Beriman Kepada Takdir Allah - Muslim Says

728x90 AdSpace

Trending
Tuesday, April 28, 2015

Beriman Kepada Takdir Allah

Iman kepada takdir memiliki kedudukan yang sangat penting dalam agama Islam. Hal ini ditunjukan dengan banyaknya dalil dalam Al Qur’an maupun Sunnah yang membahas tentang hal ini. Selain itu, di dalam Al Quran juga dijelaskan buah yang akan dipetik dari keimanan kepada takdir, serta kecelakan yang akan dialami oleh orang yang salah dalam memahami takdir. Sehingga penting bagi setiap muslim untuk memahami masalah ini dengan benar. Seseorang tidak akan bisa memahami takdir dengan benar kecuali melalui penjelasan dari Al Qur’an maupun As Sunnah, sebagaimana para pendahulu kita dari kalangan salaf memahaminya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, dan malaikat Nya, dan kitab kitab Nya, dan Rosul rosul Nya, dan hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”.
Ibnu Ad Dailami berkata, aku mendatangi Ubai bin Ka’ab dan aku berkata, “dalam jiwaku ada sesuatu tentang takdir (yang membuatku ragu), maka bicarakanlah sesuatu kepadaku, semoga dengannya Allah menghilangkan sesuatu itu dari hatiku”, beliau berkata, “jikalau engkau berinfak dengan emas sebesar gunung uhud, tidaklah akan diterima sampai engkau beriman kepada takdir, dan engkau meyakini bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu, kalau engkau mati tidak dalam keadaan seperti ini, sungguh engkau termasuk penghuni neraka.” Ibnu Ad Dailami mengatakan, “akupun mendatangi Ibnu Mas’ud, Hudzaifah bin Yaman, Zaid bin Tsabit, seluruhnya menyatakan seperti itu dari nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Menghadapi musibah dengan iman kepada takdir

Setiap orang selalu ingin merasakan kebahagiaan di dalam kehidupannya. Segala cara ditempuh untuk mendapatkannya. Namun kebanyakan orang salah memaknai kebahagian dengan hanya bersandar kepada kenikmatan duniawi yang bersifat hissi. Padahal terkadang kenikmatan itu yang justru menjadi petaka bagi pemiliknya. Belum lagi ketika datang musibah, banyak orang yang salah menyikapinya, menjadikan musibah yang kecil menjadi terlihat besar, hingga banyak orang yang stres, depresi, hingga bunuh diri.
Padahal sudah menjadi sunnatullah kehidupan kenikmatan dan musibah datang silih berganti. Terkadang seseorang diberi kesehatan, namun di waktu lain ditimpa dengan penyakit. Adakalanya seseorang diberi kekayaan, namun di saat lain jatuh dalam kemiskinan. Di satu waktu seseorang dikaruniai seorang buah hati, namun di waktu lain ditinggal oleh kematan orang tersayang. Begitulah kehidupan, tinggal bagaimana seseorang menyikapinya.
Dalam hal ini, iman kepada takdir menjadi obat yang mujarrab sebagai penghibur ketika datang musibah. Ketika datang kenikmatan, seorang yang beriman kepada takdir akan bersyukur karena meyakini itu semua karunia dari Allah ta’ala. Ketika datang musibah pun, seorang yang beriman kepada takdir akan bersabar atau bahkan bersyukur, karena itu pun berasal dari Allah sebagai bentuk ujian yang bisa menjadi penghapus dosa dosanya.

Sepenggal kisah tentang takdir

Dalam sebuah buku berjudul “Tinggalkan Kegelisahan, Mulailah Kehidupan” yang ditulis oleh penulis terkenal yang bernama R.N.S Budhli, ada sebuah tulisan menarik yang berjudul (Aku Telah Hidup Di Syurga Allah). Dalam tulisan itu penulis ingin menunjukan tentang pentingnya iman kepada takdir dalam menghadapi manis pahitnya kehidupan. Selanjutnya biar Budhli sendiri yang menceritakan kisahnya.
Budhli berkata: “pada tahun 1918 M saya tinggal di pedalaman Afrika tengah, hidup bersama suku pedalaman di tengah gurun selama tujuh tahun lamanya. Saya pun menguasai dengan baik bahasa mereka, menggunakan pakaian mereka, memakan makanan mereka, tidur di perkemahan dengan mereka dan hidup seperti kehidupan mereka, sungguh hari-hari ketika saya bersama mereka merupakan sepenggal hidup saya yang membahagiakan, saya merasakan kedamaian, keselamatan, dan keridhoan dalam hidup.
Saya sudah belajar dari mereka bagaimana mengalahkan kekhawatiran, mereka sangat percaya dengan takdir, kepercayaan inilah yang telah menolong mereka untuk hidup dengan aman, dan menjalani hidup dengan mudah.
Mereka percaya bahwa apa yang ditakdirkan bagi mereka pasti terjadi, dan tidaklah seseorang di antara mereka ditimpa sesuatu kecuali sudah ditetapkan oleh Allah atasnya. Akan tetapi, meskipun begitu, bukan berarti mereka bertawakal kemudian berpangku tangan, berdiam diri tanpa berusaha dan bekerja! Sekali kali tidak!”
Kemudian dia melanjutakan kisahnya, “saya berikan contoh yang saya saksikan sendiri, suatu ketika terjadi badai gurun yang sangat dahsyat, dengan angin besar yang menerbangkan debu gurun padang pasir. Angin badai sangat panas, seakan akan rambut saya tercabut dari kulit kepala, hamper-hampir saya menjadi gila karenanya. Akan tetapi, tidak sedikitpun saya melihat salah seorang dari mereka mengeluh, bahkan mereka terlihat tegar, sambil mengatakan kalimat yang sering mereka ucapkan; “takdir sudah ditulis!”.
Setelah badai berlalu, mereka bergegas bekerja kembali dengan semangat yang lebih besar, mereka pun menyembelih domba kecil sebelum mati (karena badai), dan membawa hewan ternak yang lain ke sumber air untuk diberi minum. Mereka melakukan hal ini dengan tenang, tanpa banyak bicara, tidak juga mengeluh salah seorang dari mereka.
Ketua suku berkata, “kita tidak kehilangan banyak hal, sungguh kita diciptakan untuk kehilangan segala sesuatu, akan tetapi segala puji bagi Allah, kita masih punya 40% dari hewan ternak kita, dan kita bisa bekerja kembali dari awal”
Kemudian Budhli berkata: “ada juga kisah yang lainnya, suatu hari saya bersama sebagian dari mereka melintasi padang pasir dengan mobil, tiba-tiba salah satu ban mobil meletus, sementara sopir mobil lupa tidak menyediakan ban pengganti. Hal ini tentu saja membuat saya marah, serta merasa cemas dan gelisah, saya pun bertanya kepada salah seorang kawan saya dari suku pedalaman, “sekarang apa yang akan kita lakukan?”, dia pun mengingatkan saya, bahwa marah tidak akan menyelesaikan urusan, akan tetapi justru akan menimbulkan stres.
Maka kamipun melanjutkan perjalanan menggunakan mobil dengan tiga ban. Akan tetapi belum lama mobil kami berjalan, tiba-tiba kami kehabisan bensin. Hal ini pun tidak membuat salah seorang dari mereka mengeluh, bahkan mereka tetap tenang, dan kami pun berjalan kaki menempuh perjalanan panjang di tengah gurun”.
Setelah Budhi menceritakan kisah kehidupannya dengan suku pedalaman Afrika tengah, dia memberikan catatan: “sungguh tujuh tahun hidup bersama mereka telah menyadarkan saya, bahwa orang orang yang tertimpa penyakit penyakit jiwa, stres, depresi, seperti yang dialami orang orang amerika, eropa, dan negri-negri kafirnya, tidak lain merupakan korban dari ketiadaan iman kepada ketetapan Allah.
Dan selama tujuh tahun saya hidup di padang pasir, tidak ada sedikitpun rasa khawatir dalam diri saya, bahkan disanalah saya mendapatkan ketenangan, keridoan, dan kecukupan”.
Dan terakhir, penulis mengatakan: “setelah 17 tahun saya meninggalkan kehidupan mereka, saya tetap mengikuti kehidupan suku pedalaman dalam menghadapi ketetapan Allah ta’ala, sehingga dengannya, saya menghadapi segala kejadian yang menimpa saya dengan tenang dan damai.
Saya telah berhasil mengatasi kegelisahan, dan menenangkan jiwa saya dengan tabiat suku pedalaman, melebihi ketenangan yang dihasilkan oleh ratusan bahkan ribuan obat penenang yang dibuat oleh kedokteran”.

Tingkatan iman kepada takdir1

Takdir memiliki empat tingkatan, dan tidak sah keimanan seseorang kecuali dengan mengimani seluruh tingkatan ini, keempat tingkatan ini adalah;
Yang pertama adalah Al Ilmu. Yaitu dengan meyakini bahwa Allah ta’ala maha mengetahui segala sesuatu, baik yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, ataupun yang akan terjadi. Bahkan Allah mengetahui sesuatu yang tidak terjadi, dan bagaimana jika itu terjadi. Sebagaimana juga Dia maha tahu tentang ciptaannya sebelum Dia menciptakan mereka, dan Allah mengetahui rizki, ajal, serta amalan mereka.
Dalil akan hal ini sangatlah banyak, diantaranya firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh” (Qs. Saba: 3).
Yang kedua adalah Al kitabah (penulisan). Yaitu dengan meyakini bahwa segala sesuatu sudah ditulis oleh Allah ta’ala di Lauhul Mahfudz. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Yasin: 12) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Allah telah menulis semua takdir makhluknya 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi2
Yang ketiga adalah Al Masyi’ah (kehendak), bahwa semua yang terjadi di dunia ini merupakan kehendak Allah ta’ala. Apa yang Dia kehendaki pasti akan terjadi, dan sebaliknya, apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi. Tidak ada sesuatu yang terjadi, melainkan kehendak Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya urusan Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “jadilah!” maka terjadilah” (Qs. As Shaffat: 82.
Dan yang terakhir atau yang keempat adalah Al Kholqu (penciptaan). Bahwa segala sesatu selain Allah adalah makhluk, ciptaan Allah ta’ala, Allah lah yang menciptakan mereka dari ketiadaan. Termasuk perbuatan manusia, merupakan ciptaan Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Allah menciptakan kalian serta apa yang kalian kerjakan” (Qs. As Shaffat: 96).
Sebagai contoh, ketika si fulan setiap harinya rajin sholat di masjid, Allah dengan ilmunya telah mengetahui bahwa si fulan akan melakukan perbuatan tersebut. Kemudian Allah menuliskan perbuatan si fulan tersebut di lauhul mahfudz, dan Allah pun menghendaki perbuatan tersebut, sehingga kemudian menciptakannya, dengan terjadinya perbuatan tersebut. Begitu juga dengan seorang pencuri, Allah telah mengetahui bahwa si fulan akan mencuri, kemudian menuliskannya di lauhul mahfudz, kemudian Allah menghendaki terjadinya pencurian oleh si fulan, maka Allah menciptakan perbuatan si fulan tersebut, dengan terjadinya pencurian.

Penetapan takdir3

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa Allah telah menuliskan takdir di lauhul mahfudz lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Namun Al Qur’an dan As Sunnah menunjukan bahwa ada penetapan takdir dalam waktu yang lain. Yaitu ketika seseorang masih berada di rahim ibunya, yang ini terjadi sekali seumur hidup. Kemudian takdir tahunan yang ditetapkan setaun sekali pada malam lailatul Qodar, dan takdir harian yang tetapkan setiap hari.
Mengenai penulisan takdir ketika di rahim ditunjukan oleh hadits ibnu Mas’ud, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya.”4
Adapun takdir yang bersifat tahunan, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi5 dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (Qs. Ad Dukhon: 3-4). Ibnu katsir rahimahullah berkata, “yaitu pada malam lailatul Qodar diputuskan dari lauhul mahfudz untuk dituliskan peristiwa yang akan terjadi selama satu tahun berkaitan dengan ajal, rizki dan lainnya dalam tahun itu”6
Mengenai takdir yang bersifat harian, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “setiap waktu Dia berada dalam kesibukan” (Qs. Ar Rahman: 29). Para ulama menafsirkan ayat ini, “kesibukan Nya adalah memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan merendahkan, memberi dan menahan, mengayakan dan memisikinkan, menghidupkan dan mematikan dan sebagainya”7

Kewajiban kita terhadap takdir Allah

Wajib bagi manusia untuk mengimani takdir Allah ta’ala, dan menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan Nya. Maka seorang Muslim, jika dia berbuat baik, dia memuji Allah ta’ala. Jika dia berbuat dosa, dia akan beristighfar, bertaubat kepada Allah ta’ala, tidak kemudian terus menerus berbuat dosa dengan alasan takdir. Karena Nabi Adam Alaihis Salam, ketika berdosa dia bertaubat, maka Allah mengampuni dosanya dan memberinya petunjuk. Akan tetapi lihatlah iblis! Dia berdosa, tapi tidak mau bertaubat, justru berdalil dengan takdir, maka iblis pun dilaknat oleh Allah ta’ala. Maka barang siapa yang bertaubat, dia mengikuti kakeknya, Adam Alaihis Salam, dan siapa yang terus terusan berdosa dengan alasan takdir, dia mengikuti musuhnya, Iblis La’natullah ‘Alaih.
Kemudian, seorang Muslim juga harus berusaha untuk kebaikan duniawinya, dengan bekerja, berusaha, mencari nafkah untuk keluarga dan sebagainya. Tidak berpangku tangan dengan alasan takdir. Jika ternyata hasil usahanya sukses, maka dia bersyukur kepada Allah ta’ala. Tapi jika ternyata gagal, maka dia meyakini bahwa itu merupakan kehendak Allah ta’ala, dan apa yang menimpanya sudah ditakdirkan oleh Allah untuknya, tentunya dengan berbaik sangka kepada Allah, bahwa itu adalah yang terbaik baginya. Karena Allah lebih mengetahui yang terbaik buat hamba-hambanya. Tidak ada kehendak Allah kecuali mengandung hikmah yang Allah ketahui dengan ilmu Nya.

Penyimpangan dalam masalah takdir

Ada dua kelompok yang salah memahami takdir8:
Yang pertama mengatakan bahwa Allah tidak menakdirkan perbuatan hambanya. Seorang manusia secara mutlak bebas melakukan perbuatannya tanpa campur tangan Allah, kelompok ini dinamakan dengan Qodariyah.
Adapun yang kedua, adalah kelompok yang mengatakan Allah menakdirkan segala sesuatu, akan tetapi manusia tidak punya pilihan atas perbuatannya, manusia dipaksa untuk melakukan perbuatkannya, seperti robot yang diatur oleh remot. Kelompok ini dinamakan dengan Jabariyah.
Adapun keyakinan yang benar adalah, bahwa Allah menghendaki segala sesuatu, termasuk perbuatan manusia9, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (Qs. Al Qoshos: 68). Akan tetapi meskipun begitu, hal ini tidak menafikan bahwa manusia juga diberi otak untuk berpikir, diberikan kebebasan memilih, tidak dipaksa atas perbuatannya, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya” (Qs. An Naba: 39), juga firman Allah, “maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka…” (Qs. Al Kahfi: 29).
Bahkan Allah telah menunjukan jalan kepada manusia, mengutus para Rosul, menurunkan kitab, menyuruh untuk berbuat kebaikan, dan melarang dari perbuatan dosa dan maksiat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (Qs. Al Balad: 10), maksudnya jalan kebenaran dan jalan kesesatan.
Kitapun merasakan dengan yakin, bahwa kita tidak dipaksa dalam beramal, kita bebas melakukan perbuatan yang kita inginkan, tidak ada yang memaksa kita, meskipun kehendak kita juga terjadi atas kehendak Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki untuk menempuh jalan yang lurus, Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” (Qs. At Takwir: 28-29).

Bolehkan membicarakan takdir?10

Sebagian orang melarang membicarakan takdir, dengan alasan hal itu akan menimbulkan keraguan dan kebingungan, terlebih adanya nash yang melarang seseorang untuk terlalu dalam membicarakan masalah takdir. Akan tetapi disisi lain, kita temukan dalil dalil Al Qur’an maupun As Sunnah yang menjelaskan tentang takdir, serta percakapan antara Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan para sahabatnya dalam rincian masalah takdir. Begitu juga kalau kita membaca perjalanan hidup pendahulu kita dari kalangan salaf, akan kita dapati banyaknya pembicaraan mereka dalam rincian masalah takdir.
Maka hal yang benar adalah, membicarakan takdir diperbolehkan, dengan syarat harus dilakukan dengan metode ilmiah yang benar, yang disandarkan kepada Al Qur’an dan Sunnah. Tidak hanya bersandarkan kepada akal semata, tidak juga hanya untuk sebagai ajang perdebatan. Apalagi jika pembicaraan masalah ini, menunjukan kita kepada kebenaran, maka tidaklah dilarang, bahkan bisa jadi diwajibkan.

Apa perbedaan antara qadha dan qadar?11

Dua kata ini banyak kita jumpai dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maupun dalam kitab kitab yang berbicara tentang takdir. Lalu apa perbedaan antara keduanya? Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa qadha dan qadar maknanya sama, tidak ada perbedaan sama sekali.
Sebagian yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan qodar adalah penetapan adapun qodho adalah penciptaan apa yang sudah ditetapkan. Sebagaimana diketahui bahwa takdir ada empat tingkatan, ketika Allah berkehendak kemudian menuliskannya ini yang dinamakan qadar. Kemudian ketika terjadi dan diciptakan ini yang dinamakan qadha. Maka dua hal ini sesuatu yang berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Ketika Allah menghendaki dan menetapkan sesuatu (qadar) Allah pasti akan menciptakannya (qadar). Ulama yang lain mengatakan sebaliknya; qadar adalah penetapan dan qadar adalah penciptaan.
Tapi yang paling benar adalah, bahwa kata qadha dan qadar ketika dipisah, disebutkan sendiri sendiri, maka masing masing kata mewakili kata yang lain. Ketika disebut kata qadha maka masuk di dalamnya qadar. Dan ketika disebut kata qadar masuk di dalamnya makna qadha. Namun ketika kedua duanya disebutkan secara bersamaan, maka qadha dan qadar memiliki makna masing masing sebagaimana disebutkan diatas.

Kenapa Allah menciptakan keburukan dan mentakdirkannya?

Sebagian orang sering bertanya tanya akan hal ini. Jika Allah Maha kuasa, dan Allah memerintahkan kepada kebaikan, kenapa Allah menghendaki keburukan dan mentakdirkannya? Jawaban hal ini adalah bahwa Allah tidak menghendaki dan menciptakan sesuatu yang bersifat buruk secara mutlak. Tapi dalam setiap keburukan yang Allah ciptakan, pasti terkandung hikmah yang baik. Dalam artian dari satu sudut pandang memang terlihat sesuatu yang buruk, namun jika dilihat dari sudut pandang lain akan terlihat bahwa disana ada hikmah yang baik yang Allah kehendaki.12
Sebagai contoh, kenapa Allah menciptakan iblis? bukankah iblis dan bala tentaranya menyesatkan manusia dari jalan Allah? jawabannya karena Allah menghendaki dengan adanya iblis manusia akan teruji, mana yang benar benar beriman dan mana yang hanya main main. Allah ingin mengangkat derajat orang beriman dengan ujian berupa iblis.
Contoh yang lain, kenapa Allah menciptakan nyamuk? Padahal kalau dilihat sekilas mata, nyamuk hanyalah makhluk pengganggu yang tidak ada manfaatnnya sama sekali. Kalau kita melihat lebih detail, bukankah dengan nyamuk orang akhirnya berusaha membuat obat nyamuk, yang dengannya lahir pabrik obat nyamuk, yang disana ribuan orang bekerja untuk mencari nafkah?! Berapa orang yang akan menganggur jika tidak ada pabrik obat nyamuk?!
Maka segala sesuatu yang ditakdirkan Allah pasti mengandung hikmah, baik yang diketahui maupun tidak diketahui oleh manusia.

Apakah takdir bisa dirubah?

Ada beberapa nash yang menunjukan bahwa umur, ajal, dan rizki seseorang bisa dirubah dengan amalan tertentu. Sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturahmi13 dan sabda beliau, “tidak ada yang merubah takdir kecuali doa dan tidak ada yang menambah umur kecuali kebaikan14. Padahal sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa takdir sudah dicatat jauh sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Apakah ini berarti takdir bisa dirubah?
Jawabannya ada dalam firman Allah ta’ala (yang artinya), “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (Qs. Ar Ra’du : 39)
Secara umum penetapan takdir terbagi menjadi dua15, yang tertulis di lauhul mahfudz dan yang tertulis di lembarang lembaran yang dibawa oleh para malaikat. Ayat tadi menjelaskan bahwa Allah menghapus dan menetapkan apa yang dia kehendaki, itu maksudnya dalam lembaran lembaran yang berada di tangan malaikat. Dan Allah memiliki Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz) sebagai patokan. Bahwa apa yang berubah dilembaran para malaikat akan sesuai dengan apa yang ditulis di lauhul mahfudz.
Sebagai contoh, seseorang telah ditetapkan bahwa masa hidupnya adalah delapan puluh taun. Kemudian ditulis di lauhul mahfudz. Namun ketika di alam kandungan, Allah memerintahkan malaikat untuk menulis bahwa umurnya hanya akan mencapai tujuh puluh tahun. Jika dia bersilaturahmi (dan Allah maha mengetahui bahwa dia akan bersilaturahmi), Allah akan memerintahkan malaikat untuk menambah umurnya menjadi delapan puluh tahun, sebagaimana tertulis di lauhul mahfudz. Dan malaikat tidaklah mengetahui, apakah umur orang tersebut akan bertambah atau tidak. Karena tidak ada yang mengetahui apa yang tertulis di lauhul mahfudz kecuali Allah ta’ala.


Catatan kaki
1 Lihat Dr Ibrohim Al Hamd, Al Iman bil Qodho Wal Qodar, hal. 65-74, Dr Sulaiman Al Asyqor, Al Qodho Wal Qodar hal. 26-33
2 HR. Muslim No. 2653
3 Lihat Dr Sulaiman Al Asyqor, Al Qodho Wal Qodar hal. 40-41, Dr. Muhammad bin Ibrohim Al Hamd, Al Iman bil Qodho Wal Qodar ha. 80-81
4 HR. Bukhori Muslim no. 2643
5 Yang dimaksud malam yang diberkahi adalah malam lailatul Qodar, malam diturunkannya Al Qur’an (lihat tafsir Ibnu Katsir)
6 Lihat tafsir ayat ini dalam tafsir Ibnu Katsir.
7 Lihat tafsir Ibnu Katsir
8 Al Iman bil Qodho Wal Qodar, hal 262 dan 269
9 Al Qodho Wal Qodar, hal. 34
10 Lihat Rosaail fil Akidah, Muhammad bin Ibrohim Al Hamd, hal. 377
11 Lihat Mushtolahat fie kutubul Aqooid, Muhammad Bin Ibrohim Al Hamd, hal. 174-175
12 Al Qadha Wal Qadar, Dr Sulaiman Al Asyqor hal. 70-71
13 HR. Bukhori no. 5640 dan Muslim, no. 2557
14 HR. Ibnu Hibban dan Hakim. Hakim berkata, “isnadnya sohih”
15 Al Qadha Wal Qadar, Dr Sulaiman Al Asyqor hal. 67

Penulis: Abdullah Hazim
Artikel Muslim.Or.Id
Ilham Al Azhary

Lulusan Sarjana Komunikasi Islam kampus Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir Jakarta, aktif menulis dan diskusi masalah keislaman dan perbandingan agama.

Website: Muslimsays.com

Beriman Kepada Takdir Allah Reviewed by Ilham Al Azhary on 3:25 PM Rating: 5 Iman kepada takdir memiliki kedudukan yang sangat penting dalam agama Islam. Hal ini ditunjukan dengan banyaknya dalil dalam Al Qur’an ...

No comments: