Makna Ulil Amri Syar'i - Muslim Says

728x90 AdSpace

Trending
Thursday, March 15, 2018

Makna Ulil Amri Syar'i


Ulil  Amri yang selama ini sering disebut-sebut bahwa wajib untuk berbaiat (sumpah setia dalam ketaatan) dan dilarang untuk keluar dari ketaatan (berlepas dari ketaatan setelah bersumpah setia baiat untuk taat) bukanlah sekedar penguasa yang beragama Islam. Akan tetapi mereka adalah penguasa yang menegakan hukum Allah.

 Imam Asy-Syaukani berkata :

وأولي الأمر هم : الأئمة ، والسلاطين ، والقضاة ، وكل من كانت له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية

“Ulil amri adalah para imam, penguasa, hakim dan setiap orang yang memiliki kekuasaan syar’i dan bukan kekuasaan yang bersifatkan thoghut.” (Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 1/556)

Di sini Imam Asy-Syaukani memberi keterangan yang jelas tentang Ulil Amri,yakni Kekuasaan yang Syar'i serta bukan kekuasaan yang bersifatkan Thaghut.

Senada dengan hal tersebut Syaikh Bin Baz  mengeluarkan sebuah fatwa bahwa tidak semua pemimpin disebut dengan Ulil Amri, melainkan hanya merekayang memerintah dengan syariat Allah.

beliau berkata:

كما أنه ليس كل حاكم - سواء كان ملكا أو رئيس جمهورية - يسمى أمير المؤمنين, وإنما أمير المؤمنين من يحكم بينهم بشرع الله ويلزمهم به, ويمنعهم من مخالفته, هذا هو المعلوم بين علماء الإسلام والمعروف بينهم

"Sebagaimana tidaklah setiap pemimpin baik itu raja ataupun presiden dinamakan Amirul Mukminin. Yang dinamakan Amirul Mukminin HANYALAH orang yg memerintah atas mereka (rakyat) dengan SYARIAT ALLOH dan MENGHARUSKAN mereka dengan syariat itu serta MELARANG mereka menyelisihinya. hal ini sudah ma'lum (diketahui) di kalangan para ulama Islam dan yang dikenal di kalangan mereka." (Fatawa Syekh Ibnu Baz. Tahqiq Asy-Syuwai'ir jilid 1 hal. 117,)

Syaikh Abdullah Ibn Abdil Hamid al-Atsari rahimahullah menulis sebuah kitab yang berjudul “Al-Wajiz Fi Aqidati as-Salaf ash-Shalih Ahli Sunnah Wal Jama’ah”
 kitab ini telah dimuroja' ah oleh: Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Syaikh 'Abdul Muhsin bin Abdul' Aziz al-Askar, selain itu di beri muqaddimah ( Kata Sambutan) oleh Syaikh Abdullah bin 'Abdurrahman al-Jibrin, Syaikh Shalih bin 'Abdul' Aziz Alu Syaikh,  Syaikh Nashir 'Abdul Karim al-' Aql, Syaikh Muhammad bin 'Abdurrahman al-Khumais, Syaikh Su' ud bin Ibrahim Asy-Syuraim serta Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

Dalam kitabnya beliau menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Minhaj as-Sunnah (1/146),

وأما من عطل منهم شرع الله ولم يحكم به و حكم بغيره، فهؤلاء خارجون عن طاعة المسلمين فلا طاعة لهم على الناس، لأنهم ضيعوا مقاصد الإمامة التى من أجلها نصبوا واستحقوا السمعة و الطاعة و عدم الخروج، و لأن الوالي ما استحق أن يكون كذالك إلا لقيامه بأمور المسلمين، و حراسة الدين و نشره، وتنفيذ الأحكام و تحصين الثغور، وجهاد من عاند الإسلام بعد الدعوة، و يوالي المسلمين و يعادي أعداء الدين، فإذا لم يحرس الدين أو لم يقم بأمور المسلمين، فقد زال عنه حق الإمامة و وجب على الأمة - متمثلة بأهل الحال و العقد الذين يرجع إليهم تقدير الأمر في ذالك - خلعه و نصب آخر ممن يقوم بتحقيق مقاصد الإمامة. فأهل السنة عندما لا يجوزون الخروج على الأئمة بمجرد الظلم و الفسق - لأن الفجور و الظلم لا يعني بتضييعهم للدين - فيقصدون الإمام الذي يحكم بشرع الله، لأن السلف الصالح لم يعرفوا إمارة لا تحافظ على الدين فهذه عندهم ليست إمارة، و إنما الإمارة هي ما أقامت الدين ثم بعد ذالك قد تكون إمارة برة أو إمارة فاجرة

"Adapun para pemimpin yang meniadakan syari'at Allah dan tidak berhukum kepadanya serta berhukum kepada selainnya, maka mereka keluar dari hak (mendapatkan) ketaatan dari kaum muslimin.
Tidak ada ketaatan kepada mereka dari rakyat karena mereka menyia-nyiakan fungsi imamah yang karenanya mereka dijadikan pemimpin dan berhak didengar, dipatuhi serta tidak diberontak.
Karena pemimpin tidak berhak mendapatkan itu, kecuali karena ia menunaikan urusan-urusan kaum muslimin, menjaga agama dan menyebarkannya, menjalankan hukum, menjaga perbatasan, memerangi orang-orang yang menentang islam setelah mereka didakwahi. Mencintai kaum muslimin dan memusuhi musuh-musuh agama.
Apabila dia tidak menjaga agama atau tidak menunaikan urusan kaum muslimin, maka hilanglah hak imamah darinya dan wajib atas umat - yang diwakili oleh ahlul hal wal aqdi dimana mereka menjadi rujukan dalam menentukan masalah seperti ini - untuk memecatnya/menurunkannya dan menggantikannya dengan orang lain yang dapat merealisasikan fungsi imamah.
Ketika Ahlus Sunnah tidak membolehkan memberontak dan melawan para pemimpin karena sekedar kezholiman dan kefasikan - karena kezholiman dan kefasikan tidak berarti mereka Menyia-nyiakan agama- maka yang mereka (Ahlus Sunnah) maksudkan dengan pemimpin disini adalah para imam/pemimpin yang berhukum dengan syari'at Allah, karena shalafus shalih tidak mengenal imarah/kepemimpinan (pemerintahan) yang tidak menjaga/menegakkan agama. Pemerintahan dengan model seperti ini (yang tidak menjaga agama dan menunaikan urusan kaum kaum muslimin) - menurut mereka (salafus shalih) - bukanlah imarah/pemerintahan. Imarah itu hanyalah yang menegakkan agama, dan ia bisa merupakan imarah yang baik ataupun imarah yang fajir." (Lihat Al-Wajiz Fi 'Aqidah As-Salaf Ash-Shalih oleh Syaekh ' Abdullah bin 'Abdul Hamid Al-Atsari, hal 133)
Sumber: http://kallolougii.blogspot.co.id/2018/03/makna-ulil-amri-syari.html
Makna Ulil Amri Syar'i Reviewed by Admin on 7:41 PM Rating: 5 Ulil  Amri yang selama ini sering disebut-sebut bahwa wajib untuk berbaiat (sumpah setia dalam ketaatan) dan dilarang untuk keluar dari...
Next
This is the most recent post
Older Post

No comments: