Penarikan Film Jokowi dan Runtuhnya Ideologi Pencitraan - Muslim Says

728x90 AdSpace

Trending
Monday, November 24, 2014

Penarikan Film Jokowi dan Runtuhnya Ideologi Pencitraan





FILM layar lebar yang mengisahkan perjalanan Joko Widodo dari seorang gubernur menjadi Presiden Republik Indonesia, “Jokowi Adalah Kita” ditarik dari peredaran.
Film yang sudah tayang sejak Kamis (20/11) kemarin mendadak hilang dari layar bioskop. KK Dheeraj selaku produser film mengaku langkah ini dilakukan karena situasi yang tidak kondusif akibat kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM.
Atas saran pendukung Jokowi, Barisan Relawan Jokowi Presiden (BARA JP), KK Dheeraj, mengambil keputusan untuk menunda penayangan layar lebar hingga suasana mulai kondusif. Ya sampai suasana kondusif. Entah sampai kapan.
Realitas ini sebenarnya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah bahwa masyarakat sekarang sudah cerdas dan kritis. Mereka tidak lagi mampu dibeli dengan pencitraan.
Judul Jokowi adalah Kita diambil dari tagline kampanye pasangan Jokowi dan JK saat kampanye. Tim sukses pasangan tersebut ingin menggiring opini masyarakat bahwa Jokowi didukung semua lapisan masyarakat.
Namun tagline itu ternyata tidak berlaku saat Jokowi menjadi Presiden. Klaim presiden peduli wong cilik justru runtuh seketika saat Jokowi ngotot menaikkan harga BBM.
Dalih Jokowi jika kebijakan ini dilakukan untuk menyejahterakan rakyat kecil justru jauh panggang dari api. Karena pihak pertama yang merasakan dampak kebijakan ini adalah rakyat kecil. Mereka lah yang pertama kali teriak ketika Jokowi melambungkan harga premium.
Sang Produser tampaknya tak sadar, Jokowi bukan lagi berada di masa kampanye dimana sebagian orang bisa dibeli dengan khayalan. Padahal rakyat itu nyata. Mereka adalah manusia yang bisa berpikir dan meraba kezaliman. Mereka tetap punya hati yang tidak bisa dikelabui dengan ilusi-ilusi bombastis tentang kesejahteraan.

Kini menurut survei LSI, pamor Jokowi di mata masyarakat telah menurun drastis. Belum 100 hari kepemimpinannya kepuasaan terhadap pemerintahan Jokowi sudah berada di bawah 50 persen.
Sementara publik yang tidak puas dengan kepemimpinan Jokowi pun cukup besar yaitu sebesar 43.82 persen dan sebesar 11.24 persen publik menyatakan tidak tahu/tidak jawab.
Bahkan kalangan ‘wong cilik’ yang merupakan konstituen utama untuk Jokowi-JK sebanyak 48,52 persen mengaku tidak puas dengan kinerja Jokowi pasca kenaikan harga BBM.
Kenyataan ini, kata LSI, mengindikasikan bahwa Jokowi mulai ditinggalkan pendukungnya sendiri pasca kenaikan harga BBM.
Maka hentikan mendesak masyarakat dengan fantasi-fantasi imajiner. Ketimbang menonton ke bioskop, rakyat kecil lebih menghemat uang untuk membeli kebutuhan pokok, yang harganya melejit setelah Jokowi menaikkan harga BBM.
Dengan melihat realitas ini, kita patut bertanya kepada sang produser, “Jokowi adalah Kita? Kita yang mana?” [rn/Islampos]
Ilham Al Azhary

Lulusan Sarjana Komunikasi Islam kampus Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir Jakarta, aktif menulis dan diskusi masalah keislaman dan perbandingan agama.

Website: Muslimsays.com

Penarikan Film Jokowi dan Runtuhnya Ideologi Pencitraan Reviewed by Ilham Al Azhary on 6:38 PM Rating: 5 FILM layar lebar yang mengisahkan perjalanan Joko Widodo dari seorang gubernur menjadi Presiden Republik Indonesia, “Jokowi Adalah ...

3 comments:

  1. Perbedaan pendapat adalah sunatullaah, BBM naik atau tidak pasti ada plus dan minusnya. Kita ikuti saja aturan ketatanegaraan Indonesia. Semua berperan sesuai dengan jalur dan aturan yang ada. Kita jadikan perbedaan pendapat sebagai rahmat

    ReplyDelete
  2. Perbedaan itu sunnatullah adalah benar, tapi kalo perbedaan adalah rahmat itu sesat.. tidak ada sejarah dan buktinya kalau naiknya BBM itu memakmurkan rakyat. naiknya BBM untuk kemakmuran rakyat itu cuma omong kosong belaka.

    ReplyDelete
  3. Sekali lagi, bahwa naik atau tidaknya BBM pasti ada plus dan minusnya itu adalah fakta yang mesti kita terima secara jujur. Adapun persatuan seluruh umat Islam adalah amanat Al Quran yang harus kita usahakan.

    ReplyDelete