101 Dalil Pernyataan Ulama Shalafush Shaleh Bahwa ALLAH beristawa di Atas Arsy - Muslim Says

728x90 AdSpace

Trending
Monday, November 3, 2014

101 Dalil Pernyataan Ulama Shalafush Shaleh Bahwa ALLAH beristawa di Atas Arsy

Dari Abu Razin berkata: Saya pernah bertanya: “Ya Rasulullah, dimana Allah sebelum menciptakan makhlukNya?” Nabi menjawab: “Dia berada di atas awan, tidak ada udara di bawahnya maupun di atasnya, tidak makhluk di sana, dan ArsyNya di atas air”. [HR. Tirmidzi (2108), Ibnu Majah (182), Ibnu Hibban (39 -Al-Mawarid), Ibnu Abi Ashim (1/271/612), Ahmad (4/11,12) dan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (7/137). Lihat As-Shahihah 6/469)].

Sudah banyak pembahasan mengenai aqidah tentang ‘Allah di Atas ‘Arsy’ yang ditulis oleh para asatidz sampai ulama, baik dikupas dengan dalil-dalil yang terdapat dalam Al Qur’an maupun Hadits-hadits shahih yang jumlahnya mencapai puluhan dalil. Namun untuk pembahasan kali ini hanya mengupas tentang perkataan-perkataan yang keluar dari para ulama Salaf mengenai Allah di atas ‘Arsy.  Saya hanya mengumpulkan sedikit dari perkataan-perkataan mereka yaitu hanya berjumlah 101 perkataan, padahal jika kita merujuk kepada kitab-kitab ulama Salaf terdahulu, maka akan terkumpul banyak sekali perkataan mereka mengenai Allah diatas ‘Arsy yang jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan, Wallahu a’lam. Berikut perkataan-perkataan mereka:


01.   Abu Bakar ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa yang menyembah Allah maka Allah berada di langit, ia hidup dan tidak mati.” [Riwayat Imam ad Darimiy dalam Ar Radd ‘Alal Jahmiyah].


02.  Dari Zaid bin Aslam, dia berkata,

مر ابن عمر براع فقال هل من جزرة فقال ليس هاهنا ربها قال ابن عمر تقول له أكلها الذئب  قال فرفع رأسه إلى السماء وقال فأين الله فقال ابن عمر أنا والله أحق أن أقول أين الله واشترى الراعي والغنم فأعتقه وأعطاه الغنم

“(Suatu saat) Ibnu ‘Umar melewati seorang pengembala. Lalu beliau berkata,  “Adakah hewan yang bisa disembelih?” Pengembala tadi mengatakan, “Pemiliknya tidak ada di sini.” Ibnu Umar mengatakan, “Katakan saja pada pemiliknya bahwa ada serigala yang telah memakannya.” Kemudian pengembala tersebut menghadapkan kepalanya ke langit. Lantas mengajukan pertanyaan pada Ibnu Umar, ”Lalu di manakah Allah?” Ibnu ‘Umar malah mengatakan, “Demi Allah, seharusnya aku yang berhak menanyakan padamu ‘Di mana Allah?’.”
Kemudian setelah Ibnu Umar melihat keimanan pengembala ini, dia lantas membelinya, juga dengan hewan gembalaannya (dari Tuannya). Kemudian Ibnu Umar membebaskan pengembala tadi dan memberikan hewan gembalaan tadi pada pengembara tersebut. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 311. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad riwayat ini jayyid sebagaimana dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 95, hal. 127].


03.  Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata:

والعرش على الماء والله عز وجل على العرش يعلم ما أنتم عليه

“Arsy berada di atas air, dan Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, yang mengetahui apa-apa yang kalian lakukan” [HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir; shahih].


04.  Ibnu Abbas menemui ‘Aisyah ketika ia baru saja wafat. Ibnu Abbas berkata padanya,

كنت أحب نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يكن يحب إلا طيبا وأنزل الله براءتك من فوق سبع سموات

“Engkau adalah wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah engkau dicintai melainkan kebaikan (yang ada padamu). Allah pun menurunkan perihal kesucianmu dari atas langit yang tujuh.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 335].


05.  Dari Ibnul Mubarok, dari Sulaiman At Taimi, dari Nadhroh, Ibnu ‘Abbasradhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

ينادي مناد بين يدي الساعة أتتكم الساعة – فيسمعه الأحياء والأموات – ثم ينزل الله إلى السماء الدنيا

“Ketika hari kiamat ada yang menyeru, “Apakah datang pada kalian hari kiamat?” Orang yang hidup dan mati pun mendengar hal tersebut, kemudian Allah pun turun ke langit dunia.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 296. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih sesuai syarat Muslim sebagaimana dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 94, hal. 126].

Dalam riwayat lainnya, Ibnu ‘Abbas mengatakan,

إذا نزل الوحي سمعت الملائكة صوتا كصوت الحديد

“Jika wahyu turun, aku mendengar malaikat bersuara seperti suara besi.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 295. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa periwayat hadits ini tsiqoh (terpercaya) sebagaimana dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 93, hal. 126].

Jika dikatakan bahwa wahyu itu turun dan wahyu itu dari Allah, ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas karena sesuatu yang turun pasti dari atas ke bawah.


06.  Dari Ka’ab Al Ahbar [meninggal pada tahun 32 atau 33 H] berkata bahwa Allah ‘azza wa jalla dalam taurat berfirman,

أنا الله فوق عبادي وعرشي فوق جميع خلقي وأنا على عرشي أدبر أمور عبادي ولا يخفى علي شيء في السماء ولا في الأرض

“Sesungguhnya Aku adalah Allah. Aku berada di atas seluruh hamba-Ku. ‘Arsy-Ku berada di atas seluruh makhluk-Ku. Aku berada di atas ‘Arsyku. Aku-lah pengatur seluruh urusan hamba-Ku. Segala sesuatu di langit maupun di bumi tidaklah samar bagi-Ku. ” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 315. Adz Dzahabi mengatakan  bahwa sanadnya shahih. Begitu pula Ibnul Qayyim dalam Ijtima’ul Juyusy Al Islamiyah mengatakan bahwa riwayat ini shahih].


07.  Masruq rahimahullah [wafat tahun 63 H] menceritakan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

حدثتني الصديقة بنت الصديق حبيبة حبيب الله، المبرأة من فوق سبع سموات.

“’Aisyah -wanita yang shidiq anak dari orang yang shidiq (Abu Bakar), kekasih di antara kekasih Allah, yang disucikan oleh Allah yang berada  di atas langit yang tujuh.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 317. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shohih berdasarkan syarat Bukhari Muslim dan sanadnya sampai pada Abu Shofwan itu shahih. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 128].

08.  ‘Ubaid bin ‘Umair rahimahullah mengatakan,

ينزل الرب عزوجل شطر الليل إلى السماء الدنيا فيقول من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له حتى إذا كان الفجر صعد الرب عزوجل أخرجه عبد الله بن الإمام أحمد في كتاب الرد على الجهمية تصنيفه

“Allah ‘azza wa jalla turun ke langit dunia pada separuh malam. Lalu Allah berkata, “Siapa saja yang memohon kepada-Ku, maka akan Kuberi. Siapa saja yang meminta ampun kepada-Ku, maka akan Kuampuni.” Jika fajar telah terbit, Allah pun naik.”
Dikeluarkan oleh ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam kitab karyanya yang berisi bantahan terhadap Jahmiyah. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 320].


09.  Penjelasan Al-Imam Mujahid rahimahullah [dilahirkan pada tahun 21 Hijrah dan meninggal pada tahun 103 Hijrah] – murid Ibnu ‘Abbas – mengenai  firman Allah istawaa ‘alal-‘Arsy :

علا على العرش

“Ia berada tinggi di atas ‘Arsy.” [HR. Al-Bukhari].


10.  Imam Adh-Dhahhaak [wafat th. 102 H].
Ahmad (bin Hanbal) meriwayatkan dengan sanadnya sampai Adh-Dhahhaak tentang ayat (yang artinya) : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya’ (QS. Al-Mujaadalah : 7); maka Adh-Dhahhaak berkata :

هو على العرش وعلمه معهم

“Allah berada di atas ‘Arsy, dan ilmu-Nya bersama mereka”.  [As-Sunnah oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal hal. 80 – melalui perantaraan Al-Masaail war-Rasaail Al-Marwiyyatu ‘anil-Imam Ahmad bin Hanbal fil-‘Aqiidah oleh ‘Abdullah bin Sulaimaan Al-Ahmadiy, 1/319; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412].


11.  Qotadah rahimahullah [wafat tahun 118 H] mengatakan bahwa Bani Israil berkata,

يا رب أنت في السماء ونحن في الأرض فكيف لنا أن نعرف رضاك وغضبك قال إذا رضيت استعملت عنكم عليكم خياركم وإذا غضبت إستعلمت عليكم شراركم هذا ثابت عن قتادة أحد الحفاظ الكبار

“Wahai Rabb, Engkau di atas langit dan kami di bumi, bagaimana kami bisa tahu jika Engkau ridho dan Engkau murka?” Allah Ta’ala berfirman, “Jika Aku ridho, maka Aku akan memberikan kebaikan pada kalian. Dan jika Aku murka, maka Aku akan menimpakan kejelekan pada kalian.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 336. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad riwayat ini hasan. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 131].


12.  Dari Malik bin Dinar [wafat pada tahun 130 H], beliau berkata,

خذوا فيقرأ ثم يقول : إسمعوا إلى قول الصادق من فوق عرشه

“Ambillah (Al Qur’an) ini. Lalu beliau membacanya, kemudian beliau mengatakan, ‘Hendaklah kalian mendengar perkataan Ash Shodiq (Yang Maha Jujur yaitu Allah) dari atas ‘Arsy-Nya’.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 348. Adz Dzahabi mengatakan diriwayatkan dalam Al Hilyah dengan sanad yang shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa mengatakan riwayat ini hasan saja termasuk murah hati. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 131].


13.  Harun bin Ma’ruf mengatakan, Dhomroh mengatakan pada kami dari Shodaqoh, dia berkata bahwa dia mendengar Sulaiman At Taimiy berkata,

لو سئلت أين الله لقلت في السماء

“Seandainya aku ditanyakan di manakah Allah, maka aku menjawab (Allah berada) di atas langit.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa periwayat riwayat ini tsiqoh/terpercaya. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 133].


14.  Ayyub As Sikhtiyani [wafat th. 131 H].
Hamad bin Zaid mengatakan bahwa ia mendengar Ayyub As Sikhtiyani berbicara mengenai Mu’tazilah,

إنما مدار القوم على أن يقولوا ليس في السماء شيء

“Mu’tazilah adalah asal muasal kaum yang mengatakan bahwa di atas langit tidak ada sesuatu apa pun.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 354].


15.  Robi’ah bin Abi ‘Abdirrahman [Wafat tahun 136 H ].
Sufyan Ats Tsauriy mengatakan bahwa ia pernah suatu saat berada di sisi Robi’ah bin Abi ‘Abdirrahman kemudian ada seseorang yang bertanya pada beliau,

الرحمن على العرش استوى كيف استوى

“Ar Rahman (yaitu Allah) beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy, lalu bagaimana Allah beristiwa’?” Robi’ah menjawab,

الإستواء غير مجهول والكيف غير معقول ومن الله الرسالة وعلى الرسول البلاغ وعلينا التصديق

“Istiwa’ itu sudah jelas maknanya. Sedangkan hakikat dari istiwa’ tidak bisa digambarkan. Risalah (wahyu) dari Allah, tugas Rasul hanya menyampaikan, sedangkan kita wajib membenarkan (wahyu tersebut).” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 352. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 132].


16.   Imam Abu Hanifah (tahun 80-150 H) mengatakan dalam Fiqhul Akbar,

من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر

“Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir.” [Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 116-117, Darus Salafiyah, Kuwait, cetakan pertama, 1406 H. Lihat pula Mukhtashor Al ‘Uluw, Adz Dzahabiy, Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 137, Al Maktab Al Islamiy].


17.  Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar-, beliau berkata,

سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته  فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض  قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم

Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. [QS. Thaha: 5] Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.” Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995].


18.  Imam Malik bin Anas (tahun 93-179 H),
Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah : Telah menceritakan ayahku, kemudian ia menyebutkan sanadnya dari ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : Telah berkata Malik bin Anas :

الله في السماء، وعلمه في كل مكان، لا يخلو منه شيء.

“Allah berada di atas langit, dan ilmu-Nya berada di setiap tempat. Tidak ada terlepas dari-Nya sesuatu”.  [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah dalam As-Sunnah hal. 5, Abu Dawud dalam Al-Masaail hal. 263, Al-Aajuriiy hal. 289, dan Al-Laalikaa’iy 1/92/2 dengan sanad shahih – dinukil melalui perantaraan Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 140 no. 130].


19.  Telah masyhur riwayat Al-Imam Maalik bin Anas rahimahullah sebagai berikut :

ذكره علي بن الربيع التميمي المقري قال ثنا عبد الله ابن أبي داود قال ثنا سلمة بن شبيب قال ثنا مهدي بن جعفر عن جعفر بن عبد الله قال جاء رجل إلى مالك بن أنس فقال يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استوى قال فما رأيت مالكا وجد من شيء كموجدته من مقالته وعلاه الرحضاء يعني العرق قال واطرق القوم وجعلوا ينتظرون ما يأتي منه فيه قال فسرى عن مالك فقال الكيف غير معقول والاستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة فإني أخاف أن تكون ضالا وامر به فأخرج

Telah menyebutkan kepadanya ‘Aliy bin Ar-Rabii’ At-Tamimiy Al-Muqri’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abi Dawud, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far, dari Ja’far bin ‘Abdillah, ia berkata : Datang seorang laki-laki kepada Malik bin Anas. Ia berkata : “Wahai Abu ‘Abdillah, ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaimana Allah beristiwaa’ ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Maka keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku khawatir kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya. [Syarh Ushuulil-I’tiqad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah, hal. 398, tahqiq : Ahmad bin Mas’ud bin Hamdaan; desertasi S3].
Makna “istiwaa’ itu bukan sesuatu yang majhuul” adalah bahwa istiwaa’ itu diketahui maknanya secara hakiki sebagaimana dhahir bahasa Arab yang jelas.


20.  Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (yang terkenal dengan Imam Syafi’I, tahun 150-204 H).
Syaikhul Islam berkata bahwa telah mengabarkan kepada kami Abu Ya’la Al Kholil bin Abdullah Al Hafizh, beliau berkata bahwa telah memberitahukan kepada kami Abul Qosim bin ‘Alqomah Al Abhariy, beliau berkata bahwa Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Roziyah telah memberitahukan pada kami, dari Abu Syu’aib dan Abu Tsaur, dari Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, beliau berkata,

القول في السنة التي أنا عليها ورأيت اصحابنا عليها اصحاب الحديث الذين رأيتهم فأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة ان لااله الا الله وان محمدا رسول الله وذكر شيئا ثم قال وان الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وان الله تعالى ينزل الى السماء الدنيا كيف شاء وذكر سائر الاعتقاد

“Perkataan dalam As Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya : “Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Lalu Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan beberapa keyakinan (i’tiqod) lainnya.  [Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, hal. 123-124. Disebutkan pula dalam Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal.165]

21.  Imam Ahmad bin Hambal (tahun 164-241 H).
Beliau pernah ditanya,

ما معنى قوله وهو معكم أينما كنتم و ما يكون من نجوى ثلاثه الا هو رابعهم قال علمه عالم الغيب والشهاده علمه محيط بكل شيء شاهد علام الغيوب يعلم الغيب ربنا على العرش بلا حد ولا صفه وسع كرسيه السموات والأرض

“Apa makna firman Allah,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada.” [QS. Al Hadiid: 4]

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” [ QS. Al Mujadilah: 7]

Yang dimaksud dengan kebersamaan tersebut adalah ilmu Allah. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi. Namun Rabb kita tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi.” [Lihat Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 116].


22.  Imam Adz Dzahabiy rahimahullah mengatakan, “Pembahasan dari Imam Ahmad mengenai ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya amatlah banyak. Karena beliaulah pembela sunnah, sabar menghadapi cobaan, semoga beliau disaksikan sebagai ahli surga. Imam Ahmad mengatakan kafirnya orang yang mengatakan Al Qur’an itu makhluk, sebagaimana telah mutawatir dari beliau mengenai hal ini. Beliau pun menetapkan adanya sifat ru’yah (Allah itu akan dilihat di akhirat kelak) dan sifat Al ‘Uluw (ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya).” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 176. Lihat pula Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 189]


23.  Diriwayatkan dari Yusuf bin Musa Al Ghadadiy, beliau berkata,

قيل لأبي عبد الله احمد بن حنبل الله عز و جل فوق السمآء السابعة على عرشه بائن من خلقه وقدرته وعلمه بكل مكان قال نعم على العرش و لايخلو منه مكان

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanyakan, “Apakah Allah ‘azza wa jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana)?” Imam Ahmad pun menjawab, “Betul sekali. Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya.” [ Lihat Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 116].


24.  Al Auza’i Abu ‘Amr ‘Abdurrahman bin ‘Amr [hidup sebelum tahun 157 H], Seorang Alim di Negeri Syam di Masanya Berbicara Mengenai Keyakinannya:

قال أبو عبد الله الحاكم أخبرني محمد بن علي الجوهري ببغداد قال حدثنا إبراهيم بن الهيثم البلدي قال حدثنا محمد بن كثير المصيصي قال سمعت الأوزاعي يقول كنا والتابعون متوافرون نقول إن الله عزوجل فوق عرشه ونؤمن بما وردت به السنة من صفاته

Abu ‘Abdillah Al Hakim mengatakan, Muhammad bin Ali Al Jauhari telah mengabarkan kepadaku di Bagdad. Ia mengatakan, Ibrahim bin Al Haitsam Al Baladi telah menceritakan pada kami.  Ia mengatakan, Muhammd bin Katsir Al Missisiy telah menceritakan pada kami. Ia berkata, aku mendengar Al Auza’i mengatakan, “Kami dan pengikut kami mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy-Nya. Kami beriman terhadap sifat-Nya yang ditunjukkan oleh As Sunnah.” [Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Kitab Al Asma’ wa Ash Shifat. Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 136. Ibnu Taimiyah sebagaimana dalam Al Aqidah Al Hamawiyah menyatakan bahwa sanadnya shahih, sebagaimana pula hal ini diikuti oleh muridnya (Ibnul Qayyim) dalam Al Juyusy Al Islamiyah].


25.  Diriwayatkan dari Abu Ishaq Ats Tsa’labi –seorang pakar tafsir, ia berkata, “Al Auza’i pernah ditanya mengenai firman Allah Ta’ala,

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya”. Al Auza’iy mengatakan, “Allah berada di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang Dia sifati bagi Diri-Nya.” [ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 137].


26.  Muqaatil bin Hayyaan (semasa dengan Imam Al Auza’i, beliau hidup sebelum tahun 150 H).
Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad, dari ayahnya, dari Nuuh bin Maimuun, dari Bukair bin Ma’ruuf, dari Muqaatil bin Hayyaan tentang firman Allah ta’ala : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadalah : 7), ia berkata :

هو على عرشه، وعلمه معهم.

“Allah berada di atas ‘Arsy, dan ilmu-Nya bersama mereka”. [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah hal. 71, Abu Dawud dalam Al-Masaail hal. 263, dan yang lainnya dengan sanad hasan  melalui perantaraan Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 138 no. 124].


27.  Diriwayatkan dari Al Baihaqi dengan sanad darinya, dari Muqotil bin Hayyan. Ia berkata, “Allah-lah yang lebih memahami firman-Nya:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ

Huwal awwalu wal akhiru … (Allah adalah Al Awwal dan Al Akhir …) (QS. Al Hadiid: 3). Makna Al Awwalu adalah sebelum segala sesuatu. Al Akhir adalah setelah segala sesuatu. Azh Zhohir adalah di atas segala sesuatu. Al Bathin adalah lebih dekat dari segala sesuatu. Kedekatan Allah adalah dengan ilmu-Nya. Sedangkan Allah sendiri berada di atas ‘Arsy-Nya.”
Adz Dzahabi mengatakan, “Muqotil adalah ulama yang tsiqoh dan dia adalah imam besar yang semasa dengan Al Auza’i.” [ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 137. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa dalam sanad yang disebutkan oleh Al Baihaqi (hal. 430-431) terdapat Ismail bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim tidak memberikan penilaian positif (ta’dil) atau negatif (jarh) terhadapnya. Telah diriwayatkan pula oleh Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Musa Al Ka’bi, rowi dari atsar ini darinya. Beliau merupakan guru dari Al Hakim. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 138].


28.  Sufyan Ats Tsauri [hidup pada tahun 97-161 H].

روى غير واحد عن معدان الذي يقول فيه ابن المبارك هو أحد الأبدال قال سألت سفيان الثوري عن قوله عزوجل وهو معكم أينما كنتم قال علمه

Diriwayatkan lebih dari satu orang dari Mi’dan, yang Ibnul Mubarok juga mengatakan hal ini. Ia mengatakan bahwa ia bertanya pada Sufyan Ats Tsauri mengenai firman Allah ‘azza wa jalla,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada.” (QS. Al Hadid: 4). Sufyan Ats Tsauri menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah ilmu Allah (yang berada bersama kalian, bukan dzat Allah, pen). [ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 137-138].


29.  Abdullah bin Al Mubarok [Seorang Alim Besar Negeri Khurosan tahun 118 - 181 H], Menyatakan Allah Berada di Atas Langit Ketujuh,

صح عن علي بن الحسن بن شقيق قال قلت لعبد الله بن المبارك كيف نعرف ربنا عزوجل قال في السماء السابعة على عرشه ولا نقول كما تقول الجهمية إنه هاهنا في الأرض  فقيل هذا لأحمد بن حنبل فقال هكذا هو عندنا

Telah shahih dari ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, dia berkata, “Aku berkata kepada Abdullah bin Al Mubarok, bagaimana kita mengenal Rabb kita ‘azza wa jalla. Ibnul Mubarok menjawab, “Rabb kita berada di atas langit ketujuh dan di atasnya adalah ‘Arsy. Tidak boleh kita mengatakan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah berada di sini yaitu di muka bumi.” Kemudian ada yang menanyakan tentang pendapat Imam Ahmad bin Hambal mengenai hal ini. Ibnul Mubarok menjawab, “Begitulah Imam Ahmad sependapat dengan kami.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 149. Riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Al Hamawiyah dan Ibnul Qayyim dalam Al Juyusy. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 152].


30.  Abu Bakr Al Atsrom mengatakan bahwa Muhammad bin Ibrahim Al Qoisi mengabarkan padanya, ia berkata bahwa Imam Ahmad bin Hambal menceritakan dari Ibnul Mubarok ketika ada yang bertanya padanya,

كيف نعرف ربنا

“Bagaimana kami bisa mengetahui Rabb kami?” Ibnul Mubarok menjawab,

في السماء السابعة على عرشه

“Allah di atas langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya.” Imam Ahmad lantas mengatakan,

هكذا هو عندنا

“Begitu juga keyakinan kami.” [ Lihat Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 118].


31.  Diriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad ketika membantah pendapat Jahmiyah dan beliau membawakan sanadnya dari Ibnul Mubarok. Ia ceritakan bahwa ada seseorang yang mengatakan pada Ibnul Mubarok, “Wahai Abu ‘Abdirrahman (Ibnul Mubarok), sungguh pengenalan tentang Allah menjadi samar karena pemikiran-pemikiran yang diklaim oleh Jahmiyah.” Ibnul Mubarok lantas menjawab, “Tidak usah khawatir. Mereka mengklaim bahwa Allah sebagai sesembahanmu yang sebenarnya berada di atas langit sana, namun mereka katakan Allah tidak di atas langit.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 150. Syaikh Al Albani mengatakan dikeluarkan dalam As Sunnah (hal. 7) dari Ahmad bin Nashr, dari Malik, telah mengabarkan kepadaku seseorang dari Ibnul Mubarok. Seluruh periwayatnya tsiqoh (terpercaya) kecuali yang tidak disebutkan namanya. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 152].


32.  ‘Abbad bin Al ‘Awwam [ hidup sekitar tahun 185 H], Muhaddits (Pakar Hadits) dari Daerah Wasith.

قال عباد بن العوام كلمت بشرا المريسي وأصحابه فرأيت آخر كلامهم ينتهي إلى أن يقولوا ليس في السماء شيء  أرى أن لا يناكحوا ولا يوارثوا

‘Abbad bin Al ‘Awwam mengatakan, “Aku pernah berkata Basyr Al Murosi dan pengikutnya, aku pun melihat bahwa mereka mengatakan, “Di atas langit tidak ada sesuatu pun. Aku menilai bahwa orang semacam ini tidak boleh dinikahi dan diwarisi.” [ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 151].


33.  ‘Abdurrahman bin Mahdi [hidup pada tahun 125-198 H], Seorang Imam Besar.

ابن مهدي قال إن الجهمية أرادوا أن ينفوا أن يكون الله كلم موسى وأن يكون على العرش أرى أن يستتابوا فإن تابوا وإلا ضربت أعناقهم

‘Abdurrahman bin Mahdi mengatakan bahwa Jahmiyah menginginkan agar dinafikannya pembicaraan Allah dengan Musa, dinafikannya keberedaan Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy. Orang seperti ini mesti dimintai taubat. Jika tidak, maka lehernya pantas dipenggal.  [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 159. Dikeluarkan pula oleh Abdullah (hal. 10-11) dari jalannya, disebutkan secara ringkas. Ibnul Qayyim menshahihkan riwayat ini dalam Al Juyusy. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 170].


34.  Syaikhul Islam Yazid bin Harun [hidup sebelum tahun 206 H],

قال الحافظ أبو عبد الرحمن بن الإمام أحمد في كتاب الرد على الجهمية حدثني عباس العنبري أخبرنا شاذ بن يحيى سمعت يزيد بن هارون وقيل له من الجهمية قال من زعم أن الرحمن على العرش استوى على خلاف ما يقر في قلوب العامة فهو جهمي

Al Hafizh Abu ‘Abdirrahman bin Al Imam Ahmad dalam kitab bantahan terhadap Jahmiyah, ia mengatakan, ‘Abbas Al Ambari telah menceritakan padaku, ia mengatakan, Syadz bin Yahya telah menceritakan pada kami bahwa ia mendengar Yazid bin Harun ditanya tentang Jahmiyah. Yazid mengatakan, “Siapa yang mengklaim bahwa Allah Yang Maha Pengasih menetap tinggi di atas ‘Arsy namun menyelisih apa yang diyakini oleh hati mayoritas manusia, maka ia adalah Jahmi.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 157. Abdullah bin Ahmad mengeluarkan dalam As Sunnah (hal. 11-12) dari jalannya. Namun Adz Dzahabi menyebutkan dari selain kitab itu yaitu dalam kitab Ar Rodd ‘alal Jahmiyah (bantahan terhadap Jahmiyah), Abdullah berkata, Abbas bin Al ‘Azhim Al Ambari telah mengabarkan pada kamim Syadz bin Yahya telah menceritakan pada kami. Juga riwayat ini dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Masail (hal. 268), ia berkata, Ahmad bin Sinan telah menceritakan pada kami, ia berkata: Aku mendengar Syadz bin Yahya. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 168].


35.  Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’i [hidup pada tahun 122-208 H], Ulama Bashroh.

قال عبد الرحمن بن أبي حاتم حدثنا أبي قال حدثت عن سعيد ابن عامر الضبعي أنه ذكر الجهمية فقال هم شر قولا من اليهود والنصارى  قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء

‘Abdurrahman bin Abi Hatim berkata, ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata aku diceritakan dari Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’I bahwa ia berbicara mengenai Jahmiyah. Beliau berkata, “Jahmiyah lebih jelek dari Yahudi dan Nashrani. Telah diketahui bahwa Yahudi dan Nashrani serta agama lainnya bersama kaum muslimin bersepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy. Sedangkan Jahmiyah, mereka katakan bahwa Allah tidak di atas sesuatu pun.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 157 dan Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 168].


36.  Wahb bin Jarir [meninggal tahun 206 H], Ulama Besar Bashroh,

محمد بن حماد قال سمعت وهب بن جرير يقول إياكم ورأي جهم فإنهم يحاولون أنه ليس شيء في السماء وما هو إلا من وحي إبليس ما هو إلا الكفر

Muhammad bin Hammad mengatakan bahwa ia mendengar Wahb bin Jarir berkata, “Waspadalah dengan pemikiran Jahmiyam. Sesungguhnya mereka memalingkan makna bahwa di atas langit sesuatu pun (berarti Allah tidak di atas langit, pen). Sesungguhnya pemikiran semacam ini hanyalah wahyu dari Iblis. Perkataan semacam tidak lain hanyalah perkataan kekufuran.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 159. Atsar ini dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al Juyusy. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 170].


37.  Al Qo’nabi [meninggal tahun 221 H], Ulama Besar di Masanya,

قال بنان بن أحمد كنا عند القعنبي رحمه الله فسمع رجلا من الجهمية يقول الرحمن على العرش استوى فقال القعنبي من لا يوقن أن الرحمن على العرش استوى كما يقر في قلوب العامة فهو جهمي أخرجهما عبد العزيز القحيطي في تصانيفه والمراد بالعامة عامة أهل العلم كما بيناه في ترجمة يزيد بن هارون إمام أهل واسط ولقد كان القعنبي من أئمة الهدى حتى لقد تغالى فيه بعض الحفاظ وفضله على مالك الإمام

Bunan bin Ahmad mengatakan, “Aku pernah berada di sisi Al Qo’nabi, ia mendengar seorang yang berpahaman Jahmiyah menyebutkan firman Allah,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.” [ QS. Thoha: 5], Al Qo’nabi lantas mengatakan, “Siapa yang tidak meyakini Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy sebagaimana diyakini oleh para ulama, maka ia adalah Jahmi.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 166. Bunan bin Ahmad tidak mengapa, sejarah hidupnya disebutkan di Tarikh Bagdad. Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 178].


38.  Abdullah bin Az Zubair Al Qurosyi Al Asadi Al Humaidi[meninggal tahun 219 H, Ulama Besar Makkah, Murid dari Sufyan bin ‘Uyainah, Guru dari Imam Al Bukhari], mengatakan:

أصول السنة عندنا فذكر أشياء ثم قال وما نطق به القرآن والحديث مثل وقالت اليهود يد الله مغلولة غلت أيديهم ومثل قوله والسموات مطويات بيمينه وما أشبه هذا من القرآن والحديث لا نزيد فيه ولا نفسره ونقف على ما وقف عليه القرآن والسنة ونقول الرحمن على العرش استوى ومن زعم غير هذا فهو مبطل جهم

Aqidah yang paling pokok yang kami yakini (lalu beliau menyebutkan beberapa hal): Ayat atau hadits yang menyebutkan (misalnya tangan Allah, pen),

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu” [ QS. Al Maidah: 64].
Semisal pula firman Allah,

وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

“Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya” [ QS. Az Zumar: 67], dan juga ayat dan hadits yang semisal itu, kami tidak akan menambah dan kami tidak akan menafsirkan (bagaimanakah hakekat sifat tersebut). Kami cukup berdiam diri sebagaimana yang dituntunkan Al Quran dan Hadits Nabawi (yang tidak menyebutkan hakekatnya). Kami pun meyakini,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.” [ QS. Thoha: 5]. Barangsiapa yang tidak meyakini seperti ini, maka dialah Jahmiyah yang penuh kebatilan. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 168. Ibnu Taimiyah telah menshahihkan atsar ini dari Al Humaidi dalam Kitabnya “Mufashol Al I’tiqod”. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 180].


39.  Al-Imam Al-Humaidiy rahimahullah juga berkata :

وما أشبه هذا من القرآن والحديث، لا نزيد فيه ولا نفسره. نقف على ما وقف عليه القرآن والسنة. ونقول : (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى)، ومن زعم غير هذا فهو معطل جهمي.

“Dan ayat-ayat serta hadits-hadits yang serupa dengan ini (tentang Asma dan Shifat Allah), maka kami tidak menambah-nambahi dan tidak pula menafsirkannya (menta’wilkannya). Kami berhenti atas apa-apa yang Al-Qur’an dan As-Sunah berhenti padanya. Dan kami berkata : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Barangsiapa yang berpendapat selain itu, maka ia seorang Mu’aththil Jahmiy” [Ushuulus-Sunnah oleh Al-Humaidiy, hal. 42, tahqiq : Misy’aal Muhammad Al-Haddaadiy; Daar Ibn Al-Atsiir, Cet. 1/1418].


40.  Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi [meninggal tahun 221 H], Ulama Hanafiyah, murid dari Muhammad bin Al Hasan.

قال ابن أبي حاتم حدثنا علي بن الحسن بن يزيد السلمي سمعت أبي يقول سمعت هشام بن عبيد الله الرازي وحبس رجلا في التجهم فجيء به إليه ليمتحنه فقال له أتشهد أن الله على عرشه بائن من خلقه فقال لا أدري ما بائن من خلقه فقال ردوه فإنه لم يتب بعد

Ibnu Abi Hatim mengatakan, ‘Ali bin Al Hasan bin Yazid As Sulami telah menceritakan kepada kami, ia berkata, ayahku berkata, “Aku pernah mendengar Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi –ketika itu beliau menahan seseorang yang berpemikiran Jahmiyah, orang itu didatangkan pada beliau, lantas beliau pun mengujinya-. Hisyam bertanya padanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.” Orang itu pun menjawab, “Aku tidak mengetahui apa itu terpisah dari makhluk-Nya.” Hisyam kemudian berkata, “Kembalikanlah ia karena ia masih belum bertaubat.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 169. Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Al Haruwi dalam “Dzammul Kalam” (1/120). Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 181].


41.  Basyr Al Haafi [hidup pada tahun 151-227 H], Ulama yang Begitu Zuhud di Masanya
Disebutkan oleh Adz Dzahabi,

له عقيدة رواها ابن بطة في كتاب الإبانة وغيره فمما فيها والإيمان بأن الله على عرشه استوى كما شاء وأنه عالم بكل مكان

Basyr Al Haafi memilki pemahaman aqidah yang disebutkan oleh Ibnu Battoh dalam Al Ibanah dan selainnya, di antara perkataan beliau adalah: “Beriman bahwa Allah menetap tinggi (beristiwa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang Allah kehendaki. Namun meski begitu, ilmu Allah di setiap tempat.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 172. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 185].


42.  Ahmad bin Nashr Al Khuza’i [meninggal tahun 231 H].

قال إبراهيم الحربي فيما صح عنه قال أحمد بن نصر وسئل عن علم الله فقال علم الله معنا وهو على عرشه

Ibrahim Al Harbi berkata mengenai perkataan shahih darinya, yaitu Ahmad bin Nashr berkata ketika ditanya mengenai ilmu Allah, “Ilmu Allah selalu bersama kita, sedangkan Dzat-Nya tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 173. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 186-187].


43.  Abu Ma’mar Al Qutai’iy  [meninggal tahun 236 H, Guru dari Imam Bukhari dan Imam Muslim].

نقل ابن أبي حاتم في تأليفه عن يحيى بن زكرياء عن عيسى عن أبي شعيب صالح الهروي عن أبي معمر إسماعيل بن إبراهيم أنه قال آخر كلام الجهمية أنه ليس في السماء إله

Dinukil dari Ibnu Abi Hatim dalam karyanya, dari Yahya bin Zakariya, dari ‘Isa, dari Abu Syu’aib Sholih Al Harowiy, dari Abu Ma’mar Isma’il bin Ibrohim, beliau berkata, “Akhir dari perkataan Jahmiyah: Di atas langit (atau di ketinggian) tidak ada Allah yang disembah.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174-175. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 188].


44.  ‘Ali bin Al Madini [meninggal tahun 234 H, Imam Para Pakar Hadits].

قال شيخ الإسلام أبو إسماعيل الهروي أنبأنا محمد بن محمد بن عبد الله حدثنا أحمد بن عبد الله سمعت محمد بن إبراهيم بن نافع حدثنا الحسن بن محمد بن الحارث قال سئل علي بن المديني وأنا أسمع ما قول أهل الجماعة قال يؤمنون بالرؤية وبالكلام وأن الله عزوجل فوق السموات على عرشه استوى

Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harowi mengatakan, Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdillah menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdillah menceritakan kepada kami, aku mendengar Muhammad bin Ibrahim bin Naafi’ mengatakan, Al Hasan bin Muhammad bin Al Harits menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Ali bin Al Madini ditanya dan aku pun mendengarnya, “Apa perkataan dari Ahlul Jama’ah (Ahlus Sunnah)?” ‘Ali bin Al Madini mengatakan, “Mereka (Ahlus Sunnah) beriman pada ru’yah (Allah akan dilihat), mereka beriman bahwa Allah berbicara dan Allah berada di atas langit, menetap tinggi (beristiwa’) di atas ‘Arsy-Nya.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 175. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 188-189].


45.  Ishaq bin Rohuwyah [hidup antara tahun 166-238 H, Ulama Besar Khurosan.

قال أبو بكر الخلال أنبأنا المروذي حدثنا محمد بن الصباح النيسابوري حدثنا أبو داود الخفاف سليمان بن داود قال قال إسحاق بن راهويه قال الله تعالى الرحمن على العرش استوى إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة

Abu Bakr Al Khollal mengatakan, telah mengabarkan kepada kami Al Maruzi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Muhammad bin Shobah An Naisaburi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Abu Daud Al Khonaf Sulaiman bin Daud. Beliau katakan, Ishaq bin Rohuwyah berkata, “Allah Ta’ala berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy” [ QS. Thaha: 5]. Para ulama sepakat (berijma’) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy dan beristiwa’ (menetap tinggi) di atas-Nya. Namun Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bawah-Nya, sampai di bawah lapis bumi yang ketujuh.  [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 179. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 194].


46.  Ishaq bin Rohuwyah,

قال حرب بن إسماعيل الكرماني قلت لإسحاق بن راهويه قوله تعالى ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم كيف تقول فيه قال حيث ما كنت فهو أقرب إليك من حبل الوريد وهو بائن من خلقه
ثم ذكر عن ابن المبارك قوله هو على عرشه بائن من خلقه
ثم قال أعلى شيء في ذلك وأبينه قوله تعالى الرحمن على العرش استوى رواها الخلال في السنة عن حرب

Harb bin Isma’il Al Karmani, ia berkata bahwa ia berkata pada Ishaq bin Rohuwyah mengenai firman Allah,

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” (QS. Al Mujadilah: 7). Bagaimanakah pendapatmu mengenai ayat tersebut?”
Ishaq bin Rohuwyah menjawab, “Dia itu lebih dekat (dengan ilmu-Nya) dari urat lehermu. Namun Dzat-Nya terpisah dari makhluk. Kemudian beliau menyebutkan perkataan Ibnul Mubarok, “Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.”
Lalu Ishaq bin Rohuwyah mengatakan, “Ayat yang paling gamblang dan paling jelas menjelaskan hal ini adalah firman Allah Ta’ala,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.” [ QS. Thoha: 5]
Al Khollal meriwayatkannya dalam As Sunnah dari Harb. [ Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 177. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 191].


47.  Qutaibah bin Sa’id [hidup tahun 150-240 H], Ulama Besar Khurosan.

قال أبو أحمد الحاكم وأبو بكر النقاش المفسر واللفظ له حدثنا أبو العباس السراج قال سمعت قتيبة بن سعيد يقول هذا قول الأئمة في الإسلام والسنة والجماعة نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه كما قال جل جلاله الرحمن على العرش استوى وكذا نقل موسى بن هارون عن قتيبة أنه قال نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه

Abu Ahmad Al Hakim dan Abu Bakr An Naqosy Al Mufassir (dan ini lafazh dari Abu Bakr), ia berkata, Abul ‘Abbas As Siroj telah menceritakan pada kami, ia berkata, aku mendengar Qutaibah bin Sa’id berkata, “Ini adalah perkataan para ulama besar Islam, Ahlus Sunnah wal Jama’ah:  Kami meyakini bahwa Rabb kami berada di atas langit ketujuh di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.” [QS. Thoha: 5]. [ Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 187].


48.  Begitu pula dinukil dari Musa bin Harun dari Qutaibah, ia berkata,

نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه

“Kami meyakini bahwa Rabb kami berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 187].


49.  Al Imam Al ‘Alam Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad Dainuri [hidup pada tahun 213-276 H]–penulis kitab yang terkenal yaitu Mukhtalaf Al Hadits- berkata,

قال وفي الإنجيل أن المسيح عليه السلام قال للحواريين إن أنتم غفرتم للناس فإن أباكم الذي في السماء يغفر لكم ظلمكم أنظروا إلى الطير فإنهن لا يزرعن ولا يحصدن وأبوكم الذي في السماء هو يرزقهن ومثل هذا في الشواهد كثير قلت قوله أبوكم كانت هذه الكلمة مستعملة في عبارة عيسى والحواريين وفي المائدة وقالت اليهود والنصارى نحن أبناء الله وأحباؤه

“Disebutkan dalam Injil bahwa Al Masih (‘Isa bin Maryam) ‘alaihis salam berkata kepada (murid-muridnya yang setia) Al Hawariyyun, “Jika kalian memaafkan orang lain, sungguh Rabb kalian yang berada di atas langit akan mengampuni kezholiman kalian. Lihatlah pada burung-burung, mereka tidak menanam makanan, Rabb mereka-lah yang berada di langit yang memberi rizki pada mereka.” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 196 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 216-217. Catatan: Istilah “abukum” (ayah kalian) untuk menyebut Allah yang digunakan di masa Isa dan sudah tidak berlaku lagi untuk umat Islam. Demikian dijelaskan oleh Adz Dzahabi].


50.  Qutaibah berkata dalam kitabnya Takwiil Mukhtalaf al-Hadiits (tahqiq Muhammad Muhyiiddin Al-Ashfar, cetakan keduan dari Al-Maktab Al-Islaami) :
“Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran.”  [Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395].

Adz Dzahabi setelah membawakan perkataan Qutaibah, beliau mengatakan, “Inilah Qutaibah sudah dikenal kebesarannya dalam ilmu dan kejujurannya, beliau menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai keyakinan Allah di atas langit”. [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 187].


51.  Muhammad bin Aslam Ath Thusi [meninggal dunia tahun 242 H].

قال الحاكم في ترجمته حدثنا يحيى العنبري حدثنا أحمد بن سلمة حدثنا محمد بن أسلم قال قال لي عبد الله بن طاهر بلغني أنك لا ترفع رأسك إلى السماء فقلت ولم وهل أرجو الخير إلا ممن هو في السماء

Al Hakim dalam biografinya mengatakan, Yahya Al ‘Anbari menceritakan pada kami, Ahmad bin Salamah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Aslam menceritakan kepada kami, beliau berkata, “’Abdullah bin Thohir berkata padaku, “Telah sampai padaku berita bahwa engkau enggan mengangkat kepalamu ke arah langit.” Muhammad bin Aslam menjawab, “Tidak demikian. Bukankah aku selalu mengharap kebaikan dari Rabb yang berada di atas langit?” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 191 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 208-209].


52.  ‘Abdul Wahhab Al Warroq [meninggal dunia tahun 250 H].

حدث عبد الوهاب بن عبد الحكيم الوراق بقول ابن عباس ما بين السماء السابعة إلى كرسيه سبعة آلاف نور وهو فوق ذلك  ثم قال عبد الوهاب من زعم أن الله ههنا فهو جهمي خبيث إن الله عزوجل فوق العرش وعلمه محيط بالدنيا والآخرة

‘Abdul Wahhab bin ‘Abdil Hakim Al Warroq menceritakan perkataan Ibnu ‘Abbas, “Di antara langit yang tujuh dan kursi-Nya terdapat 7000 cahaya. Sedangkan Allah berada di atas itu semua.” Kemudian ‘Abdul Wahhab berkata, “Barangsiapa yang mengklaim bahwa Allah itu di sini (di muka bumi ini), maka Dialah Jahmiyah yang begitu jelek. Allah ‘azza wa jalla  berada di atas ‘Arsy, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu di dunia dan akhirat.”

Adz Dzahabi menceritakan, bahwa pernah ditanya pada Imam Ahmad bin Hambal, “Alim mana lagi yang jadi tempat bertanya setelah engkau?” Lantas Imam Ahmad menjawab, “Bertanyalah pada ‘Abdul Wahhab bin Al Warroq”. Beliau pun banyak memujinya. [Lihat Al ‘Uluw, hal. 193 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 212].


53.  Abu Muhammad Ad Darimi, penulis kitab Sunan Ad Darimi [hidup pada tahun 181-255 H].
Adz Dzahabi mengatakan,

وممن لا يتأول ويؤمن بالصفات وبالعلو في ذلك الوقت الحافظ أبو محمد عبد الله بن عبد الرحمن السمرقندي الدارمي وكتابه ينبيء بذلك

“Di antara ulama yang tidak mentakwil (memalingkan makna) dan benar-benar beriman dengan sifat Allah al ‘Uluw (yaitu Allah berada di ketinggian) saat ini adalah Al Hafizh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman As Samarqindi Ad Darimi. Dalam kitab beliau menjelaskan hal ini.” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 195 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 214].


54.  Harb Al Karmaniy [meninggal dunia pada tahun 270-an H],

قال عبد الرحمن بن محمد الحنظلي الحافظ أخبرني حرب بن إسماعيل الكرماني فيما كتب إلي أن الجهمية أعداء الله وهم الذين يزعمون أن القرآن مخلوق وأن الله لم يكلم موسى ولا يرى في الآخرة ولا يعرف لله مكان وليس على عرش ولا كرسي وهم كفار فأحذرهم

‘Abdurrahman bin Muhammad Al Hanzholi Al Hafizh berkata, Harb bin Isma’il Al Karmani menceritakan padaku terhadap apa yang ia tulis padaku, “Sesungguhnya Jahmiyah benar-benar musuh Allah. Mereka mengklaim bahwa Al Qur’an itu makhluk. Allah tidak berbicara dengan Musa dan juga tidak dilihat di akhirat. Mereka sungguh tidak  tahu tempat Allah di mana, bukan di atas ‘Arsy, bukan pula di atas kursi-Nya. Mereka sungguh orang kafir. Waspadalah terhadap pemikiran sesat mereka.”

Adz Dzahabi mengatakan bahwa Harb Al Karmani adalah seorang ulama besar di daerah Karman di zamannya. Ia mengambil ilmu dari Ahmad dan Ishaq. [Lihat Al ‘Uluw, hal. 194 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 213].


55.  Al Muzanni [meninggal dunia pada tahun 264 H dalam usia 80-an tahun].

أنبأنا ابن سلامة عن أبي جعفر الطرطوسي عن يحيى بن منده حدثنا أحمد بن الفضل أنبأ الياطرقاني سمعت أبا عمر السلمي سمعت أبا حفص الرفاعي سمعت عمرو بن تميم المكي قال سمعت محمد بن إسماعيل الترمذي سمعت المزني يقول لا يصح لأحد توحيد حتى يعلم أن الله على العرش بصفاته  قلت مثل أي شيء قال سميع بصير عليم قدير أخرجها ابن منده في تاريخه

Ibnu Salamah telah menceritakan pada kami, dari Abu Ja’far Ath Thurthusi, dari Yahya bin Mandah, Ahmad bin Al Fadhl telah menceritakan kepada kami, Al Yathuqorni telah menceritakan, aku mendengar ‘Umar As Sulami, aku mendengar Abu Hafsh Ar Rifa’i, aku mendengar ‘Amr bin Tamim Al Makki, ia berkata, aku mendengar Muhammad bin Isma’il At Tirmidzi, aku mendengar Al Muzanni berkata,

لا يصح لأحد توحيد حتى يعلم أن الله على العرش بصفاته

“Ketauhidan seseorang tidaklah sah sampai ia mengetahui bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-nya dengan sifat-sifat-Nya.” Aku pun berkata, “Sifat-sifat yang dimaksud semisal apa?” Ia berkata, “Sifat mendengar, melihat, mengetahui dan berkuasa atas segala sesuatu.” Ibnu Mandah mengeluarkan riwayat ini dalam kitab tarikhnya. [Syaikh Al Albani mengatakan, “Dari jalur yang dibawakan oleh penulis (Adz Dzahabi) dengan sanadnya terdapat perowi yang tidak aku kenal semisal ‘Amr bin Tamim Al Makki.” (Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 201)].


56.  Muhammad bin Yahya Adz Dzuhliy [meninggal dunia pada tahun 258 H].

قال الحاكم قرأت بخط أبي عمرو المستملي سئل محمد بن يحيى عن حديث عبد الله بن معاوية عن النبي ليعلم العبد أن الله معه حيث كان فقال يريد أن الله علمه محيط بكل ما كان والله على العرش

Al Hakim berkata, “Aku membacakan dengan tulisan pada Abu ‘Amr Al Mustahli, Muhammad bin Yahya ditanya mengenai hadits ‘Abdullah bin Mu’awiyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ليعلم العبد أن الله معه حيث كان

“Supaya hamba mengetahui bahwa Allah bersama dirinya di mana saja ia berada.”
Lantas Adz Dzuhliy mengatakan,

أن الله علمه محيط بكل ما كان والله على العرش

“Ketahuilah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu, namun Allah tetap di atas ‘Arsy-Nya.” [Syaikh Al Albani mengatakan, “Riwayat ini dibawakan oleh penulis dari Muhammad bin Nu’aim, aku sendiri tidak mengenalnya.”  (Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 202)].


57.  Muhammad bin Isma’il Al Bukhari [hidup dari tahun 194-256 H].

قال الإمام أبو عبد الله محمد بن إسماعيل في آخر الجامع الصحيح في كتاب الرد على الجهمية باب قوله تعالى وكان عرشه على الماء قال أبو العالية استوى إلى السماء إرتفع  وقال مجاهد في استوى علا على العرش  وقالت زينب أم المؤمنين رضي الله عنها زوجني الله من فوق سبع سموات

Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il Al Bukhari berkata dalam akhir Al Jaami’ Ash Shohih dalam kitab bantahan kepada Jahmiyah, beliau membawakan Bab firman Allah Ta’ala,

وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“Dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air.” (QS. Hud : 7).
Abul ‘Aliyah mengatakan bahwa maksud dari ‘istiwa’ di atas langit’ adalah naik. Mujahid mengatakan bahwa istiwa’ adalah menetap tinggi di atas ‘Arsy. Zainab Ummul Mukminin mengatakan, “Allah yang berada di atas langit ketujuh yang telah menikahkanku.” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 186 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 202].


58.  Abu Zur’ah Ar Rozi [meninggal tahun 264 H].

قال أبو إسماعيل الأنصاري مصنف ذم الكلام وأهله أنبا أبو يعقوب القراب أنبأنا جدي سمعت أبا الفضل إسحاق حدثني محمد ابن إبراهيم الأصبهاني سمعت أبا زرعة الرازي وسئل عن تفسير الرحمن على العرش استوى فغضب وقال تفسيره كما تقرأ  هو على عرشه وعلمه في كل مكان من قال غير هذا فعليه لعنة الله

Abu Isma’il Al Anshori –penulis Dzammul Kalam wa Ahlih-, Abu Ya’qub Al Qurob menceritakan, kakekku menceritakan pada kami, aku mendengar Abul Fadhl Ishaq, Muhammad bin Ibrohim Al Ash-bahani telah menceritakan padaku, aku mendengar Abu Zur’ah Ar Rozi ditanya mengenai tafsir firman Allah,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah yang menetap tinggi di atas ‘Arsy .” (QS. Thoha : 5). Beliau lantas marah. Kemudian beliau pun berkata, “Tafsirnya sebagaimana yang engkau baca. Allah di atas ‘Arsy-Nya sedangkan ilmu Allah yang berada di mana-mana. Siapa yang mengatakan selain ini, maka dialah yang akan mendapat laknat Allah.” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 187-188 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 203].


59.  Ahmad bin Abul Khoir telah menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Yunus, Abu Tholib menceritakan pada kami, Abu Ishaq Al Barmaki telah menceritakan pada kami, ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz telah menceritakan pada kami, ia berkata bahwa ‘Abdurrahman bin Abu Hatim telah menceritakan pada kami, bahwa dia bertanya pada ayahnya dan Abu Zur’ah mengenai aqidah Ahlus Sunnah dalam ushuluddin dan apa yang dipahami oleh keduanya mengenai perkataan para ulama di berbagai negeri dan apa saja keyakinan mereka.
Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata,
“Yang kami ketahui bahwa ulama di seluruh negeri di Hijaz, ‘Iraq, Mesir, Syam, Yaman; mereka semua meyakini bahwa Allah Tabaroka wa Ta’ala berada di atas ‘Arsy-nya, terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana yang Allah sifati pada diri-Nya sendiri dan tanpa kita ketahui hakikatnya. Sedangkan ilmu Allah meliputi segala sesuatu.” [ Lihat Al ‘Uluw, hal. 188 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 204].


60.  Abu Hatim Ar Rozi [meninggal dunia tahun 277 H].

قال الحافظ أبو القاسم الطبري وجدت في كتاب أبي حاتم محمد بن إدريس بن المنذر الحنظلي مما سمع منه يقول مذهبنا وإختيارنا إتباع رسول الله وأصحابه والتابعين من بعدهم والتمسك بمذاهب أهل الأثر مثل الشافعي وأحمد وإسحاق وأبي عبيد رحمهم الله تعالى ولزوم الكتاب والسنة ونعتقد أن الله عزوجل على عرشه بائن من خلقه ليس كمثله شيء وهو السميع البصير

Al Hafizh Abul Qosim Ath Thobari mengatakan bahwa beliau mendapati dalam kitab Abu Hatim Muhammad bin Idris bin Al Mundzir Al Hanzholi, perkataan yang didengar darinya, Abu Hatim mengatakan,
“Pilihan kami adalah mengikuti Rasulullah, para sahabat, para tabi’in dan yang setelahnya. Kami pun berpegang dengan madzhab Ahlus Sunnah semacam Asy Syafi’i, Ahmad , Ishaq, Abu ‘Abdillah rahimahumullah. Kami pun konsekuen dengan Al Kitab dan As Sunnah. Kami meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya. Tidak ada yang semisal dengan-Nya, Dialah (Allah) yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Lantas Abu Hatim Ar Rozi menyebutkan perkataan,

وعلامة أهل البدع الوقيعة في أهل الأثر وعلامة الجهمية أن يسموا أهل السنة مشبهة

“Di antara tanda ahlul bid’ah adalah berbagai tuduhan keliru yang mereka sematkan pada Ahlus Sunnah. Tanda Jahmiyah adalah mereka menyebut Ahlus Sunnah dengan musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk).” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 189-190 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 206-207].


61.  Yahya bin Mu’adz Ar Rozi [meninggal dunia tahun 258 H].

قال أبو إسماعيل الأنصاري في الفاروق بإسناد إلى محمد بن محمود سمعت يحيى بن معاذ يقول إن الله على العرش بائن من خلقه أحاط بكل شيء علما لا يشذ عن هذه المقالة إلا جهمي يمزج الله بخلقه

Abu Isma’il Al Anshori berkata dalam Al Faruq dengan sanad sampai ke Muhammad bin Mahmud, aku mendengar Yahya bin Mu’adz berkata, “Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya. Namun ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Tidak ada yang memiliki perkataan nyleneh selain Jahmiyah. Jahmiyah meyakini bahwa Allah bercampur dengan makhluk-Nya.” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 190 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 207-208].


62.  Imam ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimi [meninggal tahun 280 H] berkata :

قد اتفقت الكلمة من المسلمين أن الله فوق عرشه فوق سماواتة

“Sungguh kaum muslimin telah bersepakat terhadap satu kalimat bahwasannya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit-langit-Nya”.  [Al-Arba’iin fii Shifaati Rabbil-‘Aalamiin oleh Adz-Dzahabiy, tahqiq ‘Abdul-Qaadir Athaa, hal. 43 no. 17; Maktabah Al-‘Uluum wal-Hikam, Cet. 1/1413].


63.  Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi berkata:  “Hadits ini (tentang hadits nuzul) sangat pahit bagi kelompok Jahmiyah dan mematahkan faham mereka bahwa Allah tidak di atas arsy tetapi di bumi sebagaimana Dia juga di langit. Lantas bagaimanakah Allah turun ke bumi kalau memang Dia sendiri sudah di atas bumi? Sungguh lafazh hadits ini membantah faham mereka dan mematahkan argumen mereka”. [Naqdhu Utsman bin Sa’id ‘ala Al-Mirrisi Al-Jahmi Al-Anid hal. 285].


64.  Imam ‘Utsman ad-Darimi berkata: “Dalam hadits ini (tentang budak jariyah) terdapat dalil bahwa seorang apabila tidak mengetahui kalau Allah itu di atas langit bukan di bumi maka dia bukan seorang mukmin. Apakah anda tidak tahu bahwa Nabi menjadikan tanda keimanannya adalah pengetahuannya bahwa Allah di atas langit?!! Dan dalam pertanyaan Nabi ‘Di mana Allah?’ terdapat bantahan ucapan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat, tidak disifati dengan ‘di mana?’, sebab sesuatu yang ada di mana-mana tidak mungkin disifati ‘dimana?’. Seandainya Allah ada dimana-mana sebagaimana anggapan para penyimpang, tentu Nabi akan mengingkari jawabannya.”. [Ar-Radd ala Jahmiyyah hal. 46-47].


65.  Imam Utsman ad-Darimi berkata:  “Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah.” [Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid  alaa Bisyr Al-Mariisi Al-’Aniid Hal 25].


66.  Abu Ja’far Ibnu Abi Syaibah, Ulama Hadits di Negeri Kufah [meninggal tahun 297 H].
Al Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah Al ‘Abasi, muhaddits Kufah di masanya, di mana beliau telah menulis tentang masalah ‘Arsy dalam seribu kitab, beliau berkata,

ذكروا أن الجهمية يقولون ليس بين الله وبين خلقه حجاب وأنكروا العرش وأن يكون الله فوقه وقالوا إنه في كل مكان ففسرت العلماء وهومعكم يعني علمه ثم تواترت الأخبار أن الله تعالى خلق العرش فاستوى عليه فهو فوق العرش متخلصا من خلقه بائنا منهم

Jahmiyah berkata bahwa antara Allah dan makhluk-Nya sama sekali tidak ada pembatas. Jahmiyah mengingkari ‘Arsy dan mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy. Jahmiyah katakan bahwa Allah berada di setiap tempat. Padahal para ulama menafsirkan ayat (وهومعكم), Allah bersama kalian, yang dimaksud adalah dengan ilmu Allah. Kemudian juga telah ada berbagai berita mutawatir (yang melalui jalan yang amat banyak) bahwa Allah menciptakan ‘Arsy, lalu beristiwa’ (menetap tinggi) di atasnya. Allah benar-benar di atas  ‘Arsy, namun Allah terpisah atau tidak menyatu dengan makhluk-Nya. [Lihat Al ‘Uluw, hal. 220 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 220-221].


67.  Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H).
Beliau berkata :

القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث الذين لقيناهم أن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء”.

“Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami –dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai- bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya.”
(Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482).

Adz-Dzahabi berkata : As-Saji adalah syaikh dan hafizhnya kota Al-Bashroh dan Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan aqidah Ahlus Sunnah darinya (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 dan Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah li Ibnil Qoyyim hal 185).


68.  Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H).
Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid :
“Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit:
Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah” [At-Tauhiid 1/254].


69.  Berkata Muhammad bin Ishaq ibnu Khuzaimah: “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya, tinggi di atas tujuh lapis langit, maka dia kafir kepada Rabb-nya; halal darahnya, diminta taubat kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernya, dibuang jasadnya ke tempat-tempat pembuangan sampah agar tidak mengganggu kaum muslimin dan para mu’ahad dengan busuknya bau bangkai mereka. Hartanya menjadi fa’i (rampasan perang untuk baitul maal). Tidak boleh mewarisinya seorang pun dari kaum muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi dari seorang kafir sebagaimana ucapan Nabi yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid :
“Orang muslim tidak mewarisi dari orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi dari orang muslim”. (HR. Bukhari Muslim). [Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47].


70.  Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawirahimahullah [wafat tahun 321 H].
Beliau berkata:  “Allah tidak membutuhkan ‘Arsy dan apa yang ada dibawahnya. Allah menguasai segala sesuatu dan apa yang ada diatasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.” Beliau menjelaskan bahwa Allah menciptakan ‘Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allah membutuhkan ‘Arsy tetapi Allah memiliki hikmah tersendiri tentang hal itu. Bahkan sebaliknya, sekalian makhluk termasuk ‘Arsy bergantung kepada Allah Jalla wa ‘Ala.” [Lihat Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdil ‘Izz ad-Dimasyqi dalam Syarh ‘Aqidah at-Thahâwiyah, (hal. 372)].


71.  Imam Abul Hasan Al-’Asy’ari rahimahullah [lahir tahun 260 H dan wafat pada tahun 324 H].
Beliau berkata dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr:
Ijmak kesembilan :
Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini telah ditunjukan oleh firman Allah,

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).
Dan Allah berfirman

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Faathir : 10).
Dan Allah berfirman

الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5).
Dan bukanlah istiwaa’nya di atas arsy maknanya istiilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh qodariah (Mu’tazilah-pent), karena Allah Azza wa Jalla selalu menguasai segala sesuatu. Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (QS Al-Hadiid : 4).
Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu bahwasanya ilmu Allah meliputi mereka di mana saja mereka berada” [Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234].


72.  Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy malah bersaksi bahwa ciri ahlussunnah adalah sebagai berikut:  “Berkata Ahlussunnah dan Ashhab al-Hadits: “Dia bukan jisim, tidak menyerupai apapun, Dia ada di atas Arsy seperti yang Dia kabarkan (Thaha: 5). Kita tidak melancangi Allah dalam ucapan, tetapi kita katakan: istawa tanpa kaif. Dia adalah Nur (pemberi cahaya) sebagaimana firmann-Nya (an-Nur: 35), Dia memiliki wajah sebagaimana firman-Nya (al-Rahman: 27), Dia memiliki Yadain (dua tangan) sebagaimana firman-Nya (Shad: 75), dia memiliki dua ‘ain (mata) sebagaimana firmanNya (al-Qamar: 14), Dia akan datang pada hari kiamat Dia dan para malaikat-Nya sebagaiman firman-Nya (al-Fajr: 22), dia turun ke langit terendah sebagaimana dalam hadits. Mereka tidak mengatakan apapun kecuali apa yang mereka dapatkan dalam al-Qur`an atau yang datang keterangannya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.” [Al Maqalat: 136].


73.  Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkomentar tentang ‘aqidah Jahmiyyah yang satu ini dengan perkataannya :

وقد قال قائلون من المعتزلة والجهمية والحرورية : إن معنى استوى إستولى وملك وقهر، وأنه تعالى في كل مكان، وجحدوا أن يكون على عرشه، كما قال أهل الحق، وذهبوا في الإستواء إلى القدرة، فلو كان كما قالوا كان لا فرق بين العرش وبين الأرض السابعة لأنه قادر على كل شيء، والأرض شيء، فالله قادر عليها وعلى الحشوش.
وكذا لو كان مستويا على العرش بمعنى الإستيلاء، لجاز أن يقال : هو مستو على الأشياء كلها ولم يجز عند أحد من المسلمين أن يقول : إن الله مستو على الأخلية والحشوش، فبطل أن يكون الإستواء [على العرش] : الإستيلاء.

“Dan telah berkata orang-orang dari kalangan Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah (Khawarij) : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. Allah ta’ala berada di setiap tempat’. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah). Mereka (Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah) memalingkan (mena’wilkan) makna istiwaa’ kepada kekuasaan/kemampuan (al-qudrah). Jika saja hal itu seperti yang mereka katakan, maka tidak akan ada bedanya antara ‘Arsy dan bumi yang tujuh, karena Allah berkuasa atas segala sesuatu. Bumi adalah sesuatu, dimana Allah berkuasa atasnya dan atas rerumputan.
Begitu juga apabila istiwaa’ di atas ‘Arsy itu bermakna menguasai (istilaa’), maka akan berkonsekuensi untuk membolehkan perkataan : ‘Allah ber-istiwaa’ di atas segala sesuatu’. Namun tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang membolehkan untuk berkata : ‘Sesungguhnya Allah ber-istiwaa’ di tanah-tanah kosong dan rerumputan’. Oleh karena itu, terbuktilah kebathilan perkataan bahwa makna istiwaa’ (di atas ‘Arsy) adalah istilaa’ (menguasai)” [selengkapnya, silakan lihat Al-Ibaanah, hal. 34-37 – melalui perantaraan Mukhtashar Al-‘Ulluw lidz-Dzahabiy oleh Al-Albaaniy, hal. 239; Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 1/1401 H].


74.  Al Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata dalam Al-Ibanah fi Ushul Diyanah hal. 69-76 : “Dan kita melihat seluruh kaum muslimin apabila mereka berdoa, mereka mengangkat tangannya ke arah langit, karena memang Allah tinggi di atas arsy dan arsy di atas langit. Seandainya Allah tidak berada di atas arsy, tentu mereka tidak akan mengangkat tangannya ke arah arsy.”


75.  Al-Qaadhiy Abu Bakr Al-Baqillaniy (beliau adalah seorang ulama madzhab Asy’ariyyah generasi awal yang terkemuka dan banyak dipuji, wafat pada tahun 403 H di Baghdad).
Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah :
“Jika dikatakan : Apakah kalian mengatakan bahwa Allah berada dimana-mana?, dikatakan : Kita berlindung kepada Allah (dari perkataan ini-pent). Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman  di atas ‘arsy beristiwaa”, dan Allah berfirman “Kepada-Nyalah naik perkatan-perkataan yang baik”, dan Allah berfirman “Apakah kalian merasa aman dari Allah yang berada di atas?”
Beliau berkata, “Kalau seandainya Allah di mana-mana maka Allah akan berada di perut manusia, di mulutnya, …”
[Sebagaimana dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-’Uluw 2/1298 (Mukhtsor Al-’Uluw 258)].


76.  Al-Qaadhiy Abu Bakr Al-Baqillaniy berkata :
Bab : Apabila ada seseorang yang bertanya : “Dimanakah Allah ?”. Dikatakan kepadanya : “Pertanyaan ‘dimana’ adalah pertanyaan yang menyangkut tempat, dan Dia tidak boleh dilingkupi oleh satu tempat. Tidak pula satu tempat bisa meliputi-Nya. Namun, kita hanya boleh mengatakan (atas pertanyaan itu) : ‘Dia berada di atas ‘Arsy-Nya’, dimana hal itu tidak berkonsekuensi makna wujud badan (jism) yang bersentuhan dan berbatasan/berdekatan. Maha Tinggi (Allah) dari atas semua itu dengan setinggi-tinggi dan seagung-agung-Nya !” [At-Tamhiid, hal. 300-301].


77.  Ibnu Kullab [241 H] sendiri mengatakan:  “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, yang dia itu adalah orang pilihan Allah, dan yang terbaik, paling alim secara keseluruhan membolehkan untuk bertanya dengan “Dimana Allah”, dan mengatakannya serta membenarkan ucapan orang yang mengatakan: Di langit, dan pada saat itu bersaksi bahwa orang itu mukmin. Sedangkan Jahm ibn Abi Shafwan dan pengikutnya tidak membolehkan pertanyaan “Dimana“, mereka melarang mengucapkan itu. seandainya salah tentu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lebih berhak untuk mengingkari. Seharusnya beliau mengatakan kepada jariyah itu: jangan berkata begitu nanti kamu mengesankan bahwa Allah itu dibatasi, atau di satu tempat tidak di tempat lain, tetapi ucapkanlah ada di setiap tempat, karena itu yang benar, bukan yang tadi kamu katakan. Tidak, sekali kali tidak. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah membolehkannya dengan segenap pengetahuan beliau tentang kandungannya, dan dia adalah ucapan yang paling benar, sesuatu yang wajib adanya iman bagi pengucapnya, karena itu rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan keimanannya saat ia mengucapkannya. Lalu bagaimana kebenaran ada pada selainnya, sementara al-Qur`an mengatakan itu dan bersaksi untuk itu.” [Dar` at-Ta’arud: 6/193-194; Mawqif ibn taimiah minal asyairah, Dr. Abdurrahman al-Mahmud: 1/443].


78.  Al-Imam Ibnu Baththoh (304 H-387 H).
Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ‘an Syarii’at Al-Firqoh An-Naajiyah :

“باب الإيمان بأن الله على عرشه بائن من خلقه وعلمه محيط بخلقه”
أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سمواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه
ولا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين فمرقوا من الدين وقالوا : إن الله ذاته لا يخلو منه مكان”. انتهى

“Bab Beriman Bahwa Allah di atas ‘Arsy, ‘Arsy adalah makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi Makhluk-Nya”
Kaum muslimin dari para sahabat, tabiin dan seluruh ulama kaum mukminin telah bersepakat bahwa Allah -tabaraka wa ta’ala- di atas ‘arsy-Nya di atas langit-langit-Nya yang mana ‘arsy merupakan Makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluknya. Tidaklah menolak dan mengingkari hal ini kecuali penganut aliran hululiyah, mereka itu adalah kaum yang hatinya telah melenceng dan setan telah menarik mereka sehingga mereka keluar dari agama, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Dzat Allah Berada dimana-mana.” (al-Ibaanah 3/136).
Adz Dzahabi berkata, “Ibnu Baththoh termasuk Pembesarnya Para Imam, Seorang yang Zuhud, Faqih, pengikut sunnah.” (Al-’uluw li Adz-Dzahabi 2/1284).


79.   Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi (339-429H).
Beliau berkata di dalam kitabnya: Al Wushul ila Ma’rifatil Ushul,

” أجمع المسلمون من أهل السنة على أن معنى قوله : “وهو معكم أينما كنتم” . ونحو ذلك من القرآن : أنه علمه ، وأن الله تعالى فوق السموات بذاتـه مستو على عرشه كيف شاء”
وقال: قال أهل السنة في قوله :الرحمن على العرش استوى:إن الاستواء من الله على عرشه على الحقيقة لا على المجاز.”.

“Kaum Muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat (ijmak) bahwa makna firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” (QS. Al Hadid 4) dan ayat-ayat Al Qur’an yg semisal itu adalah Ilmu-Nya. Allah ta’ala di atas langit dengan Dzat-Nya, ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya sesuai kehendak-Nya”


80.  Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi juga mengatakan, “Ahlussunah berkata tentang firman Allah, “Tuhan yang Maha Pemurah, yang ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS Thoohaa : 5), bahwasanya ber-istiwa-nya Allah di atas Arsy adalah benar adanya bukan majaz.” (Sebagaimana dinukil oleh Ad-Dzahabi dalam Al-’Uluw 2/1315).
Imam Adz Dzahabi berkata, “At-Tholamanki termasuk pembesar para Huffazh dan  para imam dari para qurroo` di Andalusia” (Al-’Uluw 2/1315).


81.  Syaikhul Islam Abu Utsman Ash Shabuni (372 – 449H).
Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab(Al Qur’an)….
Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44).
Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-’Uluw 2/1317).


82.  Imam Abu Nashr As-Sijzi  (meninggal pada tahun 444 H).
Berkata Adz-Dzahabi (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656) : Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas  ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, Dia akan turun ke langit dunia, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”. Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-’Uluw 2/1321.


83.  Imam Abu Nu’aim -Pengarang Kitab al Hilyah-(336-430 H).
Beliau berkata di kitabnya al I’tiqod :
“Jalan kami adalah jalannya para salaf yaitu pengikut al Kitab dan As Sunnah serta ijmak ummat. Di antara hal-hal yang menjadi keyakinan mereka adalah Allah senantiasa  Maha Sempurna dengan seluruh sifat-Nya yang qodiimah…
dan mereka menyatakan dan menetapkan hadits-hadits yang telah valid (yang menyebutkan) tentang ‘arsy dan istiwa`nya Allah diatasnya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), Allah terpisah dengan makhluk-Nya dan para makhluk terpisah dari-Nya, Allah tidak menempati mereka serta tidak bercampur dengan mereka dan Dia ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya di langit bukan di bumi.” (Al-’Uluw karya Adz-Dzahabi 2/1305 atau mukhtashor Al-’Uluw 261).

Adz Dzahabi berkata, “Beliau (Imam Abu Nu’aim) telah menukil adanya ijmak tentang perkataan ini -dan segala puji hanya bagi Allah-, beliau adalah hafizhnya orang-orang ‘ajam (non Arab) di zamannya tanpa ada perselisihan. Beliau telah mengumpulkan antara ilmu riwayat dan ilmu diroyah. Ibnu Asaakir al Haafizh menyebutkan bahwa dia termasuk sahabat dari Abu Hasan al Asy’ari.” (Al-’Uluw 2/1306).


84.  Imam Ibnu Abdil Barr (meninggal tahun 463H).
Beliau  berkata: “Dalam hadits ini (tentang hadits nuzul) terdapat dalil bahwasanya Allah berada di atas langit, di atas arsy sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Hadits ini termasuk salah satu hujjah Ahli Sunnah terhadap kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyah yang berpendapat bahwa Allah ada dimana-mana, bukan di atas arsy”. [At-Tamhid 3/338. Lihat pula Kitab At-Tauhid hal. 126 oleh Imam Ibnu Khuzaimah, Dar’u Ta’arudzil Aqli wa Naqli 7/7 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah].


85.  Imam Ibnu Abdil Barr juga berkata :
“Dan kaum muslimin di setiap masa masih senantiasa mengangkat wajah mereka dan tangan mereka ke langit jika mereka ditimpa kesempitan, berharap agar Allah menghilangkan kesempitan tersebut.” [Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/47].


86.  Al-Imam Juwaini (ayahnya Imam Al-Haramain rahimahumallah, penulis kitab Al-Jauharah, tahun 438 H) berkata:

استوى على عرشه فبان من خلفه لا يخفى عليه منهم خافية علمه بهم محيط وبصره بهم نافذ وهو في ذاته وصفاته لا يشبهه شيء من مخلوقاته ولا يمثل بشيء من جوارح مبتدعاته . هي صفات لائقة بجلاله وعظمته لا تتخيل كيفيتها الظنون ولا ترها في الدنيا العيون . بل نؤمن بحقائقها وثبوتها واتصاف الرب تعالى بها وننفي عنها تأويل المتأولين وتعطيل الجاحدين وتمثيل المشبهين تبارك الله أحسن الخالقين فبهذا الرب نؤمن وإياه نعبد وله نصلي ونسجد . فمن قصد بعبادته إلى إله ليست له هذه الصفات فإنما يعبد غير الله وليس معبوده ذلك بإله

“Dia (Allah) bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya, ilmu-Nya melingkupi mereka, dan penglihatan terhadap mereka terbukti. Dalam Dzat dan sifat-Nya, Dia tidak menyerupai makhluk-Nya. Tidak juga dimisalkan dengan sesuatu dari anggota-anggota badan makhluk-Nya. Ini adalah sifat-sifat yang sesuai dengan keagungan dan keluhuran-Nya. Bagaimananya tidak bisa dibayangkan, dan tidak ada mata yang dapat melihat-Nya di dunia. Tapi kita harus meyakini kebenaran dan ketetapannya, serta menyifati Tuhan dengan sifat-sifat tersebut. Kita (harus) menafikkan penakwilan dari orang-orang muta’awwiliin, penolakan dari orang-orang yang ingkar, dan permisalan dari orang-orang musyabbihiin. Maha Suci Allah dan Ia adalah sebaik-baik pencipta. Kepada Tuhan ini kita beriman, menyembah, shalat, dan bersujud. Oleh karena itu, orang yang sengaja beribadah kepada Tuhan yang tidak memiliki sifat-sifat ini, maka sesungguhnya ia menyembah kepada selain Allah, karena yang disembahnya itu bukanlah Tuhan.” [Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 56-57].


87.  Imam ‘Abdul Malik al Juwaini [Imam Al-Haramain, tahun 478 H].
Pernah dikisahkan bahwa suatu hari Imam ‘Abdul Malik al Juwaini mengatakan dalam majelisnya, “Allah tidak dimana-mana, sekarang Ia berada di mana pun Dia berada.” Lantas bangkitlah seorang yang bernama Abu Ja’far al Hamdhani seraya berkata, “Wahai ustadz! Kabarkanlah kepada kami tentang ketinggian Allah yang sudah mengakar di hati kami ini, bagaimana kami menghilangkannya?” Abdul Malik al Juwaini berteriak dan menampar kepalanya seraya mengatakan, “Al Hamdhani telah membuat diriku bingung, al Hamdhani telah membuat diriku bingung.” [Lihat Siyar A’lamin Nubala 18/475, al ‘Uluw hal. 276-277 oleh Adz Dzahabi].

Akhirnya Imam Juwaini pun mendapat hidayah Allah dan kembali ke jalan yang benar. Semoga saudara-saudara kita yang tersesat bisa mengikuti jejak beliau. Amiin.


88.  Imam Isma’il bin Muhammad at Taimi berkata, “Kaum muslimin bersepakat bahwa Allah tinggi sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur’an.” [Ijtima’ Juyusy Islamiyyah hal. 182].


89.  Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni berkata:

قَالَ بَعْضُ أَكَابِرِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ : فِي الْقُرْآنِ ” أَلْفُ دَلِيلٍ ” أَوْ أَزْيَدُ : تَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَالٍ عَلَى الْخَلْقِ وَأَنَّهُ فَوْقَ عِبَادِهِ . وَقَالَ غَيْرُهُ : فِيهِ ” ثَلَاثُمِائَةِ ” دَلِيلٍ تَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ

“Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya. Dan sebagian mereka lagi mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini.” [Lihat Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 5/121, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H. Lihat pula Bayanu Talbisil Jahmiyah, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 1/555, Mathba’atul Hukumah, cetakan pertama, tahun 1392 H].


90.  Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H).
Beliau berkata dalam kitabnya Al-I’tiqood wal Hidaayah ilaa Sabiil Ar-Rosyaad : “Dan maksud Allah adalah Allah di atas langit, sebagaimana firman-Nya, “Dan sungguh aku akan menyalib kalian di pangkal korma”, yaitu di atas pangkal korma. Dan Allah berfirman “Berjalanlah kalian di bumi”, maksudnya adalah di atas muka bumi. Dan setiap yang di atas maka dia adalah samaa’. Dan ‘Arsy adalah yang tertinggi dari benda-benda yang di atas. Maka makna ayat –wallahu a’lam- adalah “Apakah kalian merasa aman dari Dzat yang berada di atas ‘arsy?” [Al-I’tiqood wal Hidaayah ilaa Sabiil Ar-Rosyaad, tahqiq : Abul ‘Ainain, Daar Al-Fadhiilah, cetakan pertama  bab Al-Qoul fi Al-Istiwaaa’ (hal 116)].


91.  Syaikh Abdul Qadir Jailani [470 H].
Beliau berkata: “Allah, menggenggam, membuka tangan, mencintai, senang, tidak suka, membenci, ridha, marah, dan murka. Dia memiliki dua tangan, dan kedua tangan itu kanan, dan bahwa hati para hamba berada di antara dua jari dari jemari-Nya. Dia berada di atas, beristiwa’ di atas Arsy, meliputi segala kerajaan-Nya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyaksikan keIslâman budak wanita ketika beliau bertanya kepadanya: “Di mana Allah?” Maka dia menunjuk ke atas. Dan bahwasanya Arsy Allah itu di atas air. Allah beristiwa’ di atasnya, sebelumnya (di bawahnya) adalah 70.000 hijab dari cahaya dan kegelapan. Dan bahwa arsy itu memiliki batasan yang diketahui oleh Allah.”

Beliau juga berkata:  “Seyogyanya menyebutkan sifat istiwa’ tanpa ta`wil. Bahwasanya ia adalah istiwa’nya Dzat di atas Arsy, bukan bermakna duduk dan bersentuhan sebagaimana yang dikatakan oleh kelompok Mujassimah Karromiyah; juga dalam arti ketinggian (kedudukan) seperti yang dikatakan oleh Asy’arîyyah, juga bukan beristila’ (menguasai) sebagaimana ucapan Mu’tazilah.”
“Allah juga turun ke langit terendah dengan cara yang Dia kehendaki, bukan bermakna turun rahmat-Nya atau pahala-Nya sebagaimana yang dikatakan oleh Mu’tazilah dan Asya’irah.” [‘Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah Li Thalibi `l-Haq, 56-57].


92.  Al Imam Ibnu Qudamah [wafat pada tahun 629 H].
Beliau mengatakan, “Amma ba’du: Sesungguhnya Allah mensifati diri-Nya bahwa Dia tinggi diatas langit, demikian juga Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam –penutup para Nabi- mensifati Allah dengan ketinggian juga, dan hal itu disepakati oleh seluruh para ulama dari kalangan shahabat yang bertaqwa dan para imam yang mendalam ilmunya, hadits-hadits tentangnya juga mutawatir sehingga mencapai derajat yakin, demikian pula Allah menyatukan semua hati kaum muslimin dan menjadikannya sebagai fithrah semua makhluk.” [Itsbat Shifatul Uluw hal. 12].


93.  Al Imam Al Qurthubi [Abu 'Abdillah, Muhammad bin Ahmad bin Farh al-Anshariy al-Khazrajiy al-Andalusiy al-Qurthubiy. Wafat tahun 671 H].
Beliau berkata dalam tafsirnya, “Tiada satupun dari kalangan Salafush Shalih yang ingkar bahwa Allah istiwa di atas ‘Arsy secara hakiki.” [Tafsir Qurthubi 7219].


94.  Al Imam an-Nawawi rahimahullah [al-Imam al-Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Mury bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi asy-Syafi’i . Lahir tahun 631 H, wafat tahun 676 H].
Beliau mengatakan dalam kitabnya “Juz Fi Dzikri I’tiqod Salaf fil Huruf wal Ashwath” :  “Kami mengimani bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya, sebagaimana telah diberitakan di dalam Kitab-Nya yang mulia. Kami tidak mengatakan bahwa Dia berada di setiap tempat. Akan tetapi Dia berada di atas langit, sedangkan ilmu-Nya di setiap tempat. Tidak ada satu tempat pun yang lutput dari ilmu-Nya. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), ‘Apakah kalian merasa aman dari hukuman Tuhan yang berada di atas langit?’ (Qs. al-Mulk: 16)…” [ad-Dala’il al-Wafiyah fi Tahqiq ‘Aqidati an-Nawawi a Salafiyah am Khalafiyah, transkrip ceramah Syaikh Masyhur Hasan Salman, hal. 42-43].

Imam Nawawi juga menegaskan ketinggian Allah dalam kitabnya Thobaqot Fuqoha Syafi’iyyah 1/470 dan Roudhoh Tholibin 10/85, dan beliau juga menulis kitab Al-Ibanah karya Abul Hasan al-Asya’ari sebagaimana dalam Majmu Fatawa 3/224 yang di dalamnya terdapat ketegasan tentang ketinggian Allah.


95.  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu [wafat tahun 728 H].
Beliau berkata: “Dan termasuk dalam hal yang kami sebutkan dari iman kepada Allah,yaitu beriman kepada apa yang Allah beritakan dalam kitabNya dan dengan apa yang telah diriwayatkan dari RasulNya secara mutawatir serta disepakati oleh Salafus Sholih,bahwa Allah itu berada diatas langit diatas Arsy-Nya. Allah Maha Tinggi diatas mahlukNya dan Allah Subhanahu wa ta’ala bersama mereka dimana saja mereka berada dan Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan. “ [Syarh Aqidah Al Wasithiyyah].


96.  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu juga berkata: “Masalah ini luas sekali, karena orang-orang yang menukil  ijma’ Ahlis Sunnah atau ijma’ Shahabat dan Tabi’in bahwa Allah di atas ‘Arsy, berpisah dari makhluk-Nya tidak bisa dihitung jumlahnya kecuali hanya Allah saja yang mampu…” [Bayanu Talbis Jahmiyyah 3/531].


97.  Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah [Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi al-Fariqi. Tahun 673 H - 748 H].
Beliau berkata mengomentari hadits budak jariyah,
“Demikianlah kita melihat setiap orang yang ditanya: Dimana Allah? Niscaya dia akan menjawab dengan fitrahnya: Allah diatas langit. Dalam hadits ini terdapat dua masalah:
Pertama, disyariatkannya pertanyaan kepada seorang muslim: Dimana Allah?
Kedua, jawaban orang yang ditanya pertanyaan tersebut: Di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini, maka berarti dia mengingkari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Azhim, (Mukhtasar al ‘Uluw, Albani, hal. 81)].


98.  Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah [Imad ad-Dien, Abu al-Fida`, Isma'il bin 'Umar bin Katsir ad-Dimasyqiy asy-Syafi'iy, seorang Imam, Hafizh dan juga sejarawan.Wafat tahun 774 H].
Beliau berkata dalam menafsirkan surat Al Hadiid: 4,
“…Dia bersama kamu…” ialah ilmu-Nya, pengawasan-Nya, penjagaan-Nya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit.” [Lihat Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317].


99.  Al Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah [wafat 751 H].

Beliau juga berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:  ‘Di mana Allah?’ Lalu dijawab oleh yang ditanya bahwa Allah berada di atas langit. Nabi pun kemudian ridha akan jawabannya dan mengetahui bahwa itulah hakekat iman kepada Allah dan beliau juga tidak mengingkari pertanyaan ini atasnya. Adapun kelompok Jahmiyyah, mereka menganggap bahwa pertanyaan ‘Dimana Allah?’ seperti halnya pertanyaan: Apa warnanya, apa rasanya, apa jenisnya dan apa asalnya dan lain sebagainnya dari pertanyaan yang mustahil dan batil!?”.  [I’lamul Muwaqqi’in (3/521)].



100.  Al-Hafizh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi [wafat tahun 792 H].
Beliau mengatakan: “Dalam hadits Mi’raj ini terdapat dalil tentag ketinggian Allah ditinjau dari beberapa segi bagi orang yang menceramatinya”. [Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 1/277].

101.  Al-Hafizh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi juga mengatakan, “Dalil-dalil yang muhkam (yang begitu jelas) menunjukkan ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Dalil-dalil ini hampir mendekati 20 macam dalil”. [Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 2/437].


Oleh Abu Fahd Negara Tauhid, dengan menukil dari berbagai macam sumber.
101 Dalil Pernyataan Ulama Shalafush Shaleh Bahwa ALLAH beristawa di Atas Arsy Reviewed by Admin on 12:00 AM Rating: 5 Dari  Abu Razin  berkata: Saya pernah bertanya: “Ya Rasulullah, dimana Allah sebelum menciptakan makhlukNya?” Nabi menjawab: “Dia berad...

26 comments:

  1. Hadits di atas merupakan hadits mutasyabihat yg harus dita'wil, karena bertentangan dg ayat-ayat AlQuran dan Al Hadits yg muhkamat, Allah ada tanpa tempat, Allah tidak di Arsy, Allah tidak di langit, Allah tidak dimana-mana, Allah tidak di semua tempat maupun di suatu tempat. namun Allah ada tanpa tempat, karena mempercayai tempat bagi Allah berarti menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.

    ReplyDelete
  2. Banyak perkataan Ulama diatas yg didistorsi dan dipotong-potong,, Aqidah Imam Abul Hasan Al-Asy'ari adalah Aqidah tanzih (bukan tajsim), Semua Ulama Mazhab Al-Asy'ariyah dari kalangan Syafi'iyah, malikiyah, sebagian hanafiyah, dan fudhola hanabila bersepakat bhwa Allah ada tanpa tempat,

    ReplyDelete
  3. kalau menurut kamu ada perkataan ulama yang dipotong di atas, ya silahkan tunjukan saja bagian mana yang dipotong dan yang benarnya seperti apa, kan beres. aqidah para ulama memang Allah tanpa tempat.. tapi dalam defenisi tempat seperti apa? Perkataan ulama jangan diplintir.
    mereka juga berkeyakinan berakidah bahwa Allah di Langit Allah beristawa di atas Arsy. seperti yang disebutkan di atas, nash-nash kuat malah turut memperkuat pandangan tersebut.

    ReplyDelete
  4. dari mana kamu tau Allah tidak ada di langit, tidak ada di Arys sementara Nash menyatakan Ar-Rahmanu 'alal Arsyis Tawa, di ayat lain disebukan setelah Allah menciptakan langit dan bumi kemudian Allah beristawa di atas Arsy.


    kemudian defenisi menyamakan Allah dengan makhluk itu seperti apa? parameter menyamakan Allah dengan makhluk itu seperti apa?


    Allah Punya sifat, makhluk juga punya sifat.. apakah ini tidak disebut Allah sama dengan makhluk?
    Allah mengetahui, makhluk juga punya sifat mengetahui apakah di sini tidak dikatakan menyamakan dengan makhluk?

    ReplyDelete
  5. Maksudnya ga memahami perkataan ulama semuanya, hanya mengambil sepotong
    kalimat perkataan ulama, pdahal ada penjelasannya, Misalkan tak
    contohkan begini iya, Dalam ayat Al-Quran orang yang celaka dan masuk
    neraka malah orang yg sholat, ayatnya begini fawailullil mushollin
    artinya "celakalah bagi orang yang sholat". Karena hanya mengambil
    sepotong, tidak mengambil keseluruhan pendapat ulama dalam bukunya, maka
    apa yg dimaksudkan ulama tidak tersampaikan. Trus kalau dibahas semua
    iya kebanyakan, ga perlu lah, intinya Allah itu ada tanpa tempat, logis
    kan? Kalau mempercayai tempat itu bersama Allah sejak dulu, berarti kita
    kufur, karena meyakini ada sesuatu yang tidak diciptakan oleh Allah SWT
    yaitu tempat. Kalau sejak dahulu, Allah ada tanpa tempat sebelum
    diciptaknnya tempat, maka sekarang juga sama, Allah tetap ada tanpa
    tempat setelah diciptakannya tempat itu, karena kalau ada perubahan pada
    dzat Allah berarti dia baru ,sama seperti makhluk-Nya. Ayat bahwa Allah
    beristiwa di arsy bukan menunjukkan bahwa Allah bertempat pada Arsy,
    melainkan Allah menjadikan kekuasaan-Nya pada Arsy (karena Arsy adalah
    makhluk Allah paling besar ukurannya). Istawa sendiri dalam bahasa Arab
    memiliki banyak arti yaitu bisa berdiri, duduk, bersemayam, menetapkan
    dll, Makanya istawa harus dita'wil misalnya dengan menguasai, agar tidak
    bertentangan dg ayat muhkamat bahwa Allah tidak menyerupai segala
    sesuatu dalam aspek apapun. (kalau Allah bertempat berarti sama dg
    makhluk-Nya). Kalau nash-nash kuat malah turut memperkuat pandangan
    bahwa Allah di atas Arsy, maka ada nash2 lain yang memperkuat bahwa
    Allah tidak di langit (di arsy). Misalnya ayat yg menyatakan bhwa Allah
    bersama dimana saja kamu berada (berarti Allah ada dimana-mana dong, di
    wc, di jamban, di tong sampah). Maha Suci Allah dari sifat bertempat.
    Ada ayat lagi yg menyatakan bahwa Allah lebih dekat kepada kita daripada
    urat nadi, katanya Allah di langit yang jauh disana, ternyata Allah
    dekat dengan kita, bhkan menempel dg kita. Maha Suci Allah dari sifat
    menempel dan menyatu dg makhluk-Nya. sehingga banyak ayat-ayat Al-Quran
    yang bertentangan satu sama lain,. Makanya ayat-ayat Mutasyabihat
    (mazas) seperti Allah di atas arsy (langit), Allah ada dimana-dimana,
    dan Allah dekat dengan kita harus dikembalikan pemaknaannya terhadap
    ayat-ayat AL-Quran yang muhkamat (jelas) yaitu bahwa Allah tidak
    menyerupai makhluk-Nya, Dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia.
    Dengan mengembalikan ayat mutasyabihat pada ayat yg muhkam, maka
    ayat-ayat Al-Quran tidak ada yang berlawanan satu sama lain.

    ReplyDelete
  6. Berarti Allah sama dengan kita donk, karena terjadi perubahan pada dzat Allah yang semula tidak berada di Arsy, kemudian berada di Arsy. Jadi perubahan-perubahan yg hanya dimiliki oleh makhluk, tidak akan dimiliki oleh Dzat Allah. Dzat Allah tetap sejak dahulu, tidak berubah-berubah. Allah bukan benda (Jizm) , bukan sifat benda (sperti duduk, berdiri, bertempat, turun, naik, bersemayam, dll). Sifat seperti duduk, berdiri, bertempat, bersemayam, turun, naik , berjarak, seakan-akan Allah itu benda (Jizm). Allah berbeda dengan makhluk dari segi apapun, dari segi Dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Ayo kita berfikir, kalau Allah memang bertempat di Arsy, berarti ada 3 kemungkinan, Allah lebih besar dari Arsy atau Allah sama besar dg Arsy, atau Allah lebih kecil dari Arsy (tempatnya). Hal ini berarti mengatakan bahwa Dzat Allah terbatas dan memiliki ukuran maupun bentuk menyesuaikan dg tempatnya. Maha Suci Allah dari memiliki ukuran dan bentuk, karena Dia bukanlah materi (benda) karena setiap benda pasti tersusun atas susunan yang lebih kecil, sampai

    yang tidak bisa dipecah lagi yaitu Jauhar (Substansi/materi terkecil penyusun benda). Sedangkan Allah bukanlah jauhar. Menyamakan Allah dg makhluk sperti menyamakan dzat Allah dg makhluk (Dzat Allah bukanlah benda, sdgkan makhluk adalah benda), menyamakan sifat Allah dg sifat manusia (Sifat Allah misalnya Mutlak ada, sdgkan makhluk wujud mumkin). Artinya adanya Allah tidak butuh pada adanya makhluk, sdgkan adanya makhluk membutuhkan yg mengadakan yaitu Allah. Allah ada sejak dahulu tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat, sdgkan makhluk dibatasi oleh waktu dan tempat. Setiap eksistensi (wujud) itu pasti memiliki esensi yang membedakan satu dg yang lainnya. Eksistensi Dzat Allah berbeda dg makhluk, karena dibedakan oleh esensinya (misalkan sifat). Allah memiliki sifat, Sifat itu sejak dahulu ada pada Allah, Sifat itu bukan sesuatu yang keluar /terpisah dari dzat-Nya tapi merupakan bagian dari esensi-Nya. Sifat Allah tidak sama dg makhluk-Nya. Kalau meniadakan sifat pada Allah SWT, sama dg meniadakan esensi-Nya, padahal Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah memiliki Sifat yang membedakannya dg makhluk, namun sifat itu tidak boleh disamakan dg manusia. Misalkan Allah Maha Mengetahui karena memang Allah mengetahui segala sesuatu sebelum menciptakan segala sesuatu. Allah memiliki pengetahuan yang Luas, shg Dia Maha Mengetahui dengan Pengetahuan-Nya (Ilmu-Nya). Tidak sesuatu yang tidak diketahui oleh Allah SWT, karena Allah mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui apa yang akan terjadi, tidak ada daun yang kering pun jatuh melainkan Dia telah mengetahui-Nya. Sdgkan manusia tidak mengetahui apa yg akan terjadi, manusia tidak akan tahu kapan dia akan mati, mati sperti apa, dia tidak akan mengetahui. Sedangkan Allah Maha Tahu sampai yang sedetil apapun, karena Allah Maha Mengetahui sedetil-detilnya. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari Ilmu Allah SWT.

    ReplyDelete
  7. Eksistensi mendahului esensi. Eksistensi bersifat primer dan
    merupakan satu-satunya hakekat-hakekat atau realitas yang dimiliki Allah SWT,
    sdgkan esensi dan sifat-sifat-Nya bersifat sekunder. Tdk bisa dibayangkan
    esensi tanpa eksistensi, tetapi tdk demikian sebaliknya. Namun Eksistensi dan
    esensi, keduanya sama-sama realitas yang nyata. Eksistensi adalah realitas yg
    sesungguhnya dan realitas itu hanya satu, yaitu Allah SWT, sedgkan esensi tidak
    lain adalah bentuk-bentuk dalam pengetahuan-Nya (Al-A’yan al-tsabithah). Semua
    yg ada dalam semesta (wujud-wujud aktual), dalam segala keadaannya, pada
    awalnya telah ada secara potensial (mumkin) dalam Ilmu Allah SWT
    (pengetahuan-Nya). Tidak ada satu pun yg lepas dari rencana yang telah
    ditetapkan Allah SWT dari permulaannya. Tidak ada satu pun yang terlepas dari
    Pengetahuan Allah SWT.

    Realitas-realitas aktual tidak lain adalah aktualisasi dari Ilmu
    Allah SWT sehingga segala sesuatu yang menjadi pengetahuan-Nya tidak berbeda
    dengan entitas2 (wujud2) yang tampak riil dalam alam semesta. Satu2nya yang
    membedakan hanya dari aspek kualitas, yaitu bhwa realitas potensial masih dalam
    pengetahuan Allah swt tidak berwujud konkret dan bebas dari ruang dan waktu,
    sdgkan realitas aktual yang ada di alam semesta ini bersifat konkret serta
    terikat dg ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  8. nah ini perlu diklarifikasi, Eksistensi mendahului Esensi itu menurut siapa? dan parameter siapa yang digunakan, makhluk atau Allah?
    Jika makhluk eksistensi mendahului Esensi, jika Allah apakah parameter kamu berlaku hal yang sama?

    ReplyDelete
  9. sekali lagi tergantung kamu memaknai defenisnya, Jika kamu memaknai bahwa Dzat Allah sama dengan makhluk maka Dzat Allah berubah karena beristiawa di Arsy yang sebelumnya tidak beristawa di Arsy.

    ReplyDelete
  10. nah ini apa itu definisi? Definisi itu mencakup apa saja dan bisakah definisi menjelaskan kebenaran universal (mutlak)? Apakah sifat-sifat dari definisi (relatif atau mutlak)?Bisakah definisi dimutlakkan? Apa bedanya definisi dengan esensi? Iya memang terserah yang memaknai apakah kita memaknai Allah sama dg makhluk atau tidak sama dg makhluk. Berarti menurut kamu, boleh saya memaknai bhwa Dzat Allah tidak sama dg makhluk dg mengatakan bhwa Allah bertempat di Arsy tapi tidak sama dg bertempat makhluk, Allah mempunyai tangan tapi tidak seperti tangan kita, Sama saja meskipun kita tidak menyamakan Allah dg makhluk-Nya, tapi tetap saja kita membandingkan Allah yang bukan benda dg makhluk yang merupakan benda, Tangan Allah tidak seperti tangan kita, tangan kucing juga tidak sama dg tangan kita, tangan kera juga tidak sama dg tangan kita, Defininya benar, tapi esensinya kita akan menganggap tangan Allah itu seperti anggota badan bukan dimaknai dg sifat Allah. kita juga akan mengkhayalkan sesuatu sifat fisik bagi Allah.Padahal Allah bukan benda, dan bukan sifat benda. Jadi Mendefinisikan Allah atas asumsi-asumsi yang salah. Menyatakan Allah bertempat di Arsy juga salah, meskipun kita memaknainya (mendefinisikannya) tidak sama dg makhluk, bertempat Allah di Arsy tidak sama dg bertempat makhluk, asumsi-asumsi yg tidak berdasar dan hanya khayalan2 manusia ( mereka berkhayal seakan-akan mustahil sesuatu itu ada tanpa tempat, setiap yang ada itu pasti ada tempatnya, Allah ada juga ada tempatnya, tapi kita tak tahu, Hanya Allah yang tahu). Mereka berasumsi-asumsi bhwa yang ada itu pasti ada tempatnya, mereka menafikkan bhwa ada sesuatu yang tidak butuh tempat. Mereka akan mengatakan kalau kita meniadakan tempat bagi Dzat Allah berarti sama saja dg meniadakan Allah. Itulah asumsi yang salah dan harus dibenarkan. Kalau kita mengasumsikan sesuatu itu salah, apalagi dalam mendefinisikannya jelas salah juga.

    ReplyDelete
  11. Menurut Ibnu Sina, Al-Farabi dan Imam Al-Ghozali. Iya tergantung kamu mendefinisikannya. Mau kamu definisikan eksistensi mendahului esensi, ataupun esensi mendahului eksistensi terserah pendefinisian kamu. Manusia itu hanya wujud mumkin (potensial) yang ada dalam pengetahuan Allah SWT, berarti untuk manusia esensi mendahului eksistensi. Karena makhluk dikatakan eksistensi jika mereka sudah menjadi realitas aktual (bersifat konkret serta terikat ruang dan waktu), karena sebelumnya manusia masih belum ada secara konkret. Sedangkan eksistensi Allah sudah realitas aktual/nyata (mesipun tidak terikat ruang dan waktu).

    ReplyDelete
  12. Lah iya terserah anda mendefinisikan tempat itu apa, ketika anda mendefinisikan berdasar pada asumsi-asumsi dan persepsi sensual yang salah, maka hasil definisi (interpretasi) anda juga salah. kata anda, tempat juga bisa memiliki banyak makna dan interpretasi, apa saja makna tempat menurut anda? Apa makna bertempat yang sesuai dg keagungan Allah SWT menurut anda?

    Makna bertempat seperti apa menurut anda, shg dikatakan Allah bertempat di Arsy (langit) itu tidak sama dg sifat bertempat makhluk? Kalau saya yg menjelaskan semuanya, nanti anda tidak mau berfikir secara logis (masuk akal)?

    ReplyDelete
  13. kalau pake defenisi terserah, maka otomatis kebenaran yang kamu maksudkan tidak universal hanya persepsi semata, alias hanya berlaku untuk kamu saja pada orang lain belum tentu.

    Tempat bisa saja dalam defenisi Allah yagn Hanya Allah sendiri yang Tahu. sebagaimana melihatnya Allah, mendengarnya Allah dimana melihat dan mendengar merupakan sifat makhluk juga namun defenisi mendengar dan melihatnya disini tidak serupa dan khusus untuk Allah hanya Allah sendiri yang tahu seperti apa realitas dari sifat melihat dan mendengar itu senidri yang kita tahu hanya sedikit.

    Dalam defenisi manusia saja tempat bisa berarti macam-macam, Ayam di dalam kurungan, tidak sama dengan file Office di dalam Plasdiks, atau Twitter di dalam HP.
    Tempat bisa bermakna wadah, tapi bisa bermakna sebagai ukuran sebuah keberadaan, tempat bisa bermakna wadah, juga bisa bermakna dimensi, sama halnya dengan waktu.
    Dalam Hadits disebutkan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah Pena. Jika yang pertama kali adalah pena logika kita mengatakan bahwa saat itu tempat (arti realita) belum diciptakan. maka otomatis kedudukan Pena dan Allah saat itu sama-sama tidak bertempat.

    ReplyDelete
  14. Mendefenisikan atau mendudukan defenisi menjadi penting agar kesimpulan yang diambnil tidak kacau. sejak awal defenisi Jisim yang kamu artikan sifat benda. defenisi tempat, kemudian defenisi Dzat sudah kacau tidak teratur yang melahirkan kesimpulan kacau pula.

    Kalian getol mempersoalkan Masalah Jism. padahal sifat Makhluk tidak hanya berjism tapi juga ada makhluk yang tidak berjism. artinya ketika mempersoalkan makna Jism pada Allah, saat yang sama justru menempakan Allah pada sifat makhluk juga.
    Malaikat itu berjism tidak? Ruh itu memiliki Jism tidak? Islam (dinul Islam) itu makhluk berjism tidak?
    ketika mempersoalkan makna jism yang kemudian ditolak pada saat yg sama malah menempatkan Allah pada sifat makhluk juga. yakni makhluk yg tidak berjism.
    ketika menyebutkan Allah bertangan tak berarti kita menyamakan ALlah dengan tangan yang dimaksud adalah tangan (tubuh) atau tangan dalam arti harfiah/kiasan atau lainnya karena kita tidak pernah melihat Allah secara otomatis tidak perlu mencari-cari maksudnya karena maksudnya yang pasti hanya Allah yang tahu.
    demikian pula ketika Dzat ALlah ketika dikatakan ALlah beristawa di atas Arsy, kemudian dikatakan makna itu meruskan kesucian Allah padahal tidak ada yg tahu seperti apa itu Arsy (apakah tempatnya sama dengan tempat dalam defenisi makhluk atau tidak sama) kemudian apakah sama Dzat Allah dengan zat dalam defenisi makhluk. ketika menyimpulkan Allah bertempat dan itu tidak pantas, itu merupakan sikap lancang, karena yg menyimpulkan tidak pernah tahu seperti apa Dzat Allah dia malah menyamakannya dengan ukuran zat yang ada pada makhluk, dan dia juga tidak pernah tahu seperti apa Arsy namun secara sepihak ketika Allah beristawa di atas Arsy malah disimpulkan itu tidak pantas.

    ReplyDelete
  15. Akal tidak selalu bersifat relatif. Itu hanya
    pendefinisian bhwa sifat nafsiah yang
    mutlak (wajib) ada pada Tuhan adalah eksistensi (Wujud). Tuhan itu wajib ada,
    karena kalau Tuhan tidak ada, makhluk juga tidak akan ada. Dan membahas dan
    membayangkan ketiadaan Tuhan itu adalah mustahil (tidak logis). Karena sama
    saja kita membayangkan seorang anak yg lebih tua dari orang tuanya. (Itu adalah
    hal mustahil). Sama-sama benar terserah orang mendefinisikannya (karena Cuma dalam
    hal teknis memahami Allah). Yang penting masuk akal dan dapat diterima secara
    logis. Ada orang yang berpendapat bahwa Esensi Allah mendahului eksistensi. Dzat
    Allah azaliyah, eksistensi-Nya azaliyah, wujud-Nya azaliyah. Esensi adalah
    hal-hal yang berhubungan dengan Dzat-Nya, sperti sifat-sifat Tuhan seperti Ilmu
    (Pengetahuan) adalah bagian dari esensiNya. Sifat-sifat Allah itu bukan
    Dzat-Nya, namun bagian dari esensi-Nya. Sifat-sifat Allah itu telah melekat pada
    Dzat-Nya sejak azaliyah. Dzat Allah azaliyyah, sifat-sifatNya juga azali. Tidak
    dapat dikatakan sifat Tuhan itu juga Tuhan karena sama-sama azali, sperti yg
    dikatakan oleh kaum Mu’tazilah, sehingga aliran Mu’tazilah menafikkan adanya
    sifat bagi Tuhan. Karena kalau sifat Allah tidak azali bersama Dzat-Nya,
    berarti sifat-sifat Allah baru sperti makhluknya. Allah sejak azali memiliki
    sifat-sifat kesempurnaan, sifat-sifat keangungan yang telah ada bersama
    dzat-Nya. Dan Sifat-sifat Tuhan itu bagian dari esensi-Nya yang juga azali.
    Jadi persepsi akal tidak bertentangan dengan wahyu. Karena saya tidak menyamakan
    Allah dg makhluk-Nya . Hal ini berbeda dg pendefinisian tempat bagi Dzat-Nya.
    Hal ini selain tidak logis juga bertentangan dengan Nash-nash Qath’I (jelas
    maknanya) yang menyatakan bahwa Tuhan tidak sama sperti makhluk dalam konteks
    apapun.

    Buktikan kalau dg mengatakan eksistensi Allah
    mendahului esensi Allah bertentangan dengan sifat Azaliyah Allah swt? Karena
    saya hanya mengatakan Eksistensi itu bersifat primer untuk kita ketahui dan
    pahami maknanya, sedangkan sifat-sifat-Nya adalah bersifat sekunder. Karena
    untuk memahami sifat-sifat Tuhan, kita harus pahami dan yakini dulu
    eksistensi-Nya (Keberadaan-Nya). Kan aneh kalau kita membahas sifat-sifat Tuhan
    bhwa Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Tuhan itu Maha Adil, namun kita
    sendiri belum memahami eksistensi-Nya (Wujud-Nya). Kita harus yakin Allah ada
    dahulu, baru kemudian memahami dan meyakini sifat-sifat kesempurnaan dan
    keagungan Allah SWT.

    ReplyDelete
  16. Benar, ada ulama salaf yang tidak menakwil dan menafsirkan sifat-sifat yang
    kelihatnnya Allah seprti makhluk (berupa fisik). Ada ayat yang menyatakan bahwa
    Allah mempunyai satu tangan, ada yang menyatakan 2 tangan, kalau Allah
    mempunyai tangan seharusnya Dia juga
    memiliki kaki. Seharusnya Dia juga punya kepala agar lengkap Jizm (Tubuh-Nya). Tapi sayang tidak ada yang mengetahui Dzat
    (tubuh) Allah sperti apa? Jangan-jangan dia tidak memiliki jari-jari tangan
    atau jari-jari kaki. Sungguh sesat dan berbahaya jika tangan di ayat Al-Quran
    ini diartikan secara hissi (fisik/ anggota tubuh) .Namun Ulama salaf ada yg
    menyatakan bhwa Allah mempunyai tangan (dalam maksud bukan anggota badan), namun
    Tangan diartikan dg sifat-Nya yang sesuai dengan keagungan-Nya. Ulama tersebut tidak
    mengartikan secara fisik arti tangan, namun diartikan secara maknawi
    (menyerahkan makna tangan sebenarnya kepada Allah). Namun ada sebagian ulama
    menyatakan Allah memiliki tangan tapi tidak sperti tangan manusia. Sebenarnya itu
    bukanlah pernyataan dalam Ayat Al-Quran, itu termasuk dalam pendefinisian yang
    salah, membandingkan ketaksamaan tangan Allah tehadap tangan manusia. Berarti
    secara tidak langsung ulama tersebut menganggap tangan dalam ayat Al-Quran ini
    seberti anggota tubuh (namun tidak sperti tangan manusia). Itulah yang salah.
    Namun ketika seseorang tidak mengartikan tangan itu secara fisik (anggota
    badan) dan menyerahkan makna tangan sebenarnya kepada Allah, maka itu dapat
    dibenarkan. Oleh karena itu ulama zaman sekarang menakwil tangan dengan arti
    kekuasaan, agar orang awam tidak salah maksud dg ayat bhwa Allah mempunyai
    tangan. Allah ber-istiwa di Arsy. Dalam
    bhasa Arab istiwa itu banyak artinya tidal hanya bertempat atau bersemayam,
    Sehingga ulama salaf dulu tidak mengartikan istiwa Allah (sebagai bertempat
    Allah), namun menyerahkan makna istiwa yang sebenarnya kepada Allah SWT. Karena
    Hanya Allah Yang mengetahui makana istiwa yang sebenarnya. Namun ada ulama yang
    mendefinisikan istawa adalah bertempat Allah, dan Hanya Allahlah Yang
    mengetahui cara bertempatnya Allah diarsy. Hanya Allah sendiri yang mengetahui
    Tempat-Nya. Itu pendefinisian yg salah. Kog bilang belum ketemu Allah. Kamu
    juga belum ketemu Allah, kog berani mengatakan bahwa Allah bertempat di Arsy?
    Yang benar makna istawa adalah istawa yang sesuai dengan keagungan Dzat Allah
    SWT menurut ulama salaf dulu. Bukan malah mengatakan bahwa Allah bertempat di
    Arsy, dan hanya Dia sendiri yang tahu bagaimana Dia bertempat di Arsy. Atau
    malah menyatakan Sebenarnya Allah bertempat, dan Hanya Allah yang tahu
    bagaimana Dia bertempat dan dimana dia bertempat? Saya belum ketemu Allah dan
    kamu juga belum ketemu Allah, tapi kita bisa memahami bhwa Dia tidak sama
    dengan makhluk-Nya. Tidak malah mengartikan istawa dg bertempat. Istawa adalah
    menyerahkan makna istawa yang benar kepada Allah SWT dan istawa Allah sesuai dg
    keagungan-Nya). Bukan malah Allah bertempat, padahal bertempat itu hanya bagi
    makhluk.

    ReplyDelete
  17. Hehe makanya istawa Allah di atas Arsy bukan berarti bertempat Allah di Arsy.Arsy itu mempunyai ukuran, karena di dalam Hadits, Nabi saw pernah mengatakan bhwa makhluk Allah paling besar adalah Arsy. Ketika kita mengartikan Allah bertempat di Arsy berarti Allah berukuran juga bisa lebih besar, sama atau lebih kecil dari Arsy. Istawa Allah diatas Arsy menurut ulama salaf adalah menyerahkan makna Istawa yang sebenarnya Kepada Allah SWT dan Istawa Allah adalah istawa yang pantas bagi keagungan Allah SWT. Kalau diartikan Istawa sebagai bersemayam (bertempat) berarti Allah sama dengan makhluk. Karena bertempat hanyalah sifat-sifat makhluk. Jadi makna Istawa Allah yang benar adalah hanya Allah yang
    Tahu. Bukan Istawa diartikan dengan bertempat dan Hanya Allah Yang Tahu bertempatnya Dia di arsy.. Kita juga sama-sama belum bertemu Allah, janganlah kamu memaknai istawa Allah di Arsy dengan bertempatnya Allah di Arsy. Arti Istawa hanyalah Allah yang mengetahui. Sementara Ulama khalaf takut jika istawa ini tidak dita’wil (digerser maknanya), maka orang awam akan mengira/ beranggapan bhwa Allah bertempat di Arsy. Maha Suci Allah dari Tempat. Dia tidak butuh pada tempat. Dia tidak bergantung pada segala sesuatu termasuk tempat. Ulama Khalaf akan memaknai istawa dengan mengusai, berarti Allah
    menguasai Arsy, bukan bertempat di Arsy. Dan itu tidak bertentangan dengan ayat Al-Quran yang lain, bhwa Allah itu berkuasa atas segala sesuatu, berarti Allah juga berkuasa atas Arsy dan semua makhluk-Nya.

    Al Imam Ali bin Abi Thalib -semoga Allah
    meridlainya- mengatakan yang maknanya: "Sesungguhnya Allah menciptakan 'Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi
    Dzat-Nya" (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)

    ReplyDelete
  18. Kadang saya g habis pikir ketika ditunjukan dalil dari Al-Qur'an dan Hadits tidak diterima, ketika ditunjukan pandanga para Ulama Salaf yang menyatakan seperti itu tidak terima juga. nanti dialog dengan logika juga tidak terima juga..


    maunya apa?

    Dzat Allah tidak sama dengan makhluk saat kamu mengukur Dzat Allah dengan ukuran Zat yang ada makhluk maka kamu sudah lebih dulu menyamakan Dzat Allah dengan makhluk dan menyebutkan Dzat ALLAH terbatas dan lemah karena hanya karena bertempat Dzat Allah menjadi Berubah.


    Kemudian apakah Makna tempat selalu tidak pantas bagi ALLAH? disini kamu sudah lebih dulu menyemakan Allah dengan makhluk soal Tempat. padahal tempat itu punya banyak defenisi dan perspektif. Misal Ikan di dalam Akuarium maka Ikan dibatasi oleh Tempat (akuarium), tapi bagaimana dengan Facebook di dalam Laptop / HP, HP//Laptop tak bisa membatasi Facebook walaupun Facebook berada di dalam HP. karena faktanya FB bisa diakses ditempat lain atau perangkat lain.. di sini Makna tempat sudah berbeda. kalau kamu mengatakan bahwa Bertempatnya Allah berarti Tempat membatasi ALLAH. kamu dapat kesimpulan dari mana?
    Tempat dalam defenisi di atas, Facebook dan Laptop sudah tidak sama, laptop sudah tidak bisa membatasi Facebook.


    yang paling gampang, Bumi adalah tempat,, Rumah, atau Jika Semut berada di dalam Rumahnya (semisal di dalam Tanah) tertutupi tempat, apakah ALLAH terbatasi dengan adanya tempat bagi semut?
    Jawabnya pasti tidak terbatasi.
    lantas dari mana mengambil kesimpulan tempat dapat membatsi ALLAH. tempat dapat merubah Dzat ALLAH. seolah2 Dzat ALLAh itu kaya zat padat, cair gas yang bisa berubah2 / MUDAH BERUBAH2.

    ReplyDelete
  19. nah ini lagi, soal ukuran Arsy, yang disebut Besar. hati-hati ketika bicara soal perkara ghaib yang tidak pernah kamu liat dan buktikan sendiri, jangan langsung nyerobot myimpulkan... Kata-kata Besar, Ukuran itu punya makna-makna dan perspektif yang beda-beda.
    Besar di makhluk, bisa seperti Mobil Pic Up besar dari sepeda Motor.
    atau File Windows 7 lebih besar dari file windows xp, Raja Agung itu duduk bersama pembesar-pembesar kerajaannya. atau membesarkan hati dan berlapang dada...
    Kata-kata Besar sudah punya makna beda2... trus ketika Arys adalah makhluk terbesar, Besar yang mana yang dimaksud, besar Ukuran File. atau Besar Fisik besar kiasan/majaz atau besar yang mana?


    Allah juga disebut maha Besar, besar disini besar seperti apa? kalau kita tidak tahu karena itu perkara ghaib cukuplah kita mengimaninya tanpa perlu mencari2 apalagi sampai menetapkan fisik rinciannya padahal kita tidak tahu maksud sesungguhnya.

    ReplyDelete
  20. Allah Maha Besar, bukan arti secara ukuran, Malaikat ghaib, Allah juga Ghaib, apa yg membedakan malaikat dg Allah? kan sama-sama ghaib? Allah Maha Besar bukan secara hissy (inderawi), namun secara ma'nawi. Ketika menyatakan besar makhluk kita boleh membandingkan dg yang lain. Namun Allah jgan kau umpamakan dg file Windows 7, Besar mobil, atau besar persepsi manusia. Kalau Arsy, jelas makhluk Allah yang paling besar, karena sesuai dg hadits. ya jelas besar Arsy, manusia ga akan ngerti besar ukuran Arsy, Hanya Allah Yang Tahu. Anda mengukur tingginya langit juga ga akan bisa, Hanya Allah Yang Tahu. Allah Maha Tinggi, lebih tinggian mana dg langit? Maha Tinggi Allah ga boleh diartikan secara hissi (inderawi), namun harus secara ma'nawi. Kalau Arti tinggi Allah kamu artikan secara ketinggian, maka bisa saja ajudan pangkatnya lebih tinggi daripada presiden, karena ajudannya sedang berada di lantai 2, sdgkan presiden di lantai pertama. Jadi tinggi presiden itu diartikan secara pangkatnya lebih tinggi daripada ajudan. Allah Maha Tinggi, Maksudnya Maha Agung derajat-Nya dan tinggi kedudukan-Nya dan tidak ada yang menyamai keagungan-Nya. Jadi salah kalau mengartikan Allah Maha Tinggi dg menyatakan bhwa Allah tempatnya paling atas atau tempatnya paling tinggi, lebih tinggi dari langit. Cukuplah kita mengimani Allah ada tanpa tempat dan Dia Maha Suci dari Tempat.

    ReplyDelete
  21. he he nah bingung sendiri kan akhirnya. kamu sudah secara otomatis mengakui bahwa Tempat tidak selalu membatasi tidak selalu bermakna fisik, sebagaiman Facebook kamu sudah mengakui bahwa Laptop tak membatasi FB. Saat FB diakses disebuah Laptop, Meskipun FB berada di dalam laptop tersebut, FB tetap bisa diakses diLaptop Lain atau di HP, Tablet, Komputer atau Server Pusat, Laptop yang digunakan tak membatasi Facebook yang ada di dalamnya.
    kalau kamu sebutkan tidak bisa diakses di Buku, ya iyalah, Facebook tidak berada di Buku.
    di sini Makna Tempat sudah berbeda, dan mungkin kalau diperpanjang Defenisi tempat akan ada sangat banyak lagi. semisal saat Manusia dicabut nyawanya oleh malaikat Ruh yang ada di jasad keluar dari tubuh, tubuh yang merupakan tempat dari RUh apakah bisa membatasi Ruh keluar dari Tubuh, kan tidak juga. bahkan tidak ada tanda atau bekas luka fisik yang Rusak saat Ruh keluar dari tubuh. atau mungkin saat Seekor Tikus di dalam Lubang yang diselimuti TEMPAT. apakah Tempat (lubang) tersebut dapat MEMBATASI KUASA ALLAH, PENGLIHATAN ALLAH DSB TERHADAP TIKUS?
    jika tidak, bagaimana bisa menyimpulkan Tempat dapat membatasi ALLAH?

    Untuk FB adalah contoh sederhana kalau Tempat punya banyak defenisi. Kalau kamu, saya, dan semua orang tidak pernah melihat ALLAH secar alangsung, Tidak pernah juga jalan-jalan ker Arsy ALLAH. tidak pernah juga melihatnya, Dari mana kamu tahu kalau Arsy ALLAh defenisinya adalah Tempat FISIK, dan MEMBATASI ALLAH?
    nah kan bingung sendiri. kalau kamu menyatakan dari defenisi tempat, kamu salah total, defneisi tempat punya makna makna dan perspektif. Menyimpulkan makna bahwa Tmepat disana adalah Terbatas dan membatasi dengan kata lain membatasi ALLAH. itu adalah kesimpulan yang dipaksakan.

    ReplyDelete
  22. ha ha nah tambang bingung lagi. itulah salahnya kalau sejak awal sudah berani mematok makna ini dan itu. ujungnya bingung sendiri.


    Nah kalau kamu sendiri tau defenisi besar itu banyak maknanya kenapa kamu berani menyimpulkan Bahwa Arsy dengan defenisi di atas?


    Next saya hanya menujukan beberapa contoh makna besar yang berbeda-beda. kata yang digunakan sama namun punya makna berbeda arti berbeda.


    di sini malah lucunya kamu malah mensifati Allah dengan sifat Ketinggian makhluk.


    Kata-kata Derajat itu adalah Sifat Makhluk dan Derajat adalah Makhluk tanpa JISM. sama dengan kata-kata Mulia itu sifat makhluk dan sifat itu adalah sifat tanpa JISM. Cinta, sayang, itu sifat Makhluk, dan Sifat itu adalah Sifat tanpa JISM, ada, dipraktekan tapi tak berjism, tanpa bentuk.


    Ketinggian Derajat Ketinggian Pangkat itumengacu makna yang sama. juga merupakan sifat Makhluk.


    hampir tiap hari kalau kuliah Hadits disebtu Derajat hadits ini lebih kuat atau lebih tinggi dari Derajat hadits ini. bener kan?

    Kata-Kata Derajat PUN Multi Tafsir, dan ternyata Juga sifat MAKHLUK.


    ketika kalian memaksakan diri untuk Mentakwil maka hasilnya Takwil apapun yang kalian hasilkan akan mengacu pada sifat makhluk pula dengan argumen yang sama seperti kalian menolak makna tertentu karena menganggap sifat tersebut tak pantas.

    ReplyDelete
  23. hehe iya wes terserah anda Allah bertempat dimana saja. Tempat Khusus bagi Allah atau apalah. Yang penting Saya tetap menyatakan Allah ada tanpa tempat. Karena kalau Allah diartikan bertempat dan tempat itu tidak membatasi Allah, tidak ada bedanya dg ruh dan makhluk ghaib lainnya. Na'udzubillah min dzalik. Allah Maha Tahu dan Maha Melihat dan tidak bertempat. Allah Tahu bhwa ada seekor semut di tanah bukan berarti kamu menyimpulkan Allah bertempat. Karena tidak dibatasi oleh tempat, maka Dia Maha Mengetahui dan Maha melihat segalanya. Karena bertempat hanyalah sifat makhluk. Apakah ketika Allah Melihat dan Mengetahui itu kemudian kamu menyimpulkan Allah juga bertempat. Berarti dia melihat dan mengetahui dari tempat-Nya itu. Padahal Dia tidak dibatasi oleh sesuatu apapun. Kalau Allah tidak dibatasi oleh tempat, berarti Allah ada dimana-mana donk, berarti tidak hanya di Arsy. Ya aku mengerti maksud kamu, setiap makhluk itu memiliki tempat khusus yang sesuai dg karakteristik makhluk, Allah juga sama seperti makhluk juga mempunyai tempat khusus yang sesuai dg karakteristik Allah. Setiap makhluk itu mempunyai habitat/ tempat tersendiri. Sang Khalik pun memiliki tempat/habitat khusus yang tersembunyi yang hanya Dia sendiri Yang Tahu.

    ReplyDelete
  24. Sifat Allah itu telah ada bersama esensi-Nya sejak azaliyah. Sedangkan sifat manusia itu berubah-ubah dan diadakan oleh Allah SWT. Sifat Allah swt adalah sifat-sifat kesempurnaan, sdgkan sifat manusia penuh dg kekurangan. Anda seharusnya memahami sifat Allah juga berdasarkan nalar logis manusia. Kalau anda tidak memahami Allah berdasar nalar logis, anda akan meyakini Tuhan Yang Tidak Masuk Akal, sehingga anda akan menganggap Tuhan tidak ada? Anda juga dapat menganggap perkataan Tuhan adalah makhluk, karena perkataan Tuhan itu muncul dari Tuhan. Sifat manusia bukan jizm, Sifat Allah juga bukan jizm, trus anda katakan sifat Allah itu sama dg sifat makhluk karena sama-sama tidak berjizm. Sifat itu sesuatu yang melekat pada dzat dan bersama dg dzat itu. Sifat2 tersebut harus ada untuk membedakan makhluk dg pencipta-Nya.Mustahil Dia tidak bersifat. Namun kita tidak boleh mensifatinya dg sifat manusia. Tolong bedakan benda dg sifatnya. Sifat itu tidak terpisah dari Dzat-Nya namun sifat Allah itu bukanlah Tuhan. Namun, makhluk esensinya adalah makhluk bukan Tuhan. Saya juga menyatakan Tuhan itu esensi-Nya adalah Dzat Allah swt. Sifat Allah tersebut melekat pada esensi-Nya tersebut. Sifat tersebut tidak bisa dikatakan dg Tuhan juga. Sedangkan Manusia itu memiliki akal untuk memahami sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya. Bukan untuk mengetahui Dzat Allah yang itu seperti apa? bertempatkah atau bertangankah atau berkakikah atau berperasan kah atau berhatikah? Itu adalah Karena kita tidak tahu dzat Allah, maka jgan dipersepsi dg Dzat Makhluk sifat-sifat yang melekat pada makhluk. Kalau dipersepsi dg makhluk, kita bisa mengatakan Allah tidak berperasaan atau tidak berhati dan sadis? Apakah Allah punya perasaan (hati) sperti manusia ataukah Allah tidak berperasan (sadis)? Pokoknya Allah jangan dipersepsi atau dianalogikan dg makhluk dalam aspek apapun. Allah adalah Dzat Allah yang tidak butuh tempat, tidak butuh diagungkan oleh manusia, tidak butuh diimani oleh manusia, tidak butuh pengakuan manusia. Dia sudah Maha agung dan Maha sempurna, Dia sudah tinggi kedudukannya. Jadi jangan kamu analogikan Allah dg makhluk ataupun sifat-sifat Makhluk yang tidak pantas untuk-Nya. Dia memiliki keagungan di atas keagungan dan kedudukan-Nya Maha Tinggi. Keagungan dan ketinggiannya jgan dibandingkan dg keagungan dan ketinggian manusia. Derajat Allah jgan dibandingkan dg Sang Khalik. Dia tidak memiliki tandingan dalam keagungan-Nya dan keTinggian derajatnya. Allah jangan diukur dg ukuran kebaikan dan derajat manusia. Dia yang menciptakan kebaikan dan keburukan maupun derajat makhluk dalam sunnatullah-Nya. Dan kita manusia sebagai makhluk berakal harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dia yang telah menciptakan manusia lengkap dg sifat-sifatnya.

    ReplyDelete
  25. tidak usah diputer kesana kemari, yang sejak awal tidak berlogika itu kalian. kalian mungkin berlogika dengan nalar manusia namun sayangnya banyak yg kelewat...
    semisal dengan pertanyaan-pertanyaan saya seblumnya, Jika Dzat Allah berpindah yg kalian simpulkan bahwa Dzat tersebut berubah,, berarti kalian mensifati Dzat ALLAh sama dengan Dzat Makhluk?
    Kalau kamu sepakat bahwa Dzat ALLAH itu Tidak serupa dnegan makhluk bagaimana bisa kamu menyimpulkan bahwa Dzat ALLAH berubah karena berpindah, atau berubah karena bertempat?

    atau Menjadi terbatas karena bertempat? kalau Dzat ALLAh tak serupa dengan dzat yang ada pada makhluk.


    sama halnya ketika kalian ribut mempersoalkan makna Istawa karena itu sifat makhluk yang kemudian harus ditakwil dnegan kata menguasai / istawla.. padahal menguasai itu juga sifat makhluk namun sifat disini adalah sifat tanpa JISM bagi makhluk.. semisal raja-raja menguasai, saya berkuasa membuat mobil (kuasa = mampu) dts... sama saja menolak satu makna lalu memaknai dengan satu makna padahal kedua-duanya dengan dasar yang sama harus ditolak.
    Kami tidak pernah menyamakan Allah dengan makhluk, kami hanya menyatakan atau menetapkan sebatas kata yang terdapat pada ayat atau hadits tersebut dan menyerahkan maknanya kepada ALLAH karena tidak ada yang tahu MAKNAnya secara pasti selain ALLAH. kalau memaksakan diri mencari makna sudah pasti akan jatuh pada pensifatan pada makhluk. karean ALLAH mensifati Diri-Nya (memperkenalkan Diri-Nya) kepada manausia lewat firman-Nya dengan menggunakan bahasa manusia, bahasa yang dipahami manusia yaitu bahasa MAkhluk. maka otomatis kata yang digunakan pun bahasa makhluk.

    ReplyDelete
  26. Tak masalah kamu mau menyatakan Allah tanpa tempat, karena banyak juga makhluk lain ada tanpa tempat. semisal Pena yang diciptakan pertama kali tanpa tempat. termasuk semisal waktu.. kalau dimaknai sebagai makhluk maka waktu adalah makhluk tanpa tempat dan tanpa JISM. termasuklah derajat, pangkat, bahagia, cinta dan seterusnya adalah makhluk tanpa Jism dan tanpa Tempat.


    logikanya sejak awal sudah salah. maka kesimpulannya pun kacau.

    ReplyDelete