Motif Bisnis di Balik Gereja Liar - Muslim Says

728x90 AdSpace

Trending
Sunday, December 6, 2015

Motif Bisnis di Balik Gereja Liar

Meraup keuntungan materi (uang) adalah salah satu motif di balik menjamurnya gereja, termasuk gereja liar di Indonesia.
 
“Apa bedanya gereja dengan Indomaret atau Alfamart?”. Pertanyaan satir ini merupakan kicauan pertama akun Twitter Judas Iskariot, @7udas_Isk, saat memulai kultwitnya yang diberi judul “Mengungkap Busuknya Bisnis Gereja.” “Pernah kebayang nggak tweeps kalau gereja dijual franchise-nya?,” tanyanya lagi.
 
Bagi pemilik akun ini, lontaran-lontaran nakalnya ini adalah untuk menggambarkan betapa bisnis gereja dewasa ini merupakan bisnis yang sangat menggiurkan. Tanpa modal yang besar tetapi bisa meraup keuntungan berlipat. Karena itu sangat “tidak mengherankan” bila dalam satu komplek pertokoan (Ruko) biasa didapati ada dua atau lebih gereja yang berdiri. 
 
“Selama ini banyak kalangan beranggapan bahwa missi Kristenisasi gereja semata bermotifkan agama, padahal tujuan utamanya adalah bisnis. Bahkan bisnis gereja sangat menggiurkan dan lebih menguntungkan dari bisnis perumahan,” lanjutnya. 
 
Memang benar, bagi umat Islam, tumbuh dan maraknya gereja di tengah masyarakat diartikan sebagai sebuah ancaman dan mengusik ketertiban sebab munculnya gereja berarti membawa misi pemurtadan. Apalagi jika gereja tersebut muncul di sebuah daerah yang sebenarnya tidak banyak penganut Kristennya. 
 
Namun, bagi kalangan gereja sendiri, ternyata banyak munculnya gereja juga menjadi persoalan tersendiri. "Gereja pecah-pecah itu bukan menguntungkan saya, itu problem bagi saya," kata mantan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Richard Daulay dalam sebuah acara di Kantor Kemenag, Jakarta, beberapa bulan lalu. Richard mengakui, terpecah-pecahnya gereja itu menunjukkan kelemahan bukan sebagai kekuatan. 
 
"Perpecahan itu bukan kekuatan. Cuma egoisme, arogansi, politik bisnis gereja ada di situ. Aslinya gereja itu bersatu, fellowship, tidak ada denominasi," kata Richard.
 
Richard menjelaskan, denominasi gereja lahir sesudah reformasi di Eropa yang sebenarnya terkait langsung dengan kesukuan di Eropa. Sehingga memunculkan Kristen Anglikan, Lutheran, Calvinis dan lainnya. "Denominasi lahir di Eropa, dibawa kemana-mana di seluruh dunia," ungkapnya. 
 
Mengenai motif bisnis pendirian gereja baru, Richard yang sebelum menjadi pimpinan PGI adalah pendeta kampung di Sumatera Utara ini, mengakui secara blak-blakan. "Abad 21, gereja sudah shifting (mengalami pergeseran, red), sudah bisnis. Gereja itu bisnis," ungkapnya. 
 
Pria berusia 63 tahun ini menyebutkan beberapa contoh gereja yang juga berbisnis dan menyebabkan pendetanya di penjara akibat kasus korupsi. Di Amerika, Korea Selatan dan Singapura, pendeta di gereja-gereja besar itu ditangkap karena kasus korupsi. 
 
“Perpecahan gereja itu bukan karena perpecahan teologi, bukan karena pendapat yang berbeda, tapi karena pendapatan yang berbeda," ungkap doktor asal UGM ini. 
 
Background inilah agaknya yang akan memahamkan umat Islam, mengapa di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, sebuah wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tetapi gereja liar tumbuh subur bagai jamur di musim hujan. Menurut Kepala Humas Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Jeirry Sumampow, gereja liar di wilayah ini sebanyak 24 unit. Sementara versi Forum Umat Islam Aceh Singkil di wilayah ini terdapat 27 gereja liar. 
 
Sekadar informasi, berdasarkan Sensus Penduduk 2010 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kabupaten Aceh Singkil sebanyak 102.509 jiwa dengan 88,3 % (90.508 jiwa) adalah Muslim, 10,45% (10.715 jiwa) Kristen, dan 0,7% (746 jiwa) Katolik. 
 
Sementara di Kecamatan Gunung Meriah, lokasi terjadinya pembakaran gereja liar oleh warga masyarakat pada Selasa (13/10) lalu, jumlah penduduknya sebanyak 30.630 jiwa dengan komposisi umat Islam 93% (28.739 jiwa), Kristen 5,8% (1.772 jiwa) dan Katolik 0,4 % (118 jiwa). 
 
Modus Bisnis Gereja
 
Seorang blogger Kristen, Mang Ucup, di dalam blognya ia menulis secara satir, “Bisnis properti sekarang sudah tidak sehebat seperti dahulu lagi, oleh sebab itu banyak dari mereka yang berganti haluan mengalih ke bisnis politik, nah apa salahnya kalau bisnis atau usaha Anda dialihkan jurusannya ke bisnis rohani.”
 
Bisnis rohani yang ia maksud adalah mendirikan gereja. Bahkan dengan terang-terangan ia menawarkannya sebagai jasa waralaba. “Untuk hal ini Mang Ucup ingin menawarkan jasa waralaba (franchise) untuk mendirikan Gereja ‘Angin Surga’,” begitulah tawarannya.
 
Di blog “Sabdaspace” bahkan ada seorang blogger yang menulis, “Salah satu resolusi tahun baru yang saya buat di awal bulan Januari 2010 adalah membuka bisnis. Setelah saya pikirkan selama beberapa bulan terakhir, saya memutuskan untuk membuka bisnis gereja di tahun ini”.
 
Bukan tanpa perhitungan dan perencanaan matang, mereka bahkan sudah melakukan analisis pasar dengan menggunakan teori Bauran Pemasaran (Marketing Mix). Analisa product (produk), promotion (promosi), price (harga) dan place (tempat)-nya sudah mereka siapkan. Dengan begitu mereka telah membuka peluang baru untuk menggabungkan antara bisnis dan sisi rohani. “Secara bisnis kita untung banyak, dan bisa berlindung dibawah "payung" secara rohani. Kesimpulannya, sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui”, ujarnya.
 
Franchise gereja ‘Angin Surga’ yang ditawarkan Mang Ucup diperkirakan akan menuai keuntungan yang besar. Ia menjanjikan modal akan kembali dalam waktu enam bulan. Bahkan Lambok A. Sitorus mencatat total keuntungan yang bisa diraup dari sekali ibadah adalah Rp.18,5 juta. 
 
Hitung-hitungannya begini. Modal awal yang diperlukan Rp.16,5 juta. Rincian pengeluarannya untuk sewa gedung 10 juta (lengkap dengan fasilitas musik), biaya pembicara Rp.500 ribu, tim musik, WL, singer dan tamborin satu juta. Jika memakai dua artis maka pengeluarannya dua juta. Keamanan (polisi) satu juta, kartu undangan dan iklan satu juta, makan makan dua juta. Jadi total pengeluarannya Rp.16,5 juta.
 
Sementara estimasi pemasukannya dengan target jemaat yang hadir 1000 orang, akan didapatkan kolekte Rp.5 juta (@Rp.5000),  korban tantangan Rp.20 juta, pengusaha dan sponsor untuk investasi Rp.10 juta. Total pemasukan akan didapatkan Rp.35 juta. Jadi, total keuntungan bila buka bisnis seperti ini untuk sekali ibadah adalah Rp.18,5 juta. 
 
Jika sebulan minimal dilakukan empat kali maka akan terkumpul keuntungan sebesar Rp.74 juta. Belum lagi jika benar-benar mendirikan bangunan gereja, dana dari kalangan pengusaha Kristen dan luar negeri akan mengalir deras. “Kalau Protestan akan didanai para pengusahanya dan dari lembaga khusus milik mereka, sementara Katolik akan dapat dana dari Vatikan”, jelas mantan evangelis (penginjil) Bernadus Doni. 
 
Cerita di atas bukan sekadar tulisan satir para blogger di dunia maya. Dalam praktiknya hal itu memang benar-benar terjadi. Motif bisnis menjadi sangat dominan dalam pendirian sebuah gereja baru. Hal ini diakui oleh Sekretaris Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Pdt. Gomar Gultom. Menurutnya banyak para pendeta mengelola gereja sebagai bisnis atau perusahaan pribadi. Apalagi di Kristen Protestan dikenal adanya istilah denominasi. Seorang diri berhak mendirikan gereja. 
 
“Jika dia tidak cocok dengan gereja mereka bisa memecahkan diri dan mendirikan gereja baru. Sebab kalau dilarang akan menyalahi ajaran Kristiani”, ungkapaku pendeta HKBP itu kepada seorang narasumber dari sebuah ormas Islam dalam kesempatan dialog offair di sebuah stasiun televisi swasta nasional beberapa tahun lalu.
 
Tidak mengherankan jika pertumbuhan gereja di Indonesia bak jamur di musim hujan. Data Kementerian Agama menyebutkan bahwa pertumbuhan gereja pasca adanya Peraturan Bersama Menteri Agama dan Dalam Negeri (PBM) sebesar 138 persen. Sementara masjid pertumbuhannya hanya 68 persen.
 
Rupanya, bisnis franchise bukanlah monopoli KFC atau McDonald semata. Tetapi sudah berkembang menjadi franchise gereja. Namanya bisnis, ada yang untung dan rugi. Karena itulah sering didengar adanya gereja yang bangkrut dan dijual. Di negara-negara Eropa dan Amerika, fenomena gereja dijual sangatlah banyak. 
 
Selain motif Kristenisasi, tidak berlebihan bila disimpulkan salah satu motif maraknya pendirian gereja termasuk gereja-gereja ilegal adalah untuk meraup keuntungan ekonomi. Kesimpulan inilah yang membuat akun @7udas_Isk menjawab sendiri pertanyaan satirnya: apa bedanya gereja dengan Alfamart atau Indomaret?, dengan jawaban, “Nggak ada bedanya.” Wallahu a’lam bissawab.

Motif Bisnis di Balik Gereja Liar Reviewed by Admin on 7:35 PM Rating: 5 Meraup keuntungan materi (uang) adalah salah satu motif di balik menjamurnya gereja, termasuk gereja liar di Indonesia.   “Apa bedanya...

No comments: