hmmm suatu hal yang sama2 sulit.....

Seorang ikhwan harus siap menanggung perasaan malu, siap bersedih dan menerima keputuhan secara sportif bila ditolak. Akhwatpun harus memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan bahwa dia tidak bersedia karena suatu alasan, dengan cara yang tidak menyakitkan hati dan mencederai silaturahmi. Atau bagaimana supaya bisa menyampaikan, “Yes, I do” secara anggun tanpa membuat pipi memerah karena malu.

Seorang ikhwan yang berniat tulus untuk berrumah tangga, mengerjakan sunnah rasul tanpa kaitan emosi (yang muncul terlebih dahulu) dengan akhwat tertentu, biasanya lebih lapang dalam menerima kenyataan dan menghadapi proses yang dijalaninya. Jika satu ikhtiar belum berhasil, wajar sekali jika dia kemudian mengajukan ikhtiar yang lain. Tetapi jika sejak awal terlalu banyak melibatkan perasaan dan angan-angan, bisa jadi di kemudian hari ikhwan merasa sedih, tidak percaya diri, merasa tidak berguna, frustasi, punah harapan dan kehilangan semangat hidup yang saya bahasakan sebagai patah hati. Hmmm, padahal bisa saja, saat menolak akhwat merasakan kesedihan dan kehilangan yang sama. Apa boleh buat, belum jodoh kali ya.

Kenapa tidak ada (atau hanya ada sedikit) alasan untuk patah hati saat ditolak akhwat? Karena para ikhwan perlu tahu fakta-fakta penyebab penolakan berikut ini. Dan hampir semuanya bukan karena ikhwan tersebut buruk, tidak berguna, bodoh, inferior atau apalah yang menyebabkan patah hati itu muncul. Apa saja siy....? kita bahas satu persatu ya....

1. Waktu yang kamu (ikhwan) ajukan tidak masuk akal. Baru semester dua udah ngajak nikah. Waa… berat tuh untuk sebagian besar akhwat kalo nikah sambil kuliah. Alhamdulillah, saya mendukung sekali jika itu atas kesadaran untuk menjauhkan diri dari maksiat dan dengan pertimbangan yang matang. Bedakan antara menyegerakan dengan tergesa-gesa ya. Jika sudah jelas kamu baru akan menikah paska lulus, ngapain ngajak nikahnya sekarang? Keburu jamuran.

2. Timing-nya kurang tepat. Plan nikah kamu setengah taon lagi, makanya sudah gencar ikhtiar ini-itu. Dan kamu nembak akhwat yang baru diizinkan menikah dua taon lagi. Jika bersedia, mungkin dia akan membujuk ortunya. But, tetap saja peluangmu berkurang dan makin kecil

3. Akhwat terlalu perfeksionis. Karena saya pribadi orangnya simpel dan sering melakukan sesuatu secara spontan dan otodidak, kadang susah juga menerima kenyataan ini. Tapi memang ada kan akhwat (ikhwan juga) yang seperti ini. Kalau kapasitas kita juga berkelas, bolehlah. Tapi kalau ortu kita aja sudah memudahkan dengan tidak memasang kriteria tertentu, ngapain kita membuat sesuatu yang harusnya dipermudah malah dipersulit? Kayak motto birokrasi aja, “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?”hehehe Gini lho, contoh kriteria yang perfeksionis; good looking, minimal S2, mapan, suku Jawa, hafal minimal 3 Juz, sudah berdakwah di masyarakan minimal 2 tahun. Hmm… mirip lowongan pekerjaan deh,,,,,

4. Caramu tidak tepat dimatanya. Ada akhwat yang mensyaratkan harus lewat murabbiyah-nya atau BKKBS. Ada yang fleksibel, yang penting sesuai syariat. Ada juga yang lebih mudah luluh terhadap ikhwan yang berani tembak langsung ke ortunya (teman saya ni, bu dokter lho…), atau terpesona ketika ikhwan berani to the point, “taaruf yuk?”, meski mereka tidak begitu mengenal daripada pake ‘pendahuluan’ yang berpotensi mengotori hati dan silaturahmi.

5. Ada prinsip yang teguh dipegang olehnya. Ini bisa jadi agak childish. Misal, karena di mata akhwat LDK di kampus te o pe be ge te, diam-diam dia pingin suaminya nanti anak LDK juga. Karena memang biasanya anak LDK tersebut sholeh, militan, gadhul bashar, bertanggung jawab dan sederet hal keren lainnya. Jadi, meski kamu (aktifis dakwah) ikhwan tulen dia mikir dua kali untuk menerimamu. Mungkin dia memiliki citra tidak baik tentang organisasimu atau dia butuh waktu lebih untuk mengenal kesholihanmu. Sholih itu berarti keren :) Atau juga prinsip lain yang lebih dewasa dan bertanggung jawab yang tidak dia sampaikan padamu.

6. Dia normal. Thats right! Gimana mau nerima kamu wong kamu dan dia sama-sama akhwat? Serius, pasca nulis draft untuk postingan ini, seorang akhwat minta pertimbangan saya, bagaimana cara meluruskan temannya, yang dia curigai ada something happen dengan sesama muslimah,,,,hmmmm cinta terlarang ( jng di ikutin ya)

7. Kamu terlalu nyebelin di matanya. Kamu siy, pake SMS tiap hari, minta tolong ini-itu, nelpon nggak penting banget, cerewet dan over pede. Padahal udah jelas banget yang seperti itu nggak ada dalilnya. Bukannya jatuh hati, kamu malah berkesan kayak parasit. dan ada nya dia malah bosen karna km terlalu agresif.....

8. Trauma, trauma, trauma. Dia punya bokap TNI. Meski sayang sama bokapnya, ogah banget punya suami kayak bokapnya yang kadang militernya di bawa-bawa ke rumah. Atau tantenya pernah bercerita bahwa setelah belasan tahun menikah, sebenarnya beliau nggak pernah bisa mencintai suaminya. Korban perjodohan yang kurang sukses niy. So, dia selalu terngiang penderitaan tantenya saat harus hidup bersama orang yang tidak dicintainya. Pernikahan itu bukan tentang cinta kepada lawan jenis melulu, tapi tanpa cinta…. (silahkan baca sendiri buku2 pernikahan yang banyak beredar di sekitar kita. Salah satu rekomendasi saya trilogi Kupinang Engkau Dengan Hamdalah karya Ustadz Mohammad Faudil Adzim yang dijilid satu dalam judul Kado Pernikahan Untuk Istriku). Kembali ke poin trauma, mungkin bukan karena kamu mau dijodohin sama ortu dia. Tapi akhwat itu selalu shock duluan jika belum nemnemukan poin of interest dari seorang ikhwan.

Mungkin dia punya lebih dari satu alasan untuk tidak menerima tawaranmu. Namanya saja tawaran, bisa diterima (alhamdulillah), bisa juga ditolak (allahu akbar!). Namanya saja tawaran, mungkin nantinya ada sederat syura’ dan musyawarah untuk kepentingan bersama.

Kesimpulan saya pribadi : CInta itu emang tuk Allah semata, di tolak akhwat berarti emang yang terbaik seperti itu. Allah emang lagi demen ama kita. Allah pasti akan beri yang emang sudah jodoh kita. soo ngapain susah-susah, enjoy aja guys.....

Di bawah ini adalah akbiat dari memakan daging babi :

ini adalah cacing yang terkandung dalam daging babi

Kami sangat menghargai komentar pembaca sekalian, baik saran, kritik, bantahan dan lain sebagainya. 
Bagi pembaca yang ingin berkomentar silahkan untuk login dengan mengklik Login di Tombol Login komentar dan pilih akun yang ingin anda gunakan untuk Login, Bisa dengan Facebook, Twitter, Gmail dsb. 
 peraturan komentar: 
1. komentar pendek atau panjang tidak masalah, baik lebih dari satu kolom juga tidak apa-apa. 
2. komentar menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar tidak berbelit-belit. 
3. tidak menggunakan kata-kata kotor, hujat atau caci maki
4. langsung pada topik permasalahan
Pengaruh Makanan Haram dalam Perspektif Biologi Kuantum Reviewed by Muslim Say on 7:12 AM Rating: 5 Ketika seorang ayah memberikan uang kepada ibu untuk membelikan makanan bagi kedua anak mereka yang masih balita, maka sang ibu dengan sigap...

No comments: